Nikmat Menanti di Made Weti

“Dua nasi campur, Bu,” kata saya pada ibu yang melayani pembeli di warung Made Weti Sanut, Minggu (22/2) lalu.

“Ya, Pak. Tunggu ya,” kata ibu itu sambil sibuk melayani pembeli lain. Dia menyendok nasi, memasukkan berbagai macam lauk, lalu memberikannya pada perempuan lain yang berdiri membantunya mengantarkan nasi itu pada pembeli.

Continue reading “Nikmat Menanti di Made Weti”

Golput yang Bikin Ribut

Noldy, teman di kalangan aktivis penanggulangan AIDS di Bali, pun hari bilang padaku. “Aku golput saja, Pak. Semua caleg sama saja. Tebar janji ketika kampanye. Kalau sudah kepilih paling juga lupa sama kita dan janji-janjinya,” kurang lebih begitu katanya.

Hal serupa selalu saja dibilang oleh teman-temanku, terutama di kalangan aktivis LSM, ketika ngobrol soal Pemilu tahun ini. Semuanya bilang mending golput alias tidak memilih pada Pemilu 2009 ini. Ada beberapa alasan mereka. Antara lain adalah karena tidak jelasnya caleg yang akan dipilih. Namun ada pula yang Golput karena sudah tidak percaya pada sistem di negara ini.

Continue reading “Golput yang Bikin Ribut”

6,5? Hmm, Sepertinya Sih Dapet..

Soto sapi, menu sarapan pagi itu, tak bisa kuhabiskan. Bahkan separuh pun rasanya tidak. Ada perasaan agak gagap dalam hatiku. Jadi makan pun tidak enak. Menjelang ujian IELTS alias International English Language Testing System bawaanku memang gorgi banget. Gugup. Mungkin karena ada perasaan takut juga bahwa aku akan kesusahan menghadapi soal-soal ujian.

IELTS adalah ujian untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan bahasa Inggris seseorang. Aku mengikuti ujian ini dalam rangka berburu beasiswa. Dalam banyak peluang mencari beasiswa, aku selalu saja mentok di sini. Sebab aku memang belum pernah ikut sebelumnya. Jadi tidak ada nilai yang bisa aku pakai untuk nglamar.

Continue reading “6,5? Hmm, Sepertinya Sih Dapet..”

Tinggal Pilih: Konro, Sup Saudara, atau Ikan Mas

Konro!

Sup konro dan konro bakar menjadi penutup perjalanan yang sungguh nikmat di Sulawesi pekan lalu. Kami menikmati menu ini di warung makan Sop Konro Karebosi, di belakang stadiun Karebosi Makassar. Konro itu sebutan orang lokal untuk tulang iga sapi. Warung ini jadi tujuan kami makan siang karena Amir PR, teman wartawan di Makassar, yang mengajak.

Sop konro, tentu saja berupa sup. Dagingnya pakai iga sapi dipotong kurang lebih sepanjang HP gitu deh. Ada tiga potong dalam tiap porsinya. Kuah sup ini mirip rawon dengan bumbu cengkeh dan kayu manis yang sangat terasa. Makanya warna supnya agak coklat gitu.

Continue reading “Tinggal Pilih: Konro, Sup Saudara, atau Ikan Mas”

Mengenang Teman yang Mendahului Pergi

Kami menundukkan kepala dalam diam ketika seorang teman berdiri di depan dengan pakaian putih-putih seperti pedanda, pemimpin upacara dalam ritual Hindu, sedang merapalkan doa. Sebagian di antara kami membawa mawar merah. Ada yang sekadar membawa bunga itu di tangan, ada pula yang meletakkan bunga itu di tengah kuncup tangan ketika berdoa.

Halaman depan kantor Radar Bali di daerah Ubung itu senyap untuk sekitar tiga menit ketika doa itu dibacakan. Sekitar 100 orang di sana berdiri dan berdoa menurut keyakinan masing-masing. Di sekitar kami, karangan bunga ucapaan duka cita masih berjejeran. Ada dari Fraksi Golkar di DPRD Vali. Ada dari Humas perusahaan rokok Sampoerna. Dan masih banyak lagi.

Continue reading “Mengenang Teman yang Mendahului Pergi”

Beratnya Menguliti Teman Sendiri

Untunglah ada sesi hari ini, Minggu (15/2), tentang etika jurnalistik dan aspek hukum dalam pemberitaan. Dua sesi ini amat menarik. Jadi bisa menutupi kekecewaan atas sesi sehari sebelumnya yang tidak terlalu “tepat sasaran”. Dua sesi hari ini sekaligus mengakhiri tiga hari pelatihan liputan investigasi tentang independensi dan profesionalisme media di Hotel Santika Jakarta yang aku ikuti.

Sesi kode etik jadi menarik karena disampaikan Nezar Patria dengan agak beda. Tidak melulu kode etik jurnalistik, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini juga memberikan perspektif agak filosofis tentang etika jurnalistik. Maklum, Nezar yang pernah jadi korban penculikan semasa jadi aktivis ini juga alumni Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM). Jadi ya sesi ini sekaligus waktunya dia untuk berbagi ilmu. Hehe..

Continue reading “Beratnya Menguliti Teman Sendiri”

Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi

Wajah para calon anggota legislatif (caleg) itu terasa sangat memuakkan bagiku. Selama ini wajah mereka di baliho dan spanduk yang kutemui sudah cukup memuakkan. Sebab mereka malah membuat kotor wajah kota.

Tapi ini jauh lebih parah. Wajah para caleg yang kutemui sepanjang jalan antara Polewali dan Mamasa, Sulawesi Barat itu sampai membuatku harus menahan marah. Geram.

Continue reading “Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi”

Please Join BBC Bloody Valentine

Setiap hari ratusan orang membutuhkan bantuan darah dalam situasi kritis. Setetes darah Anda adalah kehidupan bagi orang lain. Ayo berbagi di Bloody Valentine.

Panitia Bersama Bakti Sosial Donor Darah dan Pelayanan Kesehatan mengadakan Bloody Valentine pada Minggu, 15 Februari 2009 di Lapangan Renon Denpasar, dari pukul 07.00 sampai 11.00 Wita. Bertempat di bawah pohon beringin ujung barat lapangan Renon. Jika hujan, acara akan dilaksanakan di Wantilan DPRD Bali, 100 meter dari lokasi awal.

Continue reading “Please Join BBC Bloody Valentine”

Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Continue reading “Penyeragaman Budaya Lewat Makanan”