
“mikir-mikir lagi kalau mau ke #bali. terlalu banyak mudharatnya.”
Begitu kicauan (tweet) salah seorang pengguna twitter di akunnya sekitar tiga hari lalu. Aku menemukannya di antara ratusan kicauan dengan hash tag #bali. Kicauan itu langsung menggelitik pikiranku soal ironi turis domestik di Bali.







