
Gerimis turun pelan tak menghalangi turis dalam antrean.
Satu-satu mereka maju. Berpose sekitar semenit dua menit. Jepret. Jepret. Bergantian mereka bergaya di depan kamera. Seolah naik sepeda sesungguhnya.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Gerimis turun pelan tak menghalangi turis dalam antrean.
Satu-satu mereka maju. Berpose sekitar semenit dua menit. Jepret. Jepret. Bergantian mereka bergaya di depan kamera. Seolah naik sepeda sesungguhnya.

Muka lelaki penunggu apartemen itu terlihat tidak terlalu senang.
“Kalian berempat, termasuk dengan dua anak?” tanyanya dengan mimik muka menyelidik. Aku merasakan sambutan yang kurang menyenangkan.
Continue reading “Liburan Malaysia (4): Sejumlah Catatan untuk Pelajaran”

Bersiaplah dengan kejutan jika jalan-jalan.
Prinsip itu penting dijalankan ketika liburan. Sesekali cobalah hal-hal di luar rencana. Kadang mungkin memberikan hal buruk, tetapi lebih banyak sebaliknya: menyenangkan.
Continue reading “Liburan Malaysia (3): Semua Bercampur di Kuala Lumpur”

Dua hari di Melaka ternyata terlalu singkat.
Masih banyak hal menarik tentang kota tua ini yang belum kami jelajahi. Salah satu yang sebenarnya sangat menggoda adalah menyusuri pinggir sungai dengan berjalan kaki.
Continue reading “Liburan Malaysia (2): Putrajaya dan Pegunungan Genting”

Kami sudah bersiap untuk yang terburuk.
Jika pun pada hari akhirnya kami batal berangkat karena Bandara Ngurah Rai tutup, kami sudah rela. Biarlah liburan tahun ini batal. Anak-anak pun sepertinya sudah paham.
Continue reading “Liburan Malaysia (1): Menjelajah Kota Tua Melaka”
Garuda Indonesia harusnya lebih banyak menyediakan menu khas negerinya sendiri daripada menyuguhkan roti.
Karena belum makan malam, aku mengharapkan ada suguhan makan di penerbangan antara Surabaya – Denpasar, Selasa malam kemarin. Aku berharap pramugari cantik itu menyajikan satu porsi nasi lengkap dengan lauk ayam atau ikan laut. Apa daya, dia tak menyajikan menu yang aku harapkan.
Sebuah email datang di inbox kemarin sore. Pengirimnya Sugi Lanus, teman yang lebih banyak berdiskusi di dunia maya ketimbang bertemu muka. Isi emailnya: Subak sudah pindah ke Malaysia.
Sugi memberikan tautan ke website Restoran Subak di Malaysia. Alamat situs restoran itu pakai identitas Malaysia di belakangnya (com.my). Aku cek alamat tersebut. Walah, ternyata benar. Nama subak yang digunakan restoran tersebut memang mentah-mentah diambil dari Bali.