Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube

Ya, ya. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk tidak menulis soal masalah ini meski sudah banyak banget blog yang menulisnya. Soalnya kalau dibiarkan memang pikiran ini lama-lama jadi mbenjol keluar. Takutnya lalu jidatku tambah jadi lengar dan longor. Hahaha..

Kali ini soal blokir beberapa situs yang memuat film Fitna, yang dianggap melecehkan Islam. Hmm, kalau sudah soal agama memang repot. Makanya tidak usah beragama. *Padahal aku sendiri tidak berani untuk tidak beragama. 😉

Continue reading “Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube”

Blogku pun Naik Kasta

Padahal ada beberapa ide untuk nulis seperti pemblokiran YouTube, penggunaan blog oleh para calon gubernur Bali, dan printil-printil lain. Cuma kok moodnya belum dapet. Maka nulis ini sajalah..

Setelah sempat dag dig dug ketika ngoprek di bawah bimbingan Om Asn, akhirnya blogku bisa juga naik kasta. Hehehe.. Jadi inilah perubahan keempat dari blogku ini. Awalnya di jirovun.blogspot.com lalu berubah (1) rumahtulisan.blogspot.com, (2) rumahtulisan.wordpress.com, (3) rumahtulisan.com, dan (4) rumahtulisan.com pakai WordPress 2.5.

Continue reading “Blogku pun Naik Kasta”

Doronglah Motor Sampai Kota Denpasar

Pada zaman masih SMA, Pan Belog sudah termasuk salah satu murid yang nakal. Waktu itu dia sekolah di salah satu SMA favorit di jalan Kamboja Denpasar. Dia sering bolos. Namun meski bolos, dia mengaku daftar hadirnya selalu terisi. Caranya dengan menitip absen pada teman sekelasnya.

Kebiasaan ini berlanjut ketika dia masih kuliah. Daripada duduk manis dengar dosen ngoceh di kelas, dia pilih kabur lalu ikut demo. Makanya dia selalu merasa sudah punya jasa pada negeri ini. “Kalau tanpa kami, Indonesia mungkin masih dalam cengkeraman dan kekejaman Orde Baru,” katanya yakin. Ya deh peh..

Continue reading “Doronglah Motor Sampai Kota Denpasar”

Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)

jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advertorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Continue reading “Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)”

Ancaman di Balik UU ITE

Setelah kemarin aku nulis sedikit materi, apresiasi, dan pertanyaan seputar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sekarang waktunya ngomong soal terakhir, ancaman UU ITE pada blogger.

Tiga hal yang menjadi perhatianku adalah soal ancaman hukuman penjara bagi blogger, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dan penyeragaman informasi oleh negara. Bagi sebagian orang, ancaman ini mungkin dianggap berlebihan. Tapi menurutku sah-sah saja. Kalau sudah ada aturan, negara atau seseorang jadi punya alasan untuk membawa persoalan ini ke tingkat hukum.

Continue reading “Ancaman di Balik UU ITE”

Setelah UU ITE Disahkan

Setelah seminggu ini membaca, menelaah, mencari referensi, dan seterusnya, akhirnya aku bisa juga nulis soal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). *Mimih serius sajan noq*. Kemarin sempat mau langsung bikin tulisan soal UU yang disahkan DPR seminggu lalu tersebut. Waktu itu sih pendekatannya soal pornografi. Tapi waktu itu aku belum baca detail UU tersebut dan lebih banyak dapat dari media. Takut aja sih tidak kuat argumennya. Juga khawatir lebih banyak asumsi berdasarkan berita di media.

Dan, setelah kubaca berulang-ulang tiap pagi pas baru bangun di saat otak masih segar, aku mulai bisa menganalisisnya secara tajam dan terpercaya. Hahaha..

Pertama soal apresiasi atas lahirnya UU ini. Setelah sekian lama dikritik banyak pihak sebagai negara yang tidak terlalu peduli pada kemajuan teknologi informasi (TI) karena tidak punya UU tentang TI, akhirnya Indonesia punya juga aturan ini. Jadi, meski masih sebatas UU, belum ada peraturan pemerintah dan penjelasan teknis lainnya, UU itu membuktikan bahwa pemerintah mulai peduli soal ini. Meskipun masih penuh catatan di sana sini, UU ini perlu diapresiasi.

Continue reading “Setelah UU ITE Disahkan”

Untung Bani Nangis Pagi Ini

Pas aku mau berangkat ke tempat kerja part time hari ini, Bani agak rewel. Padahal dia biasanya dengan senang hati dada-dadain tangan sambil bilang, “Mmmuah!”. Maka dengan senang hati aku anterin jalan-jalan dulu.

Kami jalan-jalan keluar gang lalu belok kiri ke arah sawah-sawah. Jalan Subak Dalem, di mana kami tinggal, masuk kawasan baru di Denpasar Utara. Jadi masih banyak sawah. Seperti biasa, kami naik motor. Bani di depan berdiri dengan girang.

Sampai sekitar 3/4 panjang jalan beraspal itu, kami berhenti. Biasanya sih aku melihat gunung Agung atau gunung Batukaru dari sini. Dengan sawah-sawah yg masih hijau di latar depan dan gunung-gunung itu di latar belakang. Aku menikmati suasana begini paspagi, sekitar pukul 7, atau sore, sekitar pukul 6.30. Tapi karena hari ini agak mendung, jadi dua gunung itu tertutup mendung. Juga kabut.

Maka, aku melihat ke kiri. Dan, waaaaah, ada pelangi. Ternyata keren banget..

Ketidakramahan yang Selalu Terulang

Seperti sudah kuduga, sambutan tidak ramah menyambut kami ketika masuk Hard Rock Cafe Minggu sore kemarin. Dengan muka galak dan tanpa senyum sama sekali, pelayan berseragam hitam-hitam itu bertanya pada kami. “Mau ngapain?” tanyanya dengan muka menyelidik seperti kami ini tiga orang yang harus dicurigai karena membawa penyakit sampar atau bom di balik baju kami.

Aku sedang nganterin dua anak tetangga, Gede dan Ayu, untuk menukarkan vocuher mereka di cafe tersebut. Mereka dapat hadiah voucher setelah menang lomba menghias bunga Nak Nik Community dua pekan lalu.

“Mau pinjem toliet,” kataku dalam hati. Ya, makan atau minumlah. Masak masuk cafe mau ngapain. Atau kalau memang mau nanya baik-baik, kan bisa saja sambutannya adalah, “Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”. Hi, Guys. Pariwisata adalah tentang keramahan pada orang lain, tidak hanya pada orang-orang berkulit putih, jangkung, yang kalian sebuat sebagai turis itu.

Continue reading “Ketidakramahan yang Selalu Terulang”

Pasanglah Lilin pada Tempatnya

Orang alim bilang manusia itu campuran antara malaikat dan binatang. Binatang lebih mengandalkan perasaan daripada pikiran. Makanya kalau ayam lagi nafsu untuk ngeseks ya langsung aja main sikat meski dipelototi teman-temannya. Anjing kalau mau pup juga asal saja meski di depan rumah orang. Tapi malaikat sebaliknya. Konon mereka cerdas-cerdas. Sayangnya mereka tidak punya perasaan dan nafsu. Jadinya ya mereka tidak butuh makan dan… seks. Kasian banget sih.

Nah, enaknya manusia itu karena terletak di antara dua kutub itu. Jadi dia bisa bersikap layaknya malaikat: sibuk mencari surga sampai lupa menikmati enaknya maksiat (cucian deh Lu..), tapi juga bisa bersikap layaknya ayam: ngeseks seenaknya di depan webcam lalu disebar lewat internet (hihihi, mauuuu).

Continue reading “Pasanglah Lilin pada Tempatnya”

AJI Denpasar, Nasibmu Kini..

SMS dari Ervi pagi ini mengusikku. Ervi, teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar itu mengabarkan tentang kegiatan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali di Hotel Niki Denpasar hari ini. “Acr PJI hr ini dihadiri bnyk sekali wartawan Bali. Nada2nya, AJI Dps bakal kehilangan anggota ni. Ketua PJI Bali, Justin. Panitinya jug org2 AJI. Weleh2.”

Hari ini pengurus PJI Bali dilantik di hotel Niki Denpasar. Sebagai sesama jurnalis, ini menyenangkan bagiku. Makin banyak organisasi wartawan semoga akan membuat wartawan makin sadar bahwa berorganisasi itu penting. Nantinya juga semoga makin meningkatkan kualitas jurnalis ataupun media itu sendiri.

Continue reading “AJI Denpasar, Nasibmu Kini..”