
Baru sekitar pukul 6.30 pagi. Tapi Wira, tetanggaku anak kelas II SD yang lagi libur sekolah hari ini, sudah berterika-teriak di depan rumah. “Ooom, jadi ke sawah kan?”
Hari Minggu lalu, aku, Bani, Wira, Wayan, dan Bondres main ke sawah pagi-pagi. Tiga anak kecil, mereka kelas I dan II SD, tetangga di gang kecil Jalan Subak Dalem Denpasar Utara itu ternyata senang bukan kepalang. Mereka nyebur sawah, mengejar bebek, cari belut, dan seterusnya.
Karena senang bukan kepalang itu, maka pagi ini mereka menagih lagi. “Ooom, semua mau ikut. Jadi ke sawah kan,” teriak Wayan juga.
“Tunggu Bani bangun ya,” kataku ke anak-anak itu. Aku keluar rumah. Walah, ternyata banyak sekali yang mau ikut. Mereka pun menunggu Bani yang memang males bangun tidur seperti ayahnya. Hehe..
Ketika akhirnya Bani bangun, pasukan pun berangkat. Memang jauh lebih banyak. Aku absen satu per satu. Gede, Putri, Wayan, Wira, Satria, Dodie, Tata, Esa, dan, tentu saja, Bani.

Kami menyeberang kali kecil di ujung gang yang memisahkan kami dengan sawah di seberang sana. Lalu, ketika sampai sawah semua girang bukan kepalang. Sebelum lanjut, aha!, ayo bersiap dulu. Bani yang pimpin barisan..

Pagi ini kami jalan-jalan saja. Tidak ada acara cari belut, yuyu, dan semacamnya. “Kayak Bolang ya,” kata anak-anak soal perjalanan pagi ini. Bolang, singkatan dari Bocah Petualang, adalah nama acara di salah satu TV swasta soal petualangan anak-anak. Bagi aku dan anak-anak ini, melali ke sawah ternyata jadi liburan asik juga di Denpasar. Sakin senengnya sampe pada loncat-loncat..

Agar ada tujuan, maka kami sepakat mencari mata air pagi itu. Kami pun menyusuri sawah sampai di ujung utara sana. Ada petani lagi nanam kangkung. Ada yang lagi nyiram bayam. Ada yang menyiangi rumput di sawah. Petani terakhir ini menolak pas anak-anak mau ikut bantuin. “Usak nyanan,” teriaknya ke anak-anak.
Ratusan hektar sawah ini dikepung rumah-rumah jauh di sana. Di sisi barat, berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani Utara. Sisi timur berbatasan dengan Jalan Subak Dalem. Sisi selatan berbatasan dengan jalan Gatot Subroto tengah.
“Semoga nanti sawahnya tidak dijual. Biar tidak berganti rumah,” kata Gede.
Ketika jalan balik setelah ketemu dengan mata air, Bunda dan Komang datang menyusul. Enaknya lagi, Bunda bawa nasiiiii. Hore…

Maka, ending melali pagi ini adalah sarapan di gubuk reot di tengah areal sawah. Nikmat tenan..
Leave a Reply