Liburan Malaysia (4): Sejumlah Catatan untuk Pelajaran

0 , Permalink 0

Muka lelaki penunggu apartemen itu terlihat tidak terlalu senang.

Kalian berempat, termasuk dengan dua anak?” tanyanya dengan mimik muka menyelidik. Aku merasakan sambutan yang kurang menyenangkan.

“Iya. Kami berdua dengan dua anak,” jawabku.

“Berarti kalian berempat, bukan berdua sebagaimana pemesanan. Kamu tahu kan akan menginap di ruang privat,” katanya. “Ini berbeda dengan kesepakatan,” lanjutnya.

Lelaki keturunan India berumur sekitar 30 tahun itu kemudian mengajak kami ke kamar di lantai 11 yang sudah kami pesan. Dia kembali menegaskan bahwa kami memesan satu kamar hanya untuk dua orang. Kami sama sekali tak menyebut adanya dua anak dalam pemesanan tersebut.

Setelah sampai di kamar, barulah kemudian kami tahu apa yang dia maksud dengan kamar privat. Kamar itu satu nomor dengan kamar lain. Kami berbagi dapur dan ruang tamu dengan penghuni kamar lain.

Malam itu, ketika kami baru sampai, kamar satunya lagi masih kosong. “Tetapi besok akan ada sepasang tamu lain. Mereka pasti akan komplain jika ada anak-anak kalian. Memang belum tentu mengganggu tetapi kalian tidak bisa menjamin bahwa anak-anak tidak akan ribut,” ujarnya.

“AirBnB sangat menghargai kejujuran,” dia melanjutkan.

Begitulah sambutan terhadap kami ketika tiba di Kuala Lumpur pada hari ketiga di Malaysia. Badan capek setelah jalan-jalan sejak pagi meninggalkan Melaka membuat sambutan itu terasa makin melelahkan lahir dan batin.

Tapi ya bagaimana lagi. Aku merasa memang bersalah juga. Ini pertama kali kami pesan kamar untuk liburan lewat AirBnB setelah biasanya lebih sering dari Agoda atau Booking.com.

Setelah ngobrol sebentar, penjaga apartemen itu memberikan tawaran lain. Kami pindah kamar dengan tarif RM 220 untuk dua kamar. Artinya per kamar sekitar Rp 350 ribu. Setelah pikir-pikir, aku menerima tawaran itu. Kami pun pindah ke kamar lain.

Bagaimana lagi? Daripada harus seret-seret koper tengah malam di negeri orang untuk mencari hotel sambil kelelahan.

Pilihan menginap di apartemen itu sebenarnya berdasarkan pengalaman liburan tahun lalu di Bangkok. Saat itu kami memesan kamar lewat Agoda. Ternyata kami dapat apartemen dengan harga sekitar Rp 300 ribu per malam.

Enaknya menginap di apartemen adalah kami tidak hanya mendapatkan fasilitas layaknya hotel, seperti kolam renang dan gym, tetapi ada juga bonus dapur dan tempat nyuci. Cocok buat liburan keluarga karena bisa masak dan cuci sendiri.

Tahun ini kami berniat melakukan hal sama, menginap di kamar ala apartemen atau kondominium. Kami mencobanya lewat AirBnB dengan harga yang relatif murah. Cuma kemudian ternyata bermasalah karena kurang lengkap menyebut jumlah tamu, termasuk anak-anak itu.

Pesan moralnya, besok-besok kalau pesan kamar lewat AirBnB, lengkapilah informasinya. Biar tidak jadi perkara apalagi sampai ditolak pemilik kamar.

Di luar urusan kesalahpahaman di depan itu, menginap di apartemen tetap amat menyenangkan. Kami dapat dua kamar dengan satu dapur dan tempat cuci. Tiap kamar punya kamar mandi sendiri.

Ada pula ruang tamu dilengkapi televisi dan ruang makan. Benar-benar nikmat buat liburan keluarga.

Lokasinya juga bagus, di tengah kawasan Bukit Bintang yang terkenal sebagai pusat pelancongan.

Selain urusan sewa kamar dari AirBnB, pelajaran dari liburan kali ini adalah soal kendaraan. Jika di Singapura dan Thailand dulu kami pakai kendaraan umum, setidaknya taksi atau kereta, maka di Malaysia kali ini kami sewa mobil bersama sopirnya sekalian.

Enaknya adalah tidak perlu capek-capek cari kendaraan umum. Cukup panggil sopir, dia pun segera siap mengantar ke tujuan. Ini terutama untuk lokasi yang jauh, seperti di Melaka, Pegunungan Genting, dan Shah Alam.

Bonusnya untuk perjalanan kali ini, kami dapat sopir sekaligus penyair, Adib. Ini karena kami pesan paket perjalanan lewat seorang teman dari Malaysia yang saat ini tinggal di Palembang, Zulhabri.

Menikmati Malaysia bersama Adib selama lima hari dan dua hari bersama Zul memberikan banyak perspektif baru tentang Malaysia, terutama soal politik dan bahasa. Maklum, keduanya memang pembangkang di negeri jiran.

Tidak enaknya sewa mobil mungkin jadi kurang bebas karena waktunya sudah diatur jauh-jauh hari sesuai kesepakatan. Selain itu, tentu saja harganya jadi lebih mahal.

Jadi, kalau punya uang lebih, memang enakan sewa mobil sekalian sopirnya. Lebih enak dan dapat informasi tambahan. Namun, kalau mau lebih bebas tak terlalu terikat pada waktu, sepertinya naik kendaraan umum bisa jadi pilihan.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *