Untung Ada Coto Makassar

Here I am. Di Makassar dengan ketidakjelasan. Apa yang harus aku kerjakan? Serba salah. Mau nolak, teman yang ngajak. Setelah bersedia, tidak jelas tanggung jawabnya. Bahkan ketika aku sudah sampai di tempat acara, aku belum juga tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Duh..

Sekira dua minggu lalu seorang teman, kini bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, telepon. Minta tolong aku bantu mengurus media selama Pertemuan Nasional Harm Reductin (PNHR) di Makassar, 14-18 Juni ini.

Continue reading “Untung Ada Coto Makassar”

Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian

VECO Indonesia memfasilitasi petani mempertahankan tanah ulayatnya dan mengolah hasil pertanian untuk menaikkan harga jual. Tulisan berikut adalah artikel untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempat aku kerja part time.

Advokasi Tanah di Kawasan Watuata
Sejak sebelum Indonesia merdeka, warga adat di tepi hutan Watuata, Kabupaten Ngada sudah hidup dari hasil pertanian mereka termasuk kopi. “Kami sudah di sini sejak zaman Belanda,” kata Vinsensius Loki, petani di kawasan sekitar 10 km barat kota Ngada itu. Secara turun temurun, petani menanam, merawat, dan memanen kopi di tepi maupun di dalam hutan yang mereka anggap milik sendiri. Hasil pertanian mereka dieskpor hingga Amerika Serikat.

Continue reading “Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian”

Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan

VECO Indonesia merajut rantai pengembangan pertanian berkelanjutan dari produksi hingga pemasaran. Tulisan ini adalah bagian pertama dari tulisan untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempatku kerja part time..

Rovinia Jenia, 28 tahun, semangat bercerita. Dia mengangkat tutup lancing (tempat penyimpanan gabah) di gudang lalu menunjukkan gabah di dalamnya. “Di sini kami bisa menyimpan gabah sampai dua bulan,” katanya. Lancing, wadah dari anyaman bambu, itu jadi tempat menyimpan gabah sekaligus harapan.

Continue reading “Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan”

Dari Kelender Tema sampai si Cantik Adriana

Setelah pembukaan International Editor Meeting Minggu sore kemarin, salah satu acara yang asik adalah bazar. Tentu saja tidak seperti bazar di Sekaa Teruna Teruni banjar atau bazar cari duit seperti yang pernah aku lakukan. Bazar di ruang Pandu II hotel Mercure Sanur ini lebih pada untuk mengenal majalah regional negara lain. Karena itu masing-masing negara ikut bazar ini.

Sebelum itu, ada baiknya aku nulis latar belakang majalah ini. Biar lebih jelas. Sebab kemarin tidak sempat cerita.

Majalah tempat aku kerja part time adalah bagian dari jaringan global majalah advokasi pertanian berkelanjutan. Induk majalah, namanya LEISA, akronim dari low external input for sustainable agriculture, berpusat di Belanda. Majalah edisi regional terbit di Indonesia, Brazil, Peru, China, India, dan Senegal. Nama majalah di masing-masing negara berbeda-beda. Di Indonesia, misalnya, bernama Salam. Di Senegal bernama Agridape. Dan seterusnya. Tiap tahun, editor majalah ini bertemu untuk mendiskusikan tema dan hal-hal lain terkait pertanian berkelanjutan.

Continue reading “Dari Kelender Tema sampai si Cantik Adriana”

Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Continue reading “Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja”

'Playboy' back with more skin but ad pages laid bare

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 06/08/2006 2:42 PM

The Jakarta Post, Jakarta

The second edition of Playboy Indonesia is not only free of steamy nude pictorials, but also conspicuously lacking in advertisements.

White space occupied the pages where the glossy advertisements that filled April’s first edition should have been placed.

“”These blank pages are dedicated to our loyal clients who have been threatened against placing ads in this magazine,”” is the message from publisher PT Velvet Silver Media on the blank pages, acknowledging unnamed cell phone, cologne and tobacco advertisers.

Continue reading “'Playboy' back with more skin but ad pages laid bare”