Suara lonceng dipukul itu menandakan waktu berbuka telah tiba. Agak telat, sih. Jam di telepon genggamku sudah 18.22 Wita. Padahal waktu berbuka di Buleleng, setahuku 18.19 Wita.
Lalu minuman penutup puasa segera tiba. Lima gelas es untuk kami berlima. Aku, Bani, Bunda, Joker, dan Ervi. Di antara kami berlima, hanya aku yang puasa. Tapi, tanpa wajah berdosa, empat lainnya menghabiskan minuman segar itu juga. Hehe..
Belum selesai minum, makanan pun datang. Nasi putih, sayur terong mini dengan luluran sambal, tongkol goreng, juga tempe. Air liurku sepertinya tak bisa kutahan. Apalagi perut memang sudah keroncongan.
“Ah, tapi kok belum juga dipersilakan ya?” pikirku. Tak sabar. Nengah Panji Islam, si tuan rumah masih sibuk keluar masuk. Aku diam menunggu.
“Silakan, silakan,” katanya ketika melihat aku seperti singa lapar melihat empuk daging rusa.
“Akhirnya..” gumamku. Maka, segera saja kusantap dengan penuh tanpa malu-malu. Nafsu makan minum yang seharian kukekang itu segera kulepaskan. Dia menghabiskan nasi, sayur bening dan teroong, ikan tongkol, serta tempe itu segera.
Inilah menu buka puasaku Jumat kemarin di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Desa ini berjarak sekitar 80 km dari Denpasar. Kami sengaja datang agak sore karena ingin ikut menikmati buka puasa dan pasar senggol di desa ini.
Pegayaman adalah desa yang hampir semua warganya beragama Islam. Maka, desa ini sering disebut Kampung Islam. Karena Bali sangat identik dengan Hindu, maka desa ini jadi unik. Berbeda memang selalu jadi perhatian..
Mumpung Ramadhan, sepertinya menarik kalau menulis soal desa ini. Meski sebenarnya aku sudah pernah ke sini dua tahun lalu, -daftar namaku bahkan masih ada di buku tamu ketika aku lihat kemarin sore. hehe- tapi aku tetap semangat liputan ke sini. Mungkin karena liputan sekarang juga agak berbeda.
Desa ini unik bukan hanya karena dia berbeda dengan Bali pada umumnya. Dia juga unik karena berbeda dengan Islam pada umumnya. Warga di sini menggunakan nama Bali meski muslim. Nengah Panji Islam, sekretaris desa yang menyambut kami dengan sangat hangat, adalah salah satunya. Nengah pun menggunakan nama Putu, Made, dan Nyoman untuk anak-anaknya.
Urusan ritual pun, warga di sini seperti orang upacara (Hindu) Bali pada umumnya. Misalnya ada Penyajanan (hari bikin jajan), Penampahan (hari untuk memotong binatang kurban), juga Manis (sehari setelah hari raya). Istilah-istilah itu biasa dipakai umat Hindu Bali ketika ada upacara besar seperti Galungan, Kuningan, dan semacamnya.
Tapi, bagian paling unik liputan kali ini adalah pasar senggol ala anak-anak Pegayaman. Ini tradisi tiap Ramadhan di desa ini. Tiap malam, usai buka puasa sampai waktu tarawih tiba, ada pasar senggol di jalan-jalan desa. Penjual dan pembelinya anak-anak, sebagian besar SD.
Jalan-jalan desa pun jadi riuh sama anak-anak yang jualan ini. Macam-macam yang dijual. Ada jeruk, mangga, salak, sate usus, tahu goreng, sampai jajanan taruhan semacam lotre.
“Apa enaknya pasar senggol?” tanyaku pada beberapa anak.
“Bisa ketemu teman-teman sekalian belajar jualan,” kata Nyoman Alvin, anak ketiga Nengah Panji.
Masih ada beberapa keunikan lain desa ini yang menunjukkan akulturasi Islam dan Bali. Dua entitas ini saling melengkapi tanpa harus melanggar batas masing-masing. Mereka tetap ada, berdampingan tanpa harus saling meniadakan. Begitulah seharusnya semua (umat) agama. Memberi tempat pada tradisi. Saling menghormati..
Leave a Reply