Menjadikan Masjid sebagai Tempat Wisata

0 , , , , Permalink 0

Jalan-jalan ke mana jika hanya punya waktu setengah hari di Kuala Lumpur?

Aku juga tidak tahu ke mana tempat terbaiknya. Karena itu aku sekadar menuruti kata hati saja. Jalan kaki dari pusat kota ke kota tua Kuala Lumpur pada hari terakhir di Kuala Lumpur akhir Mei lalu.

Pesawatku kembali ke Denpasar masih pukul 3.30an sore. Artinya, cukuplah jalan-jalan sampai pukul 12 siang sebelum kemudian ke bandara.

Dari tempat menginap di kawasan Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), aku lalu jalan lurus saja ke kawasan Dataran Merdeka. Merujuk pada informasi di beberapa website, dulunya daerah ini semacam pusat pemerintahan Malaysia. Menarik juga untuk melihat sejarah Malaysia di sana.

Bermodal peta, aku pun menyusuri trotoar lebar menuju kawasan kota tua itu. Melewati Jalan Ampang, Taman Bukit Nanas, bangunan-banguna tua, dan seterusnya.

Sekitar 1,5 jam jalan kaki dari KLCC Dataran Merdeka, aku tak juga menemukan tujuan utama, Bangunan Sultan Abdul Samad yang aku cari. Maka, tujuan pun berganti. Masjid Jamek sajalah.

Masjid ini aku temukan di dekat stasiun. Penandanya juga sangat jelas. Aku pun masuk kawasan masjid yang semula hendak aku jadikan target kedua ini. Pintu gerbang tertutup. Ada penjaga di sana tapi lebih serupa tukang jaga masjid biasa. Bukan sebuah tempat wisata.


Padahal, masjid ini termasuk salah satu warisan budaya dunia UNESCO.

Itulah menariknya. Bagaimana masjid, yang adalah tempat suci bagi umat Islam, juga bisa menjadi tempat wisata bagi siapa saja termasuk mereka yang non-muslim. Malaysia terbukti bisa memadukan keduanya.

Ada pendapat bahwa masjid tak boleh dimasuki umat non-muslim. Pendapat lain memperbolehkannya. Salah satu contohnya ketika Barrack Obama dan istrinya berkunjung ke Masjid Istiqlal di Jakarta pada 2010 silam.

Aku sendiri sepakat dengan pendapat yang membolehkannya. Tentu saja selama dengan pakaian sopan, seperti halnya ketika memasuki rumah ibadah agama lain seperti Gereja, Candi, Vihara dan Pura.

Masjid Jamek termasuk yang memperbolehkannya. Maka, dia pun terbuka bagi turis-turis yang berkunjung. Namun, mereka biasanya harus berpakaian sopan dan agak tertutup.

Contohnya empat perempuan yang berkunjung bersamaku, satu dari Argentina dan tiga lainnya dari China. Mereka bercelana pendek dan berkaos oblong disuruh memakai jubah dengan penutup kepala. Aku melihatnya seperti orang mau mandi. 🙂

Dengan pakaian sopan itu, para pengunjung bebas masuk bahkan ke tempat sholat sekalipun. Hanya sedikit bagian tertutup, di dekat mimbar khotbah. Di depannya, seorang ibu berusia sekitar 70an tahun, menunggu tiap tamu. Dia menjelaskan tidak hanya tentang sejarah masjid tersebut tapi juga tentang Kuala Lumpur dan Islam.

Masjid Jamek berada di dekat sungai. Menurut si pemandu, sungai itu dulu tempat bersandar para nelayan dan . Mereka lalu membuat masjid untuk tempat sholat. Itulah cikal bakal Masjid Jamek seperti sekarang.

Dari tempat pelabuhan itulah kemudian Kuala Lumpur berkembang. Karena itu, beberapa bangunan utama Kerajaan Malaysia ada di sekitar kawasan ini.

Bagiku, yang menarik justru soal masjid yang dijadikan tempat wisata. Ternyata memang bisa. Dan, begitulah seharusnya. Dengan begitu, semua orang bisa belajar dan mengenal tentang Islam lebih dalam. Tak hanya dari berita-berita buruk yang terus disebar lewat media.

 

 

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.