Bosnia Bagian 6: Berkaca dari Pelik Bosnia

Perjalanan ke negara lain memang kadang membuat sentimentil.

Begitu pula dengan kunjungan ke Bosnia Herzegovina kali ini. Semakin aku mengenal negara ini, meski hanya seminggu, rasanya semakin bersyukur punya negara bangsa seperti Indonesia.

Continue reading “Bosnia Bagian 6: Berkaca dari Pelik Bosnia”

Beruntunglah Indonesia, Punya Bahasa Persatuan

Indonesia memiliki banyak hal yang layak disyukuri.

Salah satunya bahasa persatuan, Indonesia. Bandingkan dengan tetangga dekat semacam Singapura dan Malaysia atau tetangga nun jauh di sana, Belgia. Mereka masih ribet urusan bahasa.

Continue reading “Beruntunglah Indonesia, Punya Bahasa Persatuan”

Satu Pulau Ratusan Bahasa

Di Flores, bahkan, satu desa bisa punya tiga bahasa. Mereka berbicara satu sama lain dengan bahasa berbeda.

Mungkin ini kesimpulan terlalu dini. Tapi, itu yang dikatakan para petani ketika kami ngobrol di sela-sela pelatihan publikasi dan internet di Ende, Flores pada 15-17 Maret ini.

Continue reading “Satu Pulau Ratusan Bahasa”

Silang Sengketa Dua Bahasa di Belgia

Papan keterangan jurusan kereta itu membingungkanku.

Di sana tertulis Louvain, nama kota yang baru aku tahu pertama kali di sini. Sementara di tiket yang aku pegang, tertulis jurusan kereta tersebut adalah Lueven, kota kecil berjarak sekitar 45 km dari Brussels.

Continue reading “Silang Sengketa Dua Bahasa di Belgia”

Selain Egois, Mereka juga Sinis

Merasa sebagai borjuis, orang Perancis malas bicara dalam Bahasa Inggris.

Karena ingin tahu di mana tempat lain untuk membeli tiket, aku bertanya pada petugas di stasiun Gaellani, Paris bagian barat pagi itu. Dia menjawab dalam bahasa yang tak ku mengerti. Dari dialeknya, aku yakin itu Bahasa Perancis. Ini toh juga di Paris.

Aku mengajaknya bicara dalam Bahasa Inggris. Dia tetap saja ngomong dalam bahasa yang tak kumengerti itu. Karena aku tak mengerti apa maksudnya, dan dia juga tak mau diajak ngomong Bahasa Inggris, aku lalu pergi mencari sendiri tempat membeli tiket itu.

Continue reading “Selain Egois, Mereka juga Sinis”

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Continue reading “Aksen “a” Para Penunggang Kuda”

Ternyata Lembap, Bukan Lembab

Lagi ngedit tulisan di tempat kerja part time. Di salah satu tulisan aku menemukan kata “kelembapan”. Maka aku ganti huruf “p”-nya dengan huruf “b”. Jadinya “kelembaban”, bukan “kelembapan”.

Tapi, karena beberapa kali muncul dalam bentuk “Lembap” (dengan P), bukan “Lembab” (dengan B), maka aku pun penasaran. Aku cek di kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Terbitan Balai Pustaka. Oalah, ternyata benar. “Lembap”, bukan “Lembab”..

Ketika aku cek di kata “Lembab”, ternyata dirujuk ke “Lembap”. Kata sifat ini artinya (1) mengandung air (hawa dsb); tidak kering benar (tembakau dsb). (2) tidak nyaring bunyinya (seperti gendang yang kendur).

Antem Cang Ngeling Ci

Bondres, tetanggaku di gang, berseru lantang pada William, teman mainnya. “Antem cang ngeling Ci,” teriak Bondres sambil mengepalkan tangan ke arah William. Sore sekitar seminggu lalu dua anak tetangga yang umurnya sekitar tujuh tahun itu sedang main layangan.

William mengambil layangan Bondres lalu membawanya lari. Hanya untuk bercanda. Begitu juga ancaman Bondres ke William dalam bahasa Bali kasar tersebut. Keduanya hanya bercanda.

Teriakan Bondres ke William itu mengingatkanku lagi soal struktur bahasa Bali yang mungkin terdengar aneh di telinga rasa Bahasa Indonesia. “Antem Cang Ngeling Ci” adalah bahasa Bali kasar. Kalau diterjemahkan per kata maka artinya “Pukul Aku Nangis Kamu.” Tentu saja kalima itu sangat aneh terdengar kalau diterjemahkan menurut struktur kalimat bahasa Indonesia.

Continue reading “Antem Cang Ngeling Ci”

Satu Bahasa, Banyak Aksennya

Ketemu banyak orang dari beragam latar belakang memang menyenangkan. Aku bisa belajar banyak hal pula dari mereka. Begitu pula selama International Editor Meeting majalah tempatku kerja part time di hotel Mercure Sanur sejak Minggu lalu. Salah satu yang kupelajari adalah soal bahasa.

Pertemuan selama enam hari ini menggunakan bahasa Inggris, tentu saja. Namun karena sebagian besar bukan penutur asli (native speaker) bahasa Inggris, maka sangat terasa bedanya dibanding penutur asli. Bisa jadi karena si penutur memang tidak sepenuhnya bisa ngomong bahasa ini dengan baik, bisa jadi juga karena aksennya yang memang tidak ramah di telingaku sehingga susah kumengerti. Tapi, kemungkinan besar adalah karena kemampuanku mendengar bahasa Inggris (listening) memang payah. Makanya aku susah mengerti. 🙁

Continue reading “Satu Bahasa, Banyak Aksennya”