Water, insect woes burden farmers

Anton Muhajir, Contributor,  Tabanan | Tue, 10/28/2008 10:27 AM | Bali

The farmers of Jatiluwih are facing hardship as their crops are destroyed not only by the wereng insect and a mystery disease, but as water springs around the village dry up.

Lying on the northern tip of Tabanan, Jatiluwih is one of the island’s main rice producers, with more than 300 hectares of rice fields. The vast landscape of beautifully terraced paddies also makes Jatiluwih, some 60 kilometers north of the island’s capital Denpasar, one of Bali’s main tourist attractions.

One of the local farmers, I Wayan Sukabuana, said conditions began to change around three years ago.

“Three years ago the water springs started producing less water than before,” he said.

Continue reading “Water, insect woes burden farmers”

Bedugul organic farmers struggle against long distribution

Anton Muhajir,  Contributor, Bedugul | Thu, 09/18/2008 10:35 AM | Surfing Bali

The hilly area of Bedugul, around a two-hour drive north of the island’s capital Denpasar, is one of the most scenic places in Bali.

For decades it has been the island’s biggest producer of fresh fruit and vegetables.

Recently, local farmers are breaking free from the prevailing trade and distribution scheme in order to gain better prices for their products and a better life for their families.

Continue reading “Bedugul organic farmers struggle against long distribution”

Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam

Suara lonceng dipukul itu menandakan waktu berbuka telah tiba. Agak telat, sih. Jam di telepon genggamku sudah 18.22 Wita. Padahal waktu berbuka di Buleleng, setahuku 18.19 Wita.

Lalu minuman penutup puasa segera tiba. Lima gelas es untuk kami berlima. Aku, Bani, Bunda, Joker, dan Ervi. Di antara kami berlima, hanya aku yang puasa. Tapi, tanpa wajah berdosa, empat lainnya menghabiskan minuman segar itu juga. Hehe..

Continue reading “Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam”

Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani

Dari tiga tempat lain yang dikunjungi peserta partner meeting VECO Indonesia Selasa ini, aku pilih ke petani kopi di Kintamani. Sebab dua tempat lain, pengolahan kakao di Selemadeg Tabanan dan petani sayur di Pancasari Bedugul, aku sudah pernah kunjungi. Dan, menurutku, perjalanan ini memang sangat menarik.

Kunjungan lapangan ke tiga tempat ini merupakan bagian dari agenda partner meeting VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja paruh waktu. Pertemuan mitra tahunan ini diadakan di Lovina antara 24-28 Agustus ini. Pada hari ketiga pertemuan, sekitar 90 peserta itu dibagi jadi tiga kelompok untuk berkunjung ke tiga lokasi. Aku pilih yang ke Kintamani karena aku belum pernah ke sini.

Continue reading “Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani”

Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?

Ini diskusi paling hangat di pertemuan tahunan mitra VECO Indonesia hari ini. Lembaga di mana aku kerja part time ini sedang menggelar pertemuan tahunan. Sekitar 90 orang dari mitra-mitra di Flores, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Bali ini berkumpul di Hotel Sunari Lovina Buleleng.

Pertemuan tahunan ini dimulai tadi pagi. Namun peserta sudah sampai di hotel sejak kemarin sore. Semalam kami sudah berkenalan satu sama lain. Latar belakang sebagian besar peserta adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping petani. Hanya sedikit organisasi petani atau malah petani itu sendiri. VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja part time memang lebih banyak berhubungan dengan LSM pendamping petani dibanding dengan petani langsung.

Continue reading “Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?”

Enaknya Bekerja untuk Media Asing

Rabu lalu, honorku pun dikirim. Aah, inilah enaknya bekerja untuk media asing. Kerja sebentar, duitnya buesar. Kirim honornya juga hanya perlu waktu seminggu.

Kali ini aku kerja untuk kontributor Financial Times. Kontributornya di Jakarta tiba-tiba kirim SMS ke aku sekitar seminggu sebelumnya. Dia bilang dapat kontakku dari teman di Al-Jazeera di Jakarta. Teman baru ini minta tolong aku bantu untuk cari informasi tentang rencana pembangunan lapangan golf di Desa Bugbug dan Perasi, Karangasem.

Semula dia mengatakan akan memberi honor Rp 2 juta untuk pekerjaan ini. Eh, ternyata kemudian nambah jadi Rp 3 juta. Aku kerja tak lebih dari tiga hari: satu hari riset, satu hari wawancara per telepon, satu hari reportase lapangan. Laporan yang aku buat, dalam bahasa Inggris acak adut, sekitar enam halaman.

Continue reading “Enaknya Bekerja untuk Media Asing”

Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif

Di antara sekian tempat yang kami kunjungi di Jogja dan Jawa Tengah pekan lalu, tempat ini bagiku paling mengesankan. Bertemu murid-murid sangat percaya diri di desa, tempat yang identik dengan keteringgalan, adalah penyebabnya. Rasa percaya diri itu, bisa jadi, karena mereka memang memiliki kemampuan di atas rata-rata anak seumuran mereka.

Usia mereka masih belasan. Antara SMP dan SMA. Tapi mereka jago menulis, bikin peta digital, ngoprek Linux, dan semua kemampuan yang aku tidak bisa. Anak-anak seumur mereka di gangku, di pinggiran Denpasar hanya lebih sering bengong. Atau sesekali duduk rame-rame sambil minum arak. Aku sendiri di usia mereka saat ini mungkin belum tahu apa yang hendak kucari.

Continue reading “Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif”

Ketika Agama jadi Alat Perubahan

Semula, dalam diskusi di Bali, tujuan utama kami ke Jogja adalah untuk belajar tentang penerbitan di Kanisius, salah satu penerbit di kota pelajar ini. Kanisius jadi pilihan utama karena lembaga tempatku kerja part time beberapa kali pernah mencetak buku di tempat ini. Juga karena Kanisius rajin menerbitkan buku-buku pertanian, isu yang kami tulis selama ini.

Namun, agar lebih banyak tempat, kami kemudian menambahnya dengan kunjungan ke beberapa tempat lain. Antara lain Insist Press, petani lahan pasir di Kulon Progo, sekolah alam Nitiprayan, sekolah alternatif di Salatiga, dan perusahaan pertanian organik di Sukoharjo.

Continue reading “Ketika Agama jadi Alat Perubahan”

Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa

Hari kedua di Jogja, giliran waktunya belajar soal bertani dan sekolah alam. Sebelumnya kami belajar soal penerbitan di Insist Press dan soal pemasaran produk organik di Sahani. Sekarang kami berkunjung ke lahan pasir di Kulon Progo dan sekolah alam di Bantul.

Kami berangkat pagi, pukul 7.30 dari hotel. Sebab kami harus jemput Dja’far Shiddieq, dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM). Pak Daja’far adalah nara sumber kami ketika diskusi soal tanah di Bali. Bersama beberapa dosen dan mahasiswanya, Pak Dja’far juga sedang meneliti lahan pasir di Kulon Progo.

Dari Pak Da’far pula kami tahu tentang petani lahan pasir di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo. Inilah tujuan kami sekarang.

Continue reading “Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa”

Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong

Seharusnya aku posting tulisan ini pekan lalu saat di Jogja. Apa boleh buat, selama di sana aku tidak bisa online. Bisa sih pas hari ketiga. Tapi selain sebentar, koneksi warnet di ujung Jl Dagen, kawasan Maliboro itu leletnya setengah mati. Maka, aku cuma bisa cek imel bentar waktu itu.

Baiklah. Mari mulai dari review. Ngapain di mana saja selama di Jogja.

Bedanya di Jogja kali ini dibanding sebelum-sebelumnya adalah karena sama Bani, my little dictator. 😀 Tidak enak saja sih. Minggu sebelumnya sudah aku tinggal lima hari ke Makassar. Maka, mumpung lagi liburan, sekalian saja aku ajak Bunda dan Bani untuk ke Jogja. Toh, Jogja kota yang sangat asik buat liburan.

Continue reading “Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong”