Mencari Lumba-lumba ke Pulau Semau

0 , , Permalink 0

Sudah hampir satu jam perahu kami menerjang gelombang.

Matahari sudah meninggi. Begitu pula dengan gelombang di selat antara Kota Kupang dan Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur. Perahu kami sesekali terentak tinggi, terangkat bagian geladaknya. Lalu, dia menghunjam kembali menghantam laut membiru.

Air laut memuncrat dari tepi perahu kayu itu. Menciprat masuk perahu.

Lalu, kapal kembali bergoyang-goyang. Serupa perempuan Spanyol sedang menari salsa. Kanan. Kiri. Maju melawan gelombang. Sesekali, perahu seperti meniti pada puncak gelombang sebelum kemudian kembali terempas.

Aku di belakang, di dekat buritan. Lesehan pada geladak. Satu penumpang lain, Tari si pemandu lokal, di sisi perahu yang lain. Sembari tangan memegang erat tepian perahu dan tangan lain sigap memegang ponsel dan kamera bergantian, mata kami nyalang meniti buih-buih pada gelombang.

Kami berharap ada satu dua gerakan yang akan membuat kami berteriak girang, “Lumba-lumba!! Di sana!!”

Namun, harapan itu serupa keinginan mengganti Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, tidak juga terwujud.

Toh, hidup tetap harus berlanjut. Begitu pula perjalanan kami pada akhir Juni 2021 lalu itu.

Satu jam sebelumnya, kami meninggalkan Pelabuhan Tenau di sisi barat Kota Kupang. Pelabuhan ini menghubungkan Kupang dengan Pulau Semau di seberangnya, di sisi barat laut. Pulau Semau sedang naik daun juga sebagai salah satu tempat tujuan wisata setelah Gubernur Nusa Tenggara Timur yang berasal dari pulau ini, gencar membangun berbagai infrastruktur juga.

Sekitar pukul 06.15 waktu setempat kami meninggalkan pelabuhan. Menyewa perahu milik nelayan lokal. Tujuan utama kami, menemukan lumba-lumba sebagaimana para turis di Lovina, Bali.

Perjalanan ini bagian dari pekerjaan yang sedang aku lakukan sebagai konsultan komunikasi Reef Check Indonesia. Selama dua bulan, Juni dan Juli 2021, aku membantu lembaga lingkungan yang berkantor di Denpasar ini untuk membuat strategi komunikasi.

Reef Check sedang melaksanakan program integrasi kebijakan berbasis sains dalam mendukung konservasi dan pemanfaatan spesies terancam secara berkelanjutan. Program ini dilaksanakan di empat lokasi, termasuk Taman Nasional Perairan Laut Sawu.

Sebagai bagian dari pekerjaan itu, kami berkunjung ke Kupang. Bertemu dengan parapihak yang menjadi target komunikasi Reef Check Indonesia: nelayan, wartawan, mahasiswa, dan media.

Kami melengkapinya dengan perjalanan mencari lumba-lumba di perairan Semau – Selau yang masuk kawasan Taman Nasional Perairan Laut Sawu. Aktivitas ini memang salah satu paket wisata berbasis spesies terancam yang ditawarkan dalam program ini. Jika ada pariwisata, harapannya, warga setempat juga akan lebih peduli pada konservasi termasuk melestarikan spesies terancam punah, termasuk lumba-lumba.

Semula, kawasan ini memang menjadi salah satu habitat lumba-lumba di Taman Nasional Perairan Laut Sawu. Tari bilang dia sering melihat lumba-lumba di sini. Begitu pula kata nelayan yang kami temui untuk keperluan observasi ini.

Namun, informasi tambahannya, lumba-lumba itu sudah makin jarang terlihat setelah terjadi badai Seroja pada April lalu. Begitu selesai terjadi badai Seroja, lumba-lumba hampir tak pernah terlihat lagi.

Toh, kami tetap ingin mengalaminya sendiri. Sekaligus melihat bagaimana kesiapan warga setempat jika nanti wisata berbasis spesies ini jadi dilaksanakan. Kami menyewa perahu sendiri dengan biaya, kalau tak salah ingat Rp 500.000. Lalu, kami pun menyusuri perairan ketika pelabuhan belum dibuka pagi itu.

Hasilnya, setelah satu jam menyusuri perairan Semau – Selau, kami tak menemukan apa-apa. Hari itu, tak ada satu pun lumba-lumba muncul untuk menghibur, atau ya, setidaknya menyapa kami.

Sebagaimana hidup mengajarkan, harapan tidak selalu terwujudkan betapapun besar gelombang yang sudah kita taklukkan. Hehehe..

Kolam alami di Pulau Semau

Tak ingin kembali dengan zonk dan melawan tingginya gelombang pagi itu, kami pun memutuskan untuk turun di Pulau Semau saja.

Ombak keruh kekuningan di antara pantai berpasir keemasan mengantarkan kami turun di sisi timur Pulau Semau. Sepasang suami istri sedang mengambil pasir. Menyekrop pasir, memasukkannya ke karung. Dua laki-laki menangkut karung-karung berisi pasir itu.

Di bagian lain, dua anak sedang membangun istana pasirnya. Mereka tersenyum malu ketika aku menjepretkan kamera ke arah mereka.

Sebuah bangunan tanpa dinding berdiri di bagian lebih masuk daratan. Sebagian atapnya, terbuat dari seng, sudah rusak. Bangunan itu terlihat sudah lama tak dipergunakan. Dinding satu-satunya, sepertinya bagian kamar mandi dan toilet, berisi tulisan Camp Wiasa.

Kata Tari, tempat ini biasa dipakai kemah oleh para pengunjung. Camp Wiasa termasuk salah satu tempat wisata di Pulau Semau. Sayangnya, kami tak punya cukup waktu untuk menikmatinya.

Setelah mengisi perut dengan teh hangat dan sepiring mie goreng di warung tak jauh dari pantai, kami pun melanjutkan perjalanan. Dua laki-laki yang tadi mengangkut karung-karing pasir, kini mengantarkan kami dengan motornya masing-masing.

Gadis pemilik warung sempat menyarankan kami untuk berkunjung ke pantai lain di Pulau Semau yang lebih Instagramable. Apa daya kami tak punya banyak waktu. Pukul 09 pagi kami harus sudah kembali ke Kupang.

Kami memilih mampir tempat lain searah dengan perjalanan menuju Dermaga Hansisi, pelabuhan menyeberang ke Kupang. Tempat yang kami tuju ini sebuah kolam alami. Aku lupa namanya.

Kolam ini biasa saja menarik sebenarnya. Sebuah mata air seluas kira-kira 100 meter persegi di tengah pemukiman warga. Namun, jernih dan tenang airnya sangat menggoda. Aku bisa melihat dasar kolam ini saking jernihnya.

Di sanalah aku membasuh muka dan Tari merendam kakinya. Lima belas menit kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang dengan harapan. Semoga kapan-kapan bisa kembali lagi ke Semau. Menikmati lebih banyak keindahannya dan menemukan lumba-lumba yang dengan hati menari-nari menyambut kami.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.