Karena Lari Tak akan Menyelesaikan Pekerjaan

Sekalipun hanya berbisik-bisik, komunikasi tetaplah penting. Foto hanya ilustrasi.

Dengan muka mengkerut dan rasa takut, aku menghadapinya.

Bos besar di tempat kerja itu duduk di meja kerjanya. Secara fisik, tubuhnya besar. Begitu pula dengan kasta dan jabatannya. Dia pemilik usaha di mana aku bekerja sebagai sales cat semprot jualannya.

Continue reading “Karena Lari Tak akan Menyelesaikan Pekerjaan”

Merdeka sebagai Pekerja Lepas Saja

September ini, tak terasa sudah hampir 15 tahun jadi pekerja lepas.

Padahal, ketika memutuskan untuk menjadi pekerja lepas (freelancer), aku sempat ragu-ragu dan gentar. Memang bisa, ya, bertahan hidup tanpa bekerja tetap? Memang mungkin, ya, bekerja secara lepas, tanpa terikat pada satu entitas?

Continue reading “Merdeka sebagai Pekerja Lepas Saja”

Mencari Lumba-lumba ke Pulau Semau

Sudah hampir satu jam perahu kami menerjang gelombang.

Matahari sudah meninggi. Begitu pula dengan gelombang di selat antara Kota Kupang dan Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur. Perahu kami sesekali terentak tinggi, terangkat bagian geladaknya. Lalu, dia menghunjam kembali menghantam laut membiru.

Continue reading “Mencari Lumba-lumba ke Pulau Semau”

BaleBengong selama 2020, Adaptasi atau Mati!

Tahun 2020 sungguh tahun yang tidak mudah.

Selama hampir sepanjang tahun kita menyaksikan situasi dunia yang pontang-panting menghadapi pandemi COVID-19, termasuk di Bali. Jumlah korban terus bertambah dengan aturan penanganan yang terus berubah-ubah.

Continue reading “BaleBengong selama 2020, Adaptasi atau Mati!”

Tak Apa kok Memaksa Bani untuk Berkolaborasi

Lumayanlah dicatat sebagai sebuah pencapaian baru.

Untuk pertama kali tulisan opiniku dimuat The Jakarta Post edisi cetak pada 26 Oktober lalu. Istimewanya, karena meskipun sudaheh, pernah ding – jadi kontributor media berbahasa Inggris ini sejak 2006, baru kali ini nulis di kolom opini.

Continue reading “Tak Apa kok Memaksa Bani untuk Berkolaborasi”

Catatan Ringkas Perjalanan di Dua Ribu Delapan Belas

Foto Wayan Martino untuk BaleBengong

Seperti biasa, waktu terasa cepat sekali melaju.

Tahu-tahu, hari ini sudah 31 Desember 2018. Kok rasanya cepat sekali waktu berlalu. Pada hari terakhir ini, penting rasanya untuk mencatat apa saja yang sudah terjadi selama setahun perjalanan di 2018.

Continue reading “Catatan Ringkas Perjalanan di Dua Ribu Delapan Belas”

Dilema Meliput Bencana, antara Gagah-gagahan dan Kemanusiaan

“Benarkah nanti akan ada gempa lebih besar lagi?”

Lalu Najamuddin Abdul Latif segera balik bertanya begitu ketika kami selesai wawancara awal Agustus 2018 lalu. Lima laki-laki lain menimpali dengan pertanyaan dan gumaman serupa.

Continue reading “Dilema Meliput Bencana, antara Gagah-gagahan dan Kemanusiaan”