Tren konsumsi informasi terus berubah.
Saat ini, konsumen media makin senang dengan semua yang berbau visual, terutama video. Mau tak mau produsen informasi pun harus mengikuti.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Tren konsumsi informasi terus berubah.
Saat ini, konsumen media makin senang dengan semua yang berbau visual, terutama video. Mau tak mau produsen informasi pun harus mengikuti.
Sebenarnya sudah sejak akhir 2013 lalu aku belajar bikin video.
Tidak serius sih. Hanya pelatihan empat hari tentang cara pembuatan video. Waktu itu bareng petani dan para pendampingnya di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ini pengalaman pertama. Ternyata asyik. Pake banget.
Selama empat hari, kami belajar cara membuat video secara partisipatif. Peserta pelatihannya aktivis LSM dan petani mitra VECO Indonesia di Flores Timur, Sikka, dan Ende. Pelatihnya teman-teman dari WatchdoC, Jakarta.
“Videonya aktivis sekali,” kata beberapa teman.
Mereka mengomentari video produksi Cahyo dan aku. Video berjudul Don’t Wait itu kami buat buat ikut lomba video kebebasan berekspresi yang diadakan Internet Sehat. Setelah kami lihat dan lihat lagi, ternyata ada benarnya. Video yang kami buat ini memang terlalu “aktivis”.
Semalam Agung Pushandaka, teman di Bali Blogger Commnity (BBC) kirim pesan pendek. Dia bilang bencana koneksi internet pas pelatihan blog di Klungkung sudah diunggah (upload) ke Youtube dan bisa dinikmati di Facebook. Lalu, pagi ini aku melihat video yang diambil Minggu lalu tersebut.
Karena tumben nonton kegiatan BBC dalam bentuk video, maka video ini membuatku antusias. Segera saja aku masukin di blog. Dan, inilah video hasil kerja keras si kapten tim futsal BBC tersebut.