Hubungan Tak Setara Dua Tetangga

0 , , , Permalink 0

Pekerjaan selama sekitar empat bulan ini pun selesai.

Akhir pekan lalu, kami menyampaikan hasilnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISP) Universitas Indonesia sekaligus melengkapinya dengan diskusi.

Kali ini sebagai peneliti lokal. Aku membantu Monash University dari Melbourne, Australia dalam riset bersama tentang persahabatan dua negara yang bertetangga, Australia dan Indonesia.

Selain Bali, penelitian bersama ini juga dilakukan di Yogyakarta dan Jakarta. Di dua kota itu, penelitian dilakukan bersama kampus, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Indonesia Jakarta.

Keterlibatanku di penelitian karena ajakan Emma Baulch, peneliti Queensland University of Technology (QUT). Sebelumnya, pada 2013 lalu, aku bantu Emma juga untuk penelitian tentang Mobile Indonesian. Kali ini aku bantuin dia juga.

Tema riset bermula dari fakta bahwa Indonesia dan Australia ini memang dekat secara geografis, tetapi rasanya jauh dari kedekatan emosional. Karena itu kami ingin melihat bagaimana sih warga kedua negara melihat hubungan negaranya dengan negara tetangga.

Perspektifnya benar-benar dari warga pada umumnya. Bukan diplomat, politisi, atau pejabat tinggi.

Di Bali, narasumberku antara lain ibu rumah tangga, dosen, pengusaha, pekerja kreatif, dan relawan. Kami melakukan wawancara dan diskusi terfokus untuk menggali pengalaman dan pandangan mereka. Proporsi narasumber wawancara 7 Indonesia, 4 Australia sedangkan diskusi terfokus 3 Indonesia, 5 Australia.

Temuan di Bali agak berbeda dengan dua kota lain.

Pertama dari latar belakang narasumber. Sebagian besar narasumber Indonesia adalah alumni kampus di Australia. Hanya ada satu narasumber dari ibu rumah tangga. Adapun narasumber dari Australia, banyak yang relawan.

Ini menunjukkan sesuatu yang kurang setara sebenarnya. Indonesia banyak belajar dari Australia sedangkan Australia lebih banyak memberi.

Kedua dari alasan datang ke negara tetangga. Narasumber Indonesia umumnya karena alasan kuliah. Mereka mendapat beasiswa, entah dari negeri sendiri atau dari negeri tetangga, Australia. Adapun alasan orang Australia datang pertama kali ke Indonesia, terutama Bali, karena liburan.

Semua warga Australia yang datang ke Bali kemudian memilih untuk menetap di Indonesia. Gelombang pertama peselancar (surfer) Australia ke Bali pada 1970-an bahkan berjasa besar dalam industri pariwisata Indonesia, tak hanya Bali.

Sepertinya ini salah satu sejarah pariwisata Bali yang belum banyak dibahas atau diungkap. Ternyata para surfer dan rebel itulah yang turut membuat pariwisata sejarah pariwisata Bali maju seperti saat ini. Sejarah yang selalu dibahas kan hal-hal adiluhung saja, para pelukis atau budayawan jatuh cinta pada budaya Bali dan semacamnya.

Mungkin kapan-kapan ini perlu dibahas tersendiri saja. Mari kembali ke temuan riset tentang persahabatan Indonesia – Australia.

Ketiga terkait pandangan terhadap negara tetangga. Apa yang mereka bayangkan sebelumnya dan apa yang mereka temukan sebenarnya. Secara umum, anggapan orang Indonesia terhadap Australia ada benarnya. Misalnya, Australia itu negara maju, tertib, dan individual. Memang begitulah yang mereka temukan.

Australia di mata orang Indonesia pada umumnya cenderung positif. Namun, ada juga hal negatif yang mereka temukan selama di sana. Salah satunya adalah rasisme. Beberapa orang Indonesia ternyata menemukan kuatnya rasisme saat tinggal di Australia.

Sebaliknya, orang Australia cenderung menganggap Indonesia, terutama Bali, pada awalnya agak negatif. Dari sisi turisme, misalnya, ada yang menganggap kalau Bali itu ya Kuta: penuh turis, macet, sibuk, dan banyak keributan. Sebab, itulah yang mereka dapatkan dari media-media arus utama tentang Bali.

Eh, begitu datang ke Bali ternyata tak sepenuhnya benar. Ada Ubud yang masih tradisional atau bahkan Amed yang mewakili kondisi pedesaan. Mereka juga baru tahu bahwa secara geografis dan populasi, Indonesia juga begitu besar.

Hal negatif tentang Indonesia adalah kuatnya budaya patriarki. Bisa jadi karena sebagian besar narasumber dari Australia adalah perempuan. Mereka heran saja dengan mudahnya orang Indonesia “menghakimi” perempuan dengan obrolan-obrolan sederhana semacam, “Perempuan kok jalan sendiri? Memangnya tidak punya pacar atau suami?”.

Toh, dengan segala kekurangannya, Indonesia tetap membuat mereka jatuh cinta lalu memutuskan untuk tinggal di Bali. Ini perbedaan menonjol juga: orang Indonesia datang ke Australia lalu kembali, orang Australia datang lalu menetap di sini.

Ya wajarlah. Kan lokasi risetnya di Bali. :p

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *