Emak Memang Pergi, tapi Pesannya Abadi

0 , Permalink 0

Oktober lalu menandai setahun kepergian emak.

Setahun berlalu, tetapi ingatan tentang dia selalu membuat mata tiba-tiba panas. Lalu, basah. Air mata menggenang. Dada terasa sesak diikuti tarikan napas panjang bersama isak yang tertahan.

Mengingat emak adalah perjuangan untuk mampu menahan tangis.

Ada rasa berdosa. Tak bisa menemaninya menghabiskan masa tua, seperti dilakukan saudara-saudara lain. Ada juga rasa bahagia. Sebagai anak-anaknya, kami merasa bisa mewujudkan (mungkin) semua mimpi yang pernah kami miliki bersama. Sesuatu yang rasanya dulu begitu muskil kami alami sebagai keluarga.

Ingatan itu kadang-kadang muncul begitu saja, terutama pada dini hari. Ketika malam begitu sepi. Sesekali, dia datang ketika aku dalam perjalanan sendirian. Membayangkan jejak jauh lebih panjang yang pernah kami jalani bersama-sama.

Sebagai keluarga, kami lahir dan besar dalam suasana kekurangan. Di antara empat saudara kandungnya, emak rasanya paling miskin. Begitu pula dibandingkan tetangga-tetangganya. Hidup pas-pasan. Banyak anak. Delapan orang.

Namun, kemiskinan itu rasanya justru menjadi cambuk baginya. Kita boleh miskin harta, tetapi tidak dengan cita-cita.

Dan, dia sungguh-sungguh memperjuangkan cita-cita itu dengan segala upaya. Sebagai perempuan dalam budaya matrilineal, emak tak mau hanya menjadi pelengkap suami. Dia mengambil peran utama: menjadi tulang punggung sekaligus penyala api bagi keluarga.

Dengan punggung ringkihnya menggendong kreneng berisi garam lembut buatannya ke pasar-pasar dan para pelanggan. Berjalan kaki kadang-kadang bahkan sampai 10 km untuk menjajakan garam. Garam dapur yang dia olah sendiri malam-malam. Saat orang lain sedang terlelap, emak berjaga menjaga nyala api, merebus garam kristal dan air laut di blek, lalu meniriskan ketika garam dapur itu sudah berbentuk bubuk kasar.

Dia melakukannya hampir setiap malam. Sesekali membangunkanku dini hari sebelum subuh untuk belajar. Sesekali mengajak sholat Tahajud. Berdoa meminta agar hidup bisa lebih baik atau seremeh temeh berdoa mengharapkan balasan cinta gadis desa tetangga.

Namun, begitulah emak. Dia tak hanya berdoa. Dia benar-benar memperjuangkan cita-cita anaknya. Tidak hanya menemani dan mengingatkan untuk rajin belajar, tetapi juga berani memperjuangkan harapan itu.

Memberikan banyak cerita dan pesan ketika kami bersama-sama jalan di pagi hari menuju desa sebelah. Dia dengan berat garam di punggungnya. Aku dengan berat beban cita-cita di pikiranku. Kami menyusuri jalan singkat dari rumah. Dia bekerja. Aku sekolah.

Kami sarapan di tengah jalan yang rusak dan becek. Menunya hanya sekepal nasi dalam bungkus daun jati. Lauk ikan layang dan sambal. Tiga puluh tahun berlalu, tetapi nikmat sarapan pagi itu rasanya tetap tertinggal di lidah dan ingatan.

Begitu pula dengan semua jejak perjuangannya. Dia yang datang ke ruang guru, meminta izin agar aku bisa tetap diberi kesempatan ikut ujian meski SPP bulanan belum terbayarkan. Dia yang datang sendiri dengan pakaian lusuh dan kreneng di punggungnya setelah bekerja. Dia yang dengan berani meminta kemudahan ke sekolah, sementara aku diam-diam malu melihatnya datang.

Dia pula yang menghadap ke orang terkaya di dusun kami. Meminjam uang untuk bekal anaknya merantu setelah diterima kuliah di pulau seberang tanpa harus ikut tes. Bekal yang justru membuat aku, si anak laki-lakinya, pergi jauh meninggalkan dan sering kali mengabaikannya.

Jarak itu pula yang selalu menjadi alasan anaknya ini untuk tidak siap setiap waktu ketika dia mengharapkan kedatangan dan kehangatan anak-anaknya. Jarak yang selalu menjadi alasan untuk tidak bisa segera pulang ketika emak sakit dan memerlukan perawatan atau sekadar perhatian.

Begitu pula saat dia terakhir kali sakit tahun lalu. Aku hanya sempat sekali bertemu saat dia dirawat di rumah sakit. Menemaninya saat opname, lalu pulang ke rumah. Tak lebih dari tiga hari, kemudian aku balik ke Bali. Tak seperti kakak-kakak yang lebih lama bisa menjenguknya apalagi seperti adik-adik yang tinggal di dusun kelahiran, setia menemani dan merawatnya.

Pertemuan terakhir kami terjadi pada Juli 2020. Emak terbaring lemah di dipan. Aku duduk lesehan di sampingnya. Dia memintaku membacakan surat Ar-Rahman untuknya. Dia, dalam kondisi sakit dan terbaring, khusyuk mendengarkan dan masih mampu mengoreksi beberapa bacaanku yang tak tepat.

Asy-syamsu wal-qamaru bihusban..” Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Sambil membaca ayat demi ayat di ponsel, aku sekalian menyimak makna tiap ayat yang aku baca untuk emak. Entah dia sengaja atau tidak, tetapi ayat-ayat yg aku baca rasanya begitu sarat pesan tentang kehidupan.

Wa aqimul-wazna bil-qisti wa la tukhsirul mizaan..” Dan, tegakkanlah timbangan (neraca) itu dengan adil. Dan, janganlah kamu mengurangi keseimbangannya.

Tentang semesta. Alam. Keberimbangan. Keikhlasan.

Hal jazaa’ ul-ihsaani illah ihsaan..” Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan.

Emak seolah memilihkan pesan terakhir yang lebih mampu menyentuh hati anaknya yang dengan sadar merasa sebagai orang liberal dalam beragama ini. Pesan bahwa beragama tak melulu tentang hubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana berbuat baik untuk sesama manusia dan semesta.

Pesan yang selalu terpatri. Seperti kasih emak itu sendiri. Abadi.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.