Liburan Malaysia (3): Semua Bercampur di Kuala Lumpur

1 , , Permalink 0

Bersiaplah dengan kejutan jika jalan-jalan.

Prinsip itu penting dijalankan ketika liburan. Sesekali cobalah hal-hal di luar rencana. Kadang mungkin memberikan hal buruk, tetapi lebih banyak sebaliknya: menyenangkan.

Salah satu kegiatan yang tidak masuk rencana adalah jalan-jalan ke Dataran Merdeka, Kuala Lumpur. Kami sebenarnya sekadar mampir mengisi waktu pada hari keempat liburan. Waktu itu kami baru balik dari Shah Alam, ibu kota negara bagian Selangor.

Daripada langsung balik ke apartemen sementara hari masih terang benderang, kami pun mengiyakan ajakan Adib, pemandu dan sopir selama jalan-jalan. Tak kami nyana, ternyata anak-anak senang bukan kepalang.

Dataran Merdeka merupakan tempat di mana bendera Kuala Lumpur dikibarkan untuk merayakan kemerdekaan negara ini pada 31 Agustus 1957. Sejak saat itu, lapangan terbuka ini menjadi tempat perayaan kemerdekaan tiap tahun.

Lokasi Dataran Merdeka persis di pinggir sungai. Ketika kami tiba di sana sore itu, pekerja sedang menyelesaikan proyek pembuatan trotoar di sepanjang pinggir sungai. Seingetku, ketika aku pertama kali ke tempat ini Juni 2015 lalu, penataan serupa juga sedang dilakukan.

Menjadikan Masjid sebagai Tempat Wisata

Salah satu bagian dari penataan tersebut adalah pembuatan Tirai Air. Dia berupa bangunan berbentuk kotak dengan tirai air yang mengalir sepanjang hari, dari pukul 9 pagi sampai 12 malam.

Bangunan kotak itu diselubungi air yang terus menerus menetes serupa air hujan. Untuk masuk ke bangunan tersebut, pengunjung harus menunggu agar air berhenti. Kalau diterobos juga tak apa sih. Paling hanya basah sedikit. Namun, rata-rata pengunjung sih menikmati momen menunggu air berhenti itu untuk bisa masuk.

Anak-anak senang sekali main Jam Detik ala Tirai Air ini sebelum kemudian kami jalan lagi ke Dataran Merdeka.

Sore itu sedang ada Expo Negaraku 2017. Semacam pameran pembangunan. Kami iseng saja masuk lokasi pameran di dalam kubah-kubah tersebut. Ealah, ternyata anak-anak malah senang banget melihat propaganda negara Malaysia berbentuk pameran pembangunan ini.

Harus diakui, cara mengemas pamerannya memang asyik sih.

Pengunjung masuk kubah-kubah dengan beragam tema pembangunan Malaysia yang lebih banyak berupa infrastruktur. Misalnya telekomunikasi, transportasi, lingkungan, hingga mimpi masa depan negara ini.

Di tiap kubah itu, pengunjung bisa terlibat. Di bagian transportasi, misalnya, anak-anak bisa berperan menjadi pemandu lalulintas bandara atau sopir bus. Tempat lain untuk menikmati informasi tentang proses pembangunan Malaysia ini berupa gerbong kereta. Jadinya asyik.

Topik lain semacam telekomunikasi, pengunjung bisa mendengarkan informasi tentang pembangunan telekomunikasi dengan mendengarkannya di telepon tua. Jadi terasa kenangan zaman telepon rumah dulu.

Salah satu bagian favorit anak-anak adalah ketika mereka menggambar alat transportasi darat, seperti bus dan mobil, untuk kemudian dimasukkan ke layar dan menjadi gambar tiga dimensi. Jadi mereka bisa melihat langsung lukisan itu berubah menjadi gambar tiga dimensi di layar lebar. Ini benar-benar ajaib.

Selebihnya, Expo Negaraku 2017 menyajikan berbagai pembangunan fisik lain di Malaysia. Mengagumkan sih bagiku melihat bagaimana negara yang lebih muda dibanding Indonesia ini bergerak cepat dalam infrastruktur.

Ketika pembangunan sudah berjalan begitu cepat, Kuala Lumpur uniknya masih menjaga beberapa bangunan tuanya. Salah satunya adalah Masjid Jamek yang menjadi saksi perjalanan kota ini.

Selain Masjid Jamek, bangunan tua lain yang masih dijaga adalah kuil-kuil Hindu India, klenteng China, dan gereja. Hampir semua terlihat sudah sangat tua tetapi masih rapi dan terawat.

Tidak hanya masih digunakan, semua tempat ibadah itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis, termasuk kami. Ini yang asyik sih. Dengan berkunjung ke tempat-tempat ibadah seperti itu, kami jadi otomatis bisa melihat langsung dan syukur-syukur bisa belajar juga.

Masjid, kuil, klenteng, dan gereja yang berdampingan di banyak tempat itu bisa menunjukkan bagaimana toleransi dan harmoni terjaga dengan baik di negara yang menerapkan syariat Islam tersebut. Cuma ya itu yang terlihat di mata turis sepertiku. Kalau di keseharian mungkin lain lagi.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *