Akhirnya, COVID-19 Masuk Rumah Kami

0 , , Permalink 0

Bani ketika tes COVID-19.

Syukurlah, kuda troya itu tak sampai melumpuhkan kami.

Setelah isolasi mandiri selama sembilan hari, Bani tes COVID-19 untuk kedua kali pada Rabu (23/2). Hasilnya, negatif! Kami pun bisa bernapas lega dan kemudian merayakannya dengan dua burger istimewa.

Burger berisi daging sapi itu menemani malam kami yang baru saja bermula, sekitar pukul 8 malam. Kami duduk di luar restoran sambil mengingat ceritanya kembali.

Sepuluh hari lalu, kami berinisiatif konsultasi ke dokter. Bani batuk tak kunjung sembuh. Sebelumnya, dia juga sempat demam. Suhu badannya naik turun. Indra penciuman masih normal. Tidak ada masalah. Namun, karena batuk tak kunjung reda, kami pun berobat ke dokter.

Seperti biasa, karena berobat di tengah pandemi, tidak ada pemeriksaan fisik. Dokter perempuan paruh baya itu hanya bertanya dari tempat duduknya, sementara kami di luar ruangannya. Jarak kami sekitar tiga meter.

Setelah bertanya sekilas tentang sakitnya Bani, dokter itu menyarankan kami untuk tes COVID-19. Kami sebelumnya sudah berniat, tetapi membatalkanya karena lebih baik periksa di dokter umum saja dulu. Maka, begitu dokter menyarankan, kami pun tes antigen COVID-19.

Sekitar 30 menit kemudian, ketika kami baru sampai di rumah setelah tes, Bani mendapat telepon dari lab pemeriksaan. Hasilnya, dia positif. Kabar itu tepat di Hari Valentine.

What a shocking Valentine!

Setelah pandemi terjadi hampir dua tahun, akhirnya salah satu dari kami kena COVID-19 juga. Kali ini pada Bani. Untungnya, sih, gejalanya ringan. Hanya batuk-batuk yang agak keras meskipun jarang.

Selain karena tidak terlalu bergejala, masalah waktu juga yang mungkin membuat kami jadi lebih santai mendapatkan kabar itu.

Malam itu juga Bani segera pindah ke kamar atas. Isolasi sendiri. Kami tidak ingin Bani jadi kuda troya, merujuk istilah Kompas, yang akan membawa virus ini kepada kami.

Kami segera menyiapkan berbagai perlengkapan untuknya. Ember dan gayung untuk mandinya Bani agar terpisah, karena kami hanya punya satu kamar mandi di rumah. Air minum, tisu basah, masker, pembersih tangan, dan lain-lain.

Tak aku sangka, setelah mengalaminya sendiri, ternyata kami masih agak kagok juga menyiapkan isolasi mandiri untuk orang positif COVID-19 ini. Aku pikir karena sudah dua tahun mendengar dan belajar soal penanganan, kami akan terbiasa. Ternyata tidak juga.

Begitu pula dengan urusan administrasinya.

Bunda melaporkan adanya anggota keluarga kami yang positif itu ke Puskesmas wilayah kami. Ternyata, tidak ada juga kunjungan atau sekadar pendampingan sekali pun. Aku kira mereka akan lebih aktif melakukan tracking, tracing, dan treatment seperti jargon selama ini.

Kami jadi mengalami sendiri, penanganan COVID-19 oleh pemerintah ini ternyata mbleh juga.

Kami justru yang kemudian, dengan kesadaran sendiri, melakukan pemeriksaan. Bunda sudah tes lebih awal pada malam bersama Bani karena ada kegiatan lain dengan syarat tes COVID-19. Aku dan adik menyusul besoknya. Alhamdulillah kami bertiga negatif.

Tinggal Bani yang kemudian sepuluh hari. Kami memperketat protokol kesehatan dengan menggunakan masker, sering-sering pakai pembersih tangan, dan mengurangi kontak dengan Bani. Selebihnya, semua berjalan seperti biasa. Sekali lagi mungkin karena tak terlalu ada gejala atau bisa juga karena makin terbiasa dengan pandemi ini.

Semogalah ini juga berarti bahwa pada akhirnya COVID-19 ini memang menjadi penyakit biasa. Penyakit yang tidak membawa kematian bertubi-tubi. Penyakit yang mungkin akan jadi bagian hidup sehari-hari. Sesuatu yang kita akrabi tanpa rasa ngeri.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.