Blep. Pergilah Kesaktianku..

Jumat ini adalah hari kerja terakhir bulan ini. Waktunya gaji tiba. Aah, senangnya. Tabunganku mungkin bertambah. Maka, dalam perjalanan ke rumah, aku mampir ke ATM BNI di Jalan Veteran Denpasar. Aku hendak ngecek saldo tabungan. Apalagi duit di dompet juga tinggal di bawah Rp 50 ribu.

Pas aku masuk ruang ATM, eh, ternyata mesin ATM mati. Aku tidak peduli. Aku pencet tombolnya masih berbunyi, “Tut.”

“Sepertinya masih bisa dipakai,” pikirku. Aku pun cuek gen masukin kartu ATM ke lubang mesin yang layarnya gelap karena mati itu. Layar tetap gelap. Malah kartuku masuk tertelan. Aku pencet-pencet tombol ATM, tetep saja tidak mau hidup.

ATM-ku tertelan. Bukannya bisa ngecek saldo, apalagi ambil duit, kartuku malah hilang. Seketika itu pula aku seperti kehilangan separuh nyawa (halah!). Tanpa kartu itu, aku benar-benar merasa kehilangan kesaktian. Aku memang goblok!

Menatap Puing, Mengingat Rusuh

Sore tadi aku jalan-jalan sama Bani ke Taman Kota Denpasar dekat Lapangan Lumintang Denpasar utara. Meski namanya keren, “Taman Kota”, tempat ini tak lebih dari lapangan kosong dengan pohon-pohon yang baru ditanam. Ada beberapa petak tanah luas dengan semak-semak tidak terurus di pinggir lapangan.

Meski tidak seramai di Lapangan Puputan Renon atau Puputan Badung, namun sore itu puluhan orang lain juga sedang berjalan-jalan di sana. Ada yang sekadar lari, jalan-jalan, sepak bola, main skate board, atau malah jalan-jalan sama anjing. Aku dan Bani sih jalan sambil cuci mata. Mumpung tidak ada Bunda, jadi kami bebas jadi laki-laki. Hehehe..

Jalan-jalan di tempat itu, aku masih bisa melihat puing-puing sisa kerusuhan di Denpasar pada 1999 lalu. Maka, sambil jalan-jalan sore itu, aku jadi inget peristiwa tujuh sembilan tahun lalu itu.

Continue reading “Menatap Puing, Mengingat Rusuh”

Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar

Kami bersikap layaknya turis Minggu lalu. Ini niat lama yang terus tertunda, naik dokar jalan-jalan di Denpasar. Niat itu muncul kembali setelah baca tulisannya Dek Didi soal keliling Denpasar naik dokar bersama pacar. (Ehm, kalimat yang sangat puitis. Hehe). Tapi lagi-lagi niat itu tertunda pekan lalu karena Bani sakit, demam dan batuk hampir seminggu.

But, yah, akhirnya bisa juga niat itu terwujud juga Minggu kemarin.

Selain ingin menikmati liburan dengan cara berbeda, kami juga ingin tahu seberapa siap sih Denpasar melaksanakan program city tour yang dipromosikan dengan nama Sight Seeing Denpasar itu? Karena itu kami membawa buku bersampul oranye tentang Sight Seeing yang kami peroleh pada peluncuran program ini 29 Desember 2007 lalu.

Continue reading “Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar”

Mood Itu Menurun Tajam

Kok aku ngrasa minggu-minggu ini aku makin males blogging ya. Padahal baru saja punya rumah baru. Dulu aku rajin ngeblog sampe malem-malem, jalan-jalan ke blog orang, kasih komentar, lalu nulis lagi. Kadang bisa sampe pukul 2an pagi.

Tapi rasanya sudah lama aku tidak melakukan itu. Aku makin jarang blogging malem-malem. Banyak ide yang mau aku tulis tapi gak juga aku tuliskan.

Sepertinya mood untuk ngeblog lagi turun drastis nih. Heran..

Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu

Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀

Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

Continue reading “Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu”

Teknologi Ini Telah Mengubah Kami

Ada yang lucu pas aku main ke rumah Bli Pande Kamis kemarin. Aku, Wawan, Novan, Bunda, Bani, dan Bayu menjenguk anaknya Bli Pande yang lahir Selasa lalu. Pas aku tanya siapa nama anaknya, Bli Pande yang juga anggota Bali Blogger Community (BBC) ini menjawab dengan yakin, “Baca saja di blog.”

Sekitar seminggu lalu, jawaban yang sama juga dibilang sama Bunda ketika aku tanya soal cerita hari itu. Kami memang biasa ngobrol saling cerita apa yang terjadi hari itu pas malam menjelang tidur. Waktu itu Bunda baru saja habis pasang alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan. Pas aku tanya, dengan yakin dia menjawab, “Baca saja di blog.”

Dua jawaban ini seperti nonjok aku pas di muka sambil bilang, “Rasain Lu!” Hehe.

Continue reading “Teknologi Ini Telah Mengubah Kami”

Kematian Kelahiran Datang Bergantian

Minggu ini tiba-tiba kematian dan kelahiran datang silih berganti.

Sabtu (15/3) lalu, ayahnya Geg Ary, teman sejak di Pers Mahasiswa Akademik, meninggal karena bronchitis dan stroke. “Kombinasi yang tepat untuk segera mengakhiri hidup,” kata Geg ketika aku telepon Minggu malam setelah aku dapat kabar dari Happy, teman kami, dan aku ricek ke Toni, pacar Geg yang juga temanku.

Kematian itu bener-bener mengagetkanku. Sebab setahuku bapaknya Geg sehat-sehat saja. Ternyata dia sudah dirawat di RS Sanglah hampir sebulan. “Aku memang sengaja merahasiakannya pada kalian,” kata Dung Dung, panggilanku pada teman yang juga karibnya Bunda ini. Geg tinggal di Mengwi, jadi kami tidak bisa langsung main ke rumahnya setelah dapat kabar itu.

Continue reading “Kematian Kelahiran Datang Bergantian”

Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku

Pan Belog pun ingkar janji. Selesai Nyepi lalu dengan sangat yakin dia bilang akan rajin cerita tentang hal-hal yang dia alami padaku. Kalau tidak salah sih dia bilang cerita itu pengennya dimuat setiap Sabtu atau Minggu di blogku atau di balebengong.net. Ternyata pekan ini dia telat. Padahal, dia sudah merasa diri seperti Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir tiap edisi di Majalah Tempo. Atau, ya setidaknya, sama dengan Sudira alias Aridus penulis tetap rubrik Obrolan Bale Banjar di Bali Post Minggu yang obrolannya lebih mirip obrolan mahasiswa S3 daripada di bale banjar karena saking tinggi dan beratnya tulisan di sana. Hehe..

But, ya begitulah. Pan Belog bisanya hanya mencela orang. Padahal dia sendiri nulis pun enggan, atau jangan-jangan malah tidak bisa sama sekali. Hihihi..

“Tidak mau tidaklah berarti tidak bisa,” kelitnya.

Continue reading “Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku”

Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa

Sabtu (15/3) lalu aku bantuin Pers Mahasiswa Akademika untuk jadi moderator seminar yang mempertemukan tiga bakal calon (balon) gubernur Bali. Diskusi ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun lembaga pers mahasiswa di Universitas Udayana Bali tersebut. Sebagai alumni yang baik dan berbakti (hehehe) maka aku pun mengiyakan meski aku grogi bukan kepalang.

Bagaimana tidak grogi. Ini kali pertama aku jadi moderator diskusi politik yang serius banget. Biasanya kan lebih banyak diskusi sama temen-temen LSM yang suasananya jauh lebih cair dan santai. Selain itu, setahuku ini kali pertama para bakal calon itu ada di satu meja untuk ”debat terbuka” terkait pencalonan mereka.

Hal lain yang membuatku grogi banget kemarin itu karena kadang-kadang aku ini suka ngomong nglantur atau becanda yang kelewatan. Takut saja gara-gara candaan itu lalu pendukung bakal calon akan macem-macem ke aku. *Hehe, dasar aku memang paranoid soal beginian.*

Continue reading “Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa”

Pagi Kedelai Sore Tempe

Ada yang menarik di seminar yang diadakan Pers Mahasiswa Akademika hari ini di Nari Graha Renon Denpasar. Ternyata Made Mangku Pastika bilang dia tetep anti sama bebotoh. Padahal beberapa hari lalu bilang mau merangkul mereka.

Hmm, jadi bingung. Kok pagi kedelai, sore udah jadi tempe. Cepet berubah. Padahal aku mau pilih dia nok. Jadi ga ya? 😀