Pagi di Sawah Seberang Kali

Baru sekitar pukul 6.30 pagi. Tapi Wira, tetanggaku anak kelas II SD yang lagi libur sekolah hari ini, sudah berterika-teriak di depan rumah. “Ooom, jadi ke sawah kan?”

Hari Minggu lalu, aku, Bani, Wira, Wayan, dan Bondres main ke sawah pagi-pagi. Tiga anak kecil, mereka kelas I dan II SD, tetangga di gang kecil Jalan Subak Dalem Denpasar Utara itu ternyata senang bukan kepalang. Mereka nyebur sawah, mengejar bebek, cari belut, dan seterusnya.

Continue reading “Pagi di Sawah Seberang Kali”

Sambel Bejek Pancen Uenak

“Dua hari ini aku mimpi dikejar-kejar orang terus. Ngeri,” kataku pada Bunda Jumat pekan lalu.

“Mungkin karena beberapa hari ini kamu nulis masalah-masalah gawat terus,” jawab Bunda.

Hmm, ada benarnya.

Karena itulah, pekan ini aku nulis soal yang asik-asik saja. Capek juga nulis masalah gawat terus. Dan, tulisan hari ini adalah soal makanan. Hmmm..

Continue reading “Sambel Bejek Pancen Uenak”

Narsis Memang Asik

Karena ada di koran kemarin, lalu hari ini Wira kirim klipingnya di milis BBC. Jadi ya aku posting saja di sini.

Sebagai pengikut agama narsisme yang diajarkan Nabi Selo Longor, tentu saja wajib hukumnya bagiku memasukkan kliping itu di blog. Kalau tidak, aku bisa dirajam di neraka Jahannam. Celakanya lagi bisa ditolak masuk surga Betngandang.

Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka

Atas nama apa pun, pembangunan selalu melahirkan korban. Begitu juga pariwisata Bali. Di antara gemerlapnya, ada juga suara-suara rintihan mereka yang kalah.

I Wayan Rebo salah satunya. Atas nama pembangunan lapangan golf dan fasilitasnya, petani di kawasan Bukit Pecatu, Kuta Selatan ini harus terusir dari tanahnya sendiri. Dua kali dia masuk penjara karena dianggap melawan Negara. Dia menolak menjual tanahnya. Maka, Rebo dianggap mengkhianati pariwisata, yang sudah kadung jadi mantra sakti di Bali.

Continue reading “Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka”

Apa yang Harus Mereka Rayakan

Dua anak perempuan itu menyerbu kami di tangga menuju bagian paling bawah Pasar Badung, pasar terbesar di Bali. Mereka membawa keranjang kosong di kepalanya. Muka dan pakaian mereka kusam. Dekil. Rambut kemerahan berantakan.

Aku dan tiga teman segera berhenti. Kami melihat ke mereka lalu saling mengangguk. “Ya sudah. Kita ngobrol sama mereka saja,” kata salah satu teman dari Jakarta itu.

Continue reading “Apa yang Harus Mereka Rayakan”

Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu

Kami duduk berenam Sabtu kemarin di Art Cafe Jl Hayam Wuruk Denpasar. dr Oka, Mas Rofiqi, Bodrek, Bunda, Agung, dan Bani. Bli Popo datang ketika diskusi hendak berakhir. Keprihatinan terhadap media di Bali yang mempertemukan kami sore itu.

Tanpa mengecilkan peran media di Bali selama ini, kami mencatat masih ada beberapa masalah terkait kualitas media di Bali. Terutama soal makin hilangnya hak publik di media lokal saat ini.

Continue reading “Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu”

Enaknya Bekerja untuk Media Asing

Rabu lalu, honorku pun dikirim. Aah, inilah enaknya bekerja untuk media asing. Kerja sebentar, duitnya buesar. Kirim honornya juga hanya perlu waktu seminggu.

Kali ini aku kerja untuk kontributor Financial Times. Kontributornya di Jakarta tiba-tiba kirim SMS ke aku sekitar seminggu sebelumnya. Dia bilang dapat kontakku dari teman di Al-Jazeera di Jakarta. Teman baru ini minta tolong aku bantu untuk cari informasi tentang rencana pembangunan lapangan golf di Desa Bugbug dan Perasi, Karangasem.

Semula dia mengatakan akan memberi honor Rp 2 juta untuk pekerjaan ini. Eh, ternyata kemudian nambah jadi Rp 3 juta. Aku kerja tak lebih dari tiga hari: satu hari riset, satu hari wawancara per telepon, satu hari reportase lapangan. Laporan yang aku buat, dalam bahasa Inggris acak adut, sekitar enam halaman.

Continue reading “Enaknya Bekerja untuk Media Asing”

Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih

Keindahan Pantai Bias Putih memang tersembunyi di antara bukit gersang di Desa Bugbug dan Desa Perasi Kecamatan Karangasem. Kamis pekan lalu, aku harus dua kali lewat untuk menemukan tanda menuju pantai berpasir putih kecoklatan ini. Dari jalan raya Desa Perasi antara Denpasar – Amlapura, ada jalan kecil berbatu dengan tanda panah di bawahnya.

Dari jalan kecil ini, aku harus melewati jalan beraspal seadanya hingga sekitar 1 KM. Di ujung jalan ini pos kecil di depan pura tanpa nama. Tiga orang berbadan kekar menunggu di pos. Menarik retribusi dari orang yang berkunjung. Murah, kok. Cuma seribu perak.

Jalan beraspal ganti dengan jalan berdebu ke arah kanan. Lalu jalan naik turun jelek di antara rimbun pohon kelapa, pisang, dan semak lain.

Continue reading “Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih”