Menjadikan Masjid sebagai Tempat Wisata

Jalan-jalan ke mana jika hanya punya waktu setengah hari di Kuala Lumpur?

Aku juga tidak tahu ke mana tempat terbaiknya. Karena itu aku sekadar menuruti kata hati saja. Jalan kaki dari pusat kota ke kota tua Kuala Lumpur pada hari terakhir di Kuala Lumpur akhir Mei lalu.

Continue reading “Menjadikan Masjid sebagai Tempat Wisata”

Sejuknya Narmada, Putihnya Pasir Kuta

Seperti biasa, selesaiin pekerjaan pun tetap harus sambil jalan-jalan.

Begitu pula liputan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) kali ini. Meskipun tak bisa jalan-jalan ke banyak tempat, tapi lumayanlah bisa menambal kenangan tentang Lombok sekitar 10 tahun silam bersama teman-teman kuliah.

Continue reading “Sejuknya Narmada, Putihnya Pasir Kuta”

Mimpi Indah Wisata Solaria

Jika dikelola dengan baik plus dipromosikan dengan bagus, Pelabuhan Sedayulawas akan jadi tempat wisata baru selain Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Tempat ini punya potensi dikembangkan jadi tempat wisata menarik. Ada pelabuhan kecil, yang meski tak seramai pelabuhan besar di Tanjung Perak Surabaya apalagi Tanjung Priuk Jakarta, namun terlihat selalu berdenyut tiap kali aku ke sana. Di pelabuhan ini ada ratusan perahu nelayan dan puluhan kapal antarpulau.

Continue reading “Mimpi Indah Wisata Solaria”

Dua Panduan untuk Menikmati Bali

Bingung mau jalan-jalan di mana saja selama liburan di Bali? Dua buku terbitan Intisari ini bisa jadi panduan.

Buku pertama berjudul Where to Go Bali. Buku ini terbit November 2010 lalu. Materinya tentang lokasi wisata dan aktivitas apa saja yang menarik untuk dilakukan selama di Bali.

Continue reading “Dua Panduan untuk Menikmati Bali”

Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran

Pada masa Perang Dunia II, Emmerich am Rein luluh lantak karena pengeboman. Kini, kota di pinggiran Jerman itu tetap menawan.

Menghabiskan sisa satu hari sebelum meninggalkan Belanda, aku memutuskan berkunjung ke Emmerich am Rein, kota kecil dekat perbatasan Belanda dan Jerman. Aku memilih kota di distrik Cleves, Provinsi Dusseldorf ini dengan pertimbangan dekatnya lokasi, mepetnya waktu, murahnya biaya.

Continue reading “Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran”

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Continue reading “Aksen “a” Para Penunggang Kuda”

Semburat Jingga dari Atas Awan

Kabut tebal menyambut perjalanan kami pagi pukul 4 pagi itu. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Sinar lampu sepeda motor yang kami tumpangi tak berdaya melawan pekatnya kabut pagi itu.

Tebalnya kabut itu sudah terasa sejak aku meninggalkan penginapan di Cemorolawang, Probolinggo, di kawasan Bromo. Kabut itu bercampur dengan asap yang keluar dari mulutku tiap kali menghembuskan nafas.

Continue reading “Semburat Jingga dari Atas Awan”