Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Continue reading “Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan”

Seperti Biasa, Biarkan Mengalir Saja

Tulisan “Happy Birthday” dari kertas yang menggantung di bawah lukisan menyambutku ketika baru membuka pintu. Hari sudah larut, hampir pukul 11 malam Wita. Rasa capek setelah perjalanan hampir sepuluh jam dari Bandung – Jakarta – Bali langsung hilang. Aku memeluk Bunda. Bani sudah terlelap.

Kami menyanyi lagu ulang tahun dengan agak lirih. Lalu kutiup lilin kecil di atas kue itu. Kuambil kertas kecil di atas kue dan kubaca.

Ayahku 29 tahun.
Lotta Love

19 April 08

Bunda + Bani

Hmm, aku makin tua. Inilah ulang tahun yang ke-29. Tidak banyak yang berubah satu tahun ini. Aku merasa tidak banyak lagi yang perlu aku cari selain hidup bersama Bunda dan Bani. Keluarga kecil ini, di rumah kecil kami, dengan semua yang kami miliki adalah segalanya bagiku untuk saat ini.

Maka, seperti biasa. Biarkan semua mengalir saja.

Kopdar Mini ala BBC

Kalau nurut jadwal, Bali Blogger Community (BBC) sebenarnya punya agenda rutin kopi darat (kopdar) tiap dua bulan sekali. Karena terakhir kali kami semua ketemuan Februari lalu pas launching BBC, maka seharusnya April ini ada agenda kopdar. Aku sih memang menunggu saja ada teman yang mau berinisiatif ngundang kumpul dan makan-makan. Sayangnya, ternyata bulan ini tidak ada juga undangan dari pihak berwenang. 🙂

Untunglah, minggu ini aku bisa juga kopdaran dengan beberapa teman BBC di Bandung. Di sela-sela pelatihan menulis yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, aku berniat ketemu dengan beberapa teman di kota sejuk ini. Dan, senangnya lagi, dua teman BBC di Bandung, Aprillia dan Eka, mau juga diajak ketemuan.

Continue reading “Kopdar Mini ala BBC”

Membandingkan Darut Tauhid dengan Rumah Cemara

Pada hari ketiga Pelatihan Menulis Isu AIDS untuk Wartawan di Bandung, peserta pelatihan diberi tugas untuk liputan ke lapangan. Sekitar 20 peserta dibagi jadi empat kelompok dengan narasumber injecting drugs user (IDU), pekerja seks komersial (PSK), waria, dan man sex with man (MSM) alias gay. Aku sangat bernafsu untuk bisa masuk kelompok yang mewawancari PSK. Apa daya, pas diundi, aku malah dapat IDU, isu yang sudah sering aku tulis.

Di kelompokku ada teman dari Banten, Aceh, Makassar, Medan, dan Palembang. Dwi Wiyana, redaktur TEMPO yang juga pemateri pelatihan mengantarkan kami ke Rumah Cemara, tempat nongkrong junkie, bahasa lain IDU, di Bandung. Semula, aku tidak terlalu antusias. Sepertinya aku tidak akan dapat hal baru di isu HIV/AIDS di kalanga IDU ini. Untungnya sih begitu masuk kawasan ini, aku seperti nemu ironi menarik untuk jadi bahan tulisan.

Continue reading “Membandingkan Darut Tauhid dengan Rumah Cemara”

Mau Makan di Tempat atau Bungkus?

Mendung tebal menggantung di atas kota ketika Merpati Boeing 737 dengan nomor penerbangan MZ 617 dari Bali yang kutumpangi hendak mendarat di Bandar Husein Sastranegara, Bandung. Setelah satu jam dari Surabaya, aku harus transit di sana 30 menit, kami tiba juga. Dari atas, Bandung terlihat sangat padat dengan bangunan. Ketika hendak mendarat, pesawat itu sepertinya sangat dekat dengan rumah-rumah, kantor, masjid, bahkan makam di sekitar bandara.

Melihat dekatnya bandara dengan pemukiman, aku jadi ingat kecelakaan pesawat di Medan dan Solo beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah, salah satu alasan kecelakaan itu adalah karena dekatnya bandara dengan perumahan penduduk. Jadi, menurutku, bandara di Bandung masuk kategori berisiko karena dekatnya dengan permukiman warga. Aneh juga ya. Bukannya kota ini adalah pusat orang-orang pintar di bidang hal-hal semacam ini. *Aduh, kok nglantur..*

Continue reading “Mau Makan di Tempat atau Bungkus?”

Ironi Berkali-kali Anggota DPR

Di antara sekian peristiwa nasional yang terjadi minggu lalu, penangkapan anggota DPR adalah cerita paling menarik perhatian. Setidaknya bagiku. Soalnya memang cerita ini banyak ironinya.

Informasi pertama soal penangkapan Al Amin Nasution itu datang dari teman baru di dunia maya, Ngurah Beni Setiawan, juga teman di Bali Blogger Community (BBC). Melalui YM, Beni mengabarkan peristiwa lucu tersebut. Lalu aku cek Kompas Online. Dan benar. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Al Amin Nasution tersebut ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Ritz Carlton dini hari, sekitar pukul 2 pagi.

Suami penyanyi dangdut Kristina itu ditangkap bersama empat pejabat dari Kabupaten Bintan, Riau dan barang bukti Rp 67 juta di mobilnya. Uang itu, menurut KPK, diduga suap dalam kasus tindak pidana korupsi alih fungsi lahan. Oya, lupa. Ada satu pula pekerja seks komersial (PSK) yang menurut detik.com adalah bonus untuk Al Amin agar melicinkan kasus korupsi tersebut. Di milis Pembaca Kompas, PSK itu katanya masih ABG. Aduh..

Continue reading “Ironi Berkali-kali Anggota DPR”

Gagal Maning Gagal Maning

Hmm, padahal aku sudah PD setengah mati bakal lolos seleksi dan bisa jalan-jalan ke Kanada tahun ini. But, ternyata gagal. Sepertinya pasportku tidak akan bertambah stempel (meski cuma sekali) lagi tahun ini. Hiks..

Dear Anton,

I have been trying to send your emails but they kept bouncing back. I hope this goes through.

This year’s Call for Applications for WITNESS’ 2008 Video Advocacy Institute (VAI) produced an overwhelming response from human rights activists from around the globe. We received 200 applications from 65 different countries, and are only able to extend an invitation to 30 applicants. Unfortunately, we are unable to extend an invitation to you to this year’s VAI, and hope that you understand that this is not a reflection on the importance of your human rights work.

Continue reading “Gagal Maning Gagal Maning”

Aku Makin Terasing dari Tulisanku

Bunda benar. Makin hari, aku makin merasa tulisan-tulisanku di blog memang makin tidak asik. Aku sendiri menyadari itu. Tiga atau empat tulisanku terakhir di blog memang seperti sesuatu yang lahir tidak dari hati. Aku menulisnya sekadar biar ada tulisan di blog. Tulisanku hanya karena biar ada, bukan karena aku benar-benar ingin menulisnya.

Aku lalu ingat kutipan Thomas Carlyle di buku kado pernikahan temanku, I Ngurah Suryawan. “Jika sebuah buku lahir dari hati, ia akan berusaha menjangkau banyak hati yang lain.” Buku hanya sebuah idiom. Dia bisa juga berupa tulisan, masakan, ucapan, dan apa saja. Jika sesuatu itu memang sesuatu yang tulus, muncul dari hati, maka akan terasa bagaimana sesuatu itu mengalir. Lalu meraih hati yang lain untuk larut di dalamnya.

Continue reading “Aku Makin Terasing dari Tulisanku”

Globalisasi di Balik Kaos Oblong

Lama tidak menulis resensi di blog. Makanya aku posting aja deh resensi ini. Biarin saja resmi banget bahasanya.

Agak lucu juga nemu buku ini. Sekitar sebulan lalu aku dapat kaos oleh-oleh dari bos di kantor yang baru pulang dari Belgia. Seumur hidup sampai sekarang, baru kali ini aku dapat kaos dengan logo fair trade di belakangnya. Ada logo Max Havelaar dan keterangan bahwa kaos itu diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip fair trade.

Menurut organisasi fair trade sedunia International Federation of Alternative Trade (IFAT), fair trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling menghormati. Tujuannya untuk menciptakan keadilan, pembangunan berkelanjutan, melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair serta memihak pada hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan.

Continue reading “Globalisasi di Balik Kaos Oblong”

Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan

Ketika kemarin ada SMS dari teman di Appetite Journey untuk menulis perjalanan ke Solo buat majalah travelling dan kuliner tersebut, aku baru ingat lagi kalau aku belum menulis cerita perjalanan ke Istana Mangkunegaran di blog. Padahal perjalanannya sudah Januari lalu.

Maka, pagi ini aku cek lagi foto-foto perjalanan sambilan kerja untuk tempat kerja part time tersebut. Karena masih malas untuk bikin artikel panjang, jadi aku upload foto-foto itu saja ke flickr. Dan, inilah sebagian foto-foto itu. Semua yang di blog ini adalah tentang jendela-jendela di Istana Mangkunegaran tersebut.

Continue reading “Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan”