Rumah Tulisan

maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Karena Musik (Seharusnya) adalah Pemantik

Ada hal-hal personal yang terlalu lekat dalam lagu Bersemi Sekebun karya Efek Rumah Kaca (ERK). Lagu kesembilan dalam album Rimpang (2023) ini seperti narasi yang memutar ingatan, menziarahi momen-momen penting dan genting.

Adegan demi adegan terbayang sepanjang 4 menit 40 detik lagu itu.

Jalan raya sesak dengan kerumunan. Massa aksi berhadapan dengan gerombolan polisi. Lalu, suasana kaos. Kacau balau. Gas air mata. Asap mengepul, membubung di udara. Kendaraan kanon polisi menyemburkan air kepada massa aksi. Kerumunan berhamburan.

Dalam kekacauan, seorang demonstran jatuh terjerembap ke selokan. Lalu, dengan bengis, aparat mengayunkan senapan laras panjang ke kepalanya. Pecah. Dia, sang demonstran, gugur di palagan.

Cholil Mahmud, vokalis ERK, mengabarkan duka dalam irama lambat dan mencekat. Satu gugur, bersemi sekebun.

Tidak. Tidak hanya ratapan. Di sana juga ada harapan, bahwa gugurnya satu orang ketika memperjuangkan kebenaran bukanlah akhir sebuah perjuangan. Gugurnya satu orang adalah musim semi untuk merayakan munculnya tunas-tunas baru.

Morgue Vanguard, menyemai bibit harapan dan perlawanan itu. Menyambut ajakan Cholil. Melantunkan doa serupa pandita Hindu mengayunkan genta saat upacara. Pelan, tetapi penuh kekuatan. Ritmis sekaligus magis.

Pada yang perlahan padam, ada sejenis api dari kemustahilan. Sejenis harapan yang datang dari pelan nyala sekam. Sejenis badai lahir dari rajutan bukan kepalan.

Bersemi Sekebun hadir kemudian berubah tak hanya menjadi lagu. Dia adalah bara dalam sekam ketika rentetan represi terus berdatangan bersama peristiwa-peristiwa personal yang membuatku kadang merasa lelah dalam kekalahan.

Temali dalam Bersemi Sekebun itu pula yang semakin kuat mematri nama Morgue Vanguard dalam katalog pribadiku tentang musisi-musisi yang layak mendapatkan salut. Mereka yang tak sekadar menyanyi, tetapi juga melakukan aksi. Mereka yang tak sekadar berteriak, tetapi juga bertindak. Mereka yang menjadikan lirik sebagai pemantik.

Maka, ketika Herry Sutresna, pemilik moniker Morgue Vanguard, menerbitkan buku ketiganya, Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan, aku merasa inilah momen tepat untuk membaca pikiran-pikirannya. Tak sekadar menyimak sekilas lirik-liriknya, tetapi juga menyelami kedalaman pemikirannya.

*

Setelah mengincarnya sekira dua bulan lalu, senang sekali bisa mendapatkan buku ini di lapak penerbit independen di antara lapak-lapak lain Makassar International Writers Festival (MIWF) pekan lalu. Maka, dengan segala hormat kepada Mas Farid Gaban dan Mas Dandhy Laksono, buku Reset Indonesia yang dapatkan di lapak yang sama pun aku istirahatkan dulu begitu menemukan buku karya Herry Sutresna.

Seminggu terakhir, setiap usai Subuh ketika hari baru saja beranjak, membaca buku setebal 367 halaman ini pun menjadi semacam ritual. Membaca kumpulan esai Kang Herry tentang musik, politik, kegaduhan, dan kerapuhan sebagaimana menjadi sub-judul buku terbitan Consumed Media ini seperti menyalakan kembali api yang akhir-akhir ini terasa padam pelan-pelan.

Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan adalah kumpulan esai beragam tema dan rupa. Ada 31 tulisan tentang musik dan politik, dua hal yang lekat dengan penulisnya sebagai musisi, pemilik label musik, desainer, dan pelaku gerakan bawah tanah dua tema itu.

Herry Sutresna akrab disapa Ucok. Kadang-kadang panggilan itu ditambah Homicide sebagai nama belakang, seolah melekatkan nama keluarga, mengacu pada band rap yang dia dirikan pada 1994 dan bubar 12 tahun kemudian. Pada zaman Orde Baru, Ucok pernah terlibat sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kini, dia juga mengelola label rekaman Grimloc.

Dengan latar belakang tersebut, Ucok menyalakan kembali harapan menggunakan empat bahan bakar utama: kebaruan, kedekatan, keberanian, dan keindahan.

Pertama, dia menyajikan banyak kebaruan, setidaknya bagiku : seorang penikmat musik awam. Buku ini memberikan banyak informasi tentang musik dari sisi teori, pengetahuan, konsep, maupun sejarah. Karena itu, bagi orang yang mulai mengenal musik saat remaja bermodal kaset dan tape tetangga memutar Rhoma Irama dan Qasida Ria, buku ini menjadi rumah pengetahuan sangat mendalam.

Aku baru tahu, misalnya, bahwa Tom Morello, pentolan Rage Against The Machine (RATM) pernah memamerkan gitarnya bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika ketika koser di Jakarta pada September 2019. Sesuatu yang sangat konyol bagi pentolan band yang pernah dianggap sebagai band paling politis tak hanya dalam lirik, tetapi juga aksi politiknya.

Tentu saja Kang Herry tidak mempersoalkan pesan keberagaman dalam tulisan itu. Namun, dalam konteks Indonesia, kalimat Bhinneka Tunggal Ika itu telah dipakai pula sebagai mantra kaum ultranasionalis dan ormas patriot fasis pembela NKRI Harga Mati. Kelompok yang tak akan pernah sekubu dalam peta politik keberpihakan Tom (Menonton Para Nabi Angkara yang Tak Lagi Marah, hal. 39).

Ironi pesan Bhinneka Tunggal Ika di balik gitar Tom Morello hanya salah satu hal baru yang aku tahu. Terlalu banyak pula istilah, nama, dan informasi lain yang baru aku baca untuk pertama kali. Membuatku kemudian khusyuk menelusuri mereka dengan penasaran: metis, Chumbawamba, squatting, arsonis, poliritmik, Public Enemy, Qalaq, dan lainnya. Beragam istilah dan nama yang membuatku kemudian tersesat di beragam pelantar musik maupun jejaring informasi tanpa batas.

*

Kedua, buku ini terasa begitu dekat dan intim, bagi penulisnya sendiri maupun situasi saat ini. Dia lahir dari puluhan tahun pengalaman dan perenungan. Sesuatu yang tidak hanya dialami, tapi juga didalami penulisnya. Sesuatu yang empiris, dikemas dalam balutan analisis.

Ada cerita-cerita personal yang lebih banyak sebagai obituari. Tentang temannya sesama musisi, tukang parkir, juga pelaku gerakan. Riwayat tentang teman-teman yang telah berpulang itu misalnya dalam tulisan Eulogi untuk Sang Bebal dan CD-CD-nya yang membahas Erwin, seorang kolektor cakram padat (CD); Mei dan Turbulensi yang mengenang Wahyu Permana alias Jojon, pelaku skena di Bandung; serta Ubermansch Simpang Dago, tukang parkir yang, dalam bahasa Ucok, bisa memberikan wejangan sabda Zarathustra turun gunung paling sedikit 3 sampai 5 episode. Bacaan tukang parkir ini dari Friedrich Nietszche hingga Antonio Gramsci.

Namun, kelihaian Ucok adalah menjadikan cerita-cerita personal itu tidak semata berkutat tentang tokoh utama yang dia tulis, tetapi juga menjadi semacam catatan sejarah atau bahkan filosofis.

Tulisan Metis, Rambutan Garongan, dan Talking Heads (hal. 59), misalnya. Ucok memulai tulisan ini dengan pengalaman remeh temeh, menunggu ojol yang terlalu cepat datang sehingga tak sempat membeli gorengan. Namun, ikhwal gorengan itu justru menjadi pintu masuk bagaimana gayengnya solidaritas warga Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang saat itu menolak rencana pembangunan bandara baru.

Bermodal gorengan sebagai pembuka, Ucok lalu menjelajah jauh ke dalam sesuatu yang lebih filosofis: metis. Istilah dari bahasa Yunan ini berarti kecerdikan praktis, pengetahuan sehari-hari yang cair dan tidak tertulis. Jika “ilmu resmi” butuh manual, tabel, atau cetak biru, maka metis hidup di tubuh dan kebiasaan (hal. 62). Metis menjadi cara warga untuk menolak dan bertahan hidup dari kepungan traktor yang menghancurkan ruang mereka. Metis ternyata setali tiga uang dengan anarkis dalam arti sesungguhnya, hidup otonom tanpa otoritas.

Alasan ketiga, buku ini menyalakan keberanian, sesuatu yang sudah dilakukan Ucok selama ini, termasuk dalam musik-musiknya. Dan, sebagaimana dia tulis, Ucok tak bersembunyi. Dia memang terang-terangan mengatakan, “Tentu saja musik bagi saya idealnya memprovokasi.” (hal. 45)

Maka, sebagai contoh, dia tanpa sungkan menuding koleganya sesama musisi ketika mereka telah menjadi bagian dari komprador perusak bumi. Kasus yang dia sebutkan terang-terangan adalah Java Jazz yang disponsori Freeport. Dua entitas yang alasan lahirnya justru berhadap-hadapan.

Jazz lahir sebagai perlawanan terhadap segrerasi dan diskriminasi terhadap kulit hitam. Namun, oleh penyelenggara Java Jazz, musik jazz justru disalahgunakan untuk melegitimasi atau setidaknya mencuci dosa-dosar perusahaan yang dituding bertanggungjawab terhadap eksploitasi lingkungan dan penindasan manusia di Papua.

Dalam tulisan Jazz; Bahasa Pembangkangan yang Dilupakan (hal. 247) tersebut, Ucok menanyakan: Bagaimana mungkin jazz, musik yang lahir dari perlawanan komunitas kulit hitam terhadap segregasi dan invisibilitas sosial, kini menjadi kosmetik korporasi ekstraktif?

Toh, Ucok juga mengkritik tak hanya kolega sesama musisi, tetapi juga idolanya sendiri, Chuck D, pentolan band Public Enemy. Ketika musisi yang membuatnya memilih hiphop sebagai ideolog itu berfoto dengan Antony Blinken, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang dituduh sebagai arsitek genosida di Gaza, terasa benar kecewa dan geramnya Ucok. Padahal, Chuck D selama ini menjadi patron Ucok, dan sebagian musisi bawah tanah lainnya, sebagai musisi yang melawan segala bentuk pembungkaman.

Kekecewaan dan kegalauan Ucok kepada patronnya itu tergambar dalam tulisan Dari Metode Jakarta ke Gaza: Chuck D, Kompromi, dan Propaganda (hal. 141). Tentang bagaimana Amerika Serikat menginfiltrasi gerakan-gerakan budaya di belahan dunia, termasuk Indonesia, melalui sosok-sosok populer seperti Chuck D.

Saat ini, infiltrasi itu semakin mudah dengan menggunakan teknologi digital yang, ironisnya, tidak mampu menghapus kekuasaan negara, tapi justru memperluasnya. Pengawasan digital seperti National Security Agency (NSA) di AS, Great Firewall di Tiongkok, atau Pegasus spyware di berbagai negara membuktikan bawa teknologi malah menjadi alat negara untuk mengontrol warganya secara lebih intim. Hukum dan regulasi global masih ditentukan negara-negara adidaya, yang mengatur arus data, sensor dan bahkan kebikakan platform teknologi” (hal. 146).

Di bagian lain, kritik itu menjadi semacam gumaman terhadap dirinya sendiri sebagai bentuk kemasygulan. Misalnya, tentang skeptisme Ucok terhadap ‘musik politi’. “Pengalaman cukup lama berurusan dengan ‘musik politis’ justru membuat saya semakin lama semakin skeptis. Seringnya saya menemukan politik itu dalam bentuk terburuknya, bukan hanya pendangkalan habis-habisan makna politik (memasukkannya ke dalam politik kotak suara misalnya), juga politik yang membosankan, jauh dari mencerahkan dan mengalienasi,” tulisnya.

*

Alasan terakhir, buku ini seperti merajah dengan indah. Kemampuan terakhir ini yang benar-benar menakjubkan dan mungkin langka. Seorang musisi dengan pilihan genre yang identik dengan ketidakpatuhan pada aturan (hip-hop, hardcore, bawah tanah), tetapi di sisi lain justru membuat setiap kata, kalimat, dan alineanya terasa amat tertata.

Membaca tulisan Ucok seolah membuatku melihat kembali Legolas secara akrobatik meloncat mendaki belalai gajah dalam adegan perang film ketiga epik The Lord of the Rings: The Return of the King. Ketika dengan anggunnya, menggunakan tali dan anak panah yang menancap di tubuh gajah, sang peri memanjat naik ke punggung binatang raksasa itu lalu memanah musuh-musuhnya. Sebuah akrobat yang amat memikat, tetapi menyengat.

Ini hanya sebagian frasa tersebut: Mungkin kita tak pernah benar-benar mengukur waktu dengan kalender. Kita mengukurnya dengan album yang kita dengarka, jalan yang kita blokade, dan wajah-wajah yang masih kita rindukan. (Dekaden Lintas Dekade, hal. 56).

“Berimajinasi adalah perkara sulit ketika masa depan sudah dipatri sebagai jalan buntu.” L’Imagination Au Pouvoir (hal. 71).

Kalimat-kalimat memikat racikan Ucok bisa ditemukan sedari pengantar hingga akhir. Membuat kegiatan membaca buku ini terasa membaca karya sastra daripada sebuah buku agitasi.

Meskipun demikian, di antara puja-puji, dua catatan tetap perlu diberikan terhadap buku ini. Pertama dari sisi substansi, terasa sekali betapa Ucok sangat berkiblat kepada dinamika skena di Amerika Serikat. Sebagian besar musisi, situasi politik, dan tentu saja gerakan yang dia bahas berasal dari negara Paman Sam. Sesuatu yang secara tersirat dia sendiri akui sebagai anak yang lahir dari musik populer.

Memang ada sedikit musisi lain dari Inggris, Kanada, dan Brazil. Namun, porsinya sangat kecil.

Catatan kedua soal bahasa. Bagi hansip bahasa sepertiku, menemukan kata-kata tak konsisten atau tidak sesuai ejaan kadang terasa mengganggu. Misalnya menulis praktek, padahal yang baku adalah praktik; nafas, seharusnya napas; kreatifitas yang seharusnya kreativitas; hisap seharusnya isap; dan personil seharusnya personel, hanya sebagian di antaranya.

Terakhir, bagian paling janggal terasa pada pemilihan diksi judul. Dengan kemahiran meramu kata sedemikian mumpuni, kenapa judul buku yang digubah dari salah satu lirik lagu Chumbawamba ini tidak dibuat lebih tegas, misalnya, Setiap Api Butuh Sedikit Pemantik? Kata “bantuan” lebih terdengar pasif karena seperti menunggu orang lain memberikan.

Padahal, Kang Ucok sudah jelas-jelas telah menggunakan musik dan gerakan bawahnya selama ini sebagai pemantik, bukan bantuan. Dan, dalam skala tertentu, pantikan itu telah membakar di banyak perlawanan dalam bentuk masing-masing.

Sebagaimana lirih mantra penutup Ucok dalam Bersemi Sekebun yang selalu terasa menyalakan elan di tengah kepungan kekalahan, Tak apa mengaku ringkih di palagan. Bertahanlah sedikit lebih lama. Tumbuhlah liar serupa gulma..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *