Garuda Indonesia harusnya lebih banyak menyediakan menu khas negerinya sendiri daripada menyuguhkan roti.
Karena belum makan malam, aku mengharapkan ada suguhan makan di penerbangan antara Surabaya – Denpasar, Selasa malam kemarin. Aku berharap pramugari cantik itu menyajikan satu porsi nasi lengkap dengan lauk ayam atau ikan laut. Apa daya, dia tak menyajikan menu yang aku harapkan.
Namun, bukan tak adanya makan malam yang membuatku kecewa. Aku memaklumi karena ini toh hanya penerbangan singkat, 35 menit. Kekecewaanku justru terjadi karena jenis suguhan yang ada di kotak itu, roti!
Roti tak lebih besar dibanding kepalan tangan orang dewasa itu disuguhkan dengan secangkir kecil air mineral dan nata de coco. Aku heran, kenapa sih lagi-lagi Garuda menyajikan roti, bukan makanan khas negerinya sendiri.
Hal serupa aku dapati di penerbangan Garuda Jakarta – Denpasar sekitar sebulan lalu. Saat itu, aku juga menemukan menu sama saja, roti. Aku menolaknya waktu itu. Selain karena ingin istirahat setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 12 jam juga karena tak berselera dengan menu roti itu.
Ironisnya, sajian roti itu justru aku dapatkan setelah aku mendapatkan sajian nasi lemak di penerbangan Malaysia Airlines Amsterdam – Kualalumpur – Jakarta. Karena itu, mau tak mau aku langsung membandingkan menu antara Garuda dengan Malaysia Airlines.
Di penerbangan Malaysia Airlines antara Kualalumpur – Amsterdam dan sebaliknya, di mana sebagian besar penumpangnya bule, tiap penumpang diberi setidaknya dua tawaran menu: khas Malaysia atau ala Barat. Menu khas Malaysia, nasi lemak, itu yang menarikku. Kalau di Indonesia, menu ini biasa disebut nasi uduk. Rasanya gurih. Lauknya ikan teri asin dan udang dalam baluran sambal agak manis.
Melihat nasi lemak itu, aku langsung memikirkan, harusnya penumpang bisa mendapatkan menu khas Indonesia di perusahaan penerbangan Indonesia, terutama Garuda.
Sebagai maskapai nasional, Garuda Indonesia tak hanya menghubungkan antara satu kota dengan kota lain, antara satu pulau dengan pulau lain, atau antara satu negara dengan negara lain, tapi juga menjadi jembatan budaya antara Indonesia dengan dunia luar. Garuda Indonesia bisa jadi semacam etalase untuk mengenal Indonesia meski sangat terbatas yang bisa diperlihatkannya.
Salah satu kekayaan yang bisa diperlihatkan adalah khasanah kuliner Indonesia, selain batik yang selama ini sudah jadi pakaian resmi Garuda. Dan, Indonesia punya ribuan kekayaan kuliner itu. Di Bali saja ada buanyak makanan khas mulai dari ayam betutu, sate lilit, babi guling (hehe), dan ratusan menu lainnya. Di Jawa, byuh, bejibun lagi makanannya. Nasi liwet, nasi timbel, nasi kuning, ketoprak, rujak cingur, atau apalah. Lalu, Aceh, Padang, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Timor, Ambon, Papua, dan seterusnya. Kekayaan kuliner negeri ini haqqul yakin luar biasa banyak dan ragamnya.
Kekayaan kuliner inilah yang sebaiknya disajikan oleh maskapai penerbangan negeri ini. Kalau memang ada masalah dengan kualitas penyajian, misalnya makanan Bali yang butuh kesegaran, tentu bisa diakali dengan penggunaan bumbu yang relatif awet. Atau kalau butuh menu yang ringan, misalnya sekadar camilan, tentu jumlahnya tak kurang banyaknya menu kecil seperti apem, klepon, gemblong, jumbret, dan seterusnya.
Dengan menyuguhkan menu khas negeri sendiri ini, menurutku, akan banyak dampak positif. Salah satunya ya mengenalkan makanan negeri sendiri. Bukan hanya pada warga negara lain tapi juga pada bangsa sendiri. Aku, misalnya, sama sekali tak kenal menu camilan khas Padang atau Kalimantan. Tentu menarik kalau aku bisa mendapatkan camilan ini ketika di penerbangan plus sedikit tulisan tentang bahan dasar dan asal mula menu ini.
Jadi, semoga, besok-besok aku bisa menemukan apem, bukan lagi roti di penerbangan milik negeri sendiri.

Leave a Reply