Mengajarkan Anak untuk Mandiri sejak Dini

0 , , Permalink 0

Hidup tidaklah bagi kami ketika masih remaja.

Sebagai anak-anak dari keluarga miskin, kami terbiasa hidup melarat dari kecil. Jangankan uang jajan, untuk kebutuhan sehari-hari pun masih kurang.

Namun, kemiskinan justru menempa kami. Sejak masih anak-anak, kami harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sekolah ataupun mendapatkan uang jajan. Ada yang jualan es. Ada yang kerja di usaha meubel. Ada yang angon kambing dan sapi. Ada yang jadi buruh di pasar ikan di kampung kami.

Kami belajar, kemiskinan bukan hanya untuk diratapi, meski kami sesekali tak bisa mengelak dari kenyataan pahit itu. Hal lebih penting, kami harus berusaha sendiri agar kemiskinan tidak menjadi teman akrabmu sepanjang hidup.

Aku ingat bagaimana menuliskan penggalan Surat Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” Ayat itu tertulis di dinding kamar biar aku bisa menjadikannya sebagai pengingat.

Tanpa melewati kondisi seperti itu, aku tak yakin kami belum tentu bisa setangguh seperti saat ini. Jadi orang-orang yang mampu melewati masa sulit dulu. Dan yang lebih penting saling menguatkan sebagai sesama saudara.

Belajar dari masa lalu, aku selalu menekankan sejak awal ke anak-anak kami. Belajarlah untuk mandiri sebagai manusia. Sejak masih anak-anak, lakukan kebiasaan-kebiasaan yang akan menjadi modal sebagai manusia: nyapu dan ngepel rumah, rapiin kamar, cuci piring setelah makan, sampai belajarlah mencari uang sejak kecil. Hal-hal sederhana yang aku yakin berguna kelak dalam hidup mereka.

Sejauh ini sih memuaskan hasilnya. Bani sudah makin rajin bahkan membersihkan kamar kami. Tak hanya kamarnya sendiri. Satori sudah selalu cuci piring sendiri setelah makan. Nah, urusan belajar cari duit sendiri yang agak susah. Kan tidak mungkin menyuruh mereka kerja kasar seperti ayahnya dulu.

Kami kemudian mulai mengajarkan mereka mencari uang dengan apa yang ada di sekitar mereka. Misalnya menjual koran dan barang bekas di rumah. Hasilnya hanya Rp 15.000 sekali jualan, tetapi lumayanlah bagi mereka.

Cara lain yang kami lakukan adalah dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan kami. Pada akhir 2018, misalnya, Bani aku ajak ikut menerjemahkan sebuah materi keamanan digital dari lembaga berbasis di Jerman, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sebagian kecil banget, sih. Hasilnya lumayan. Untuk pekerjaan dua minggu, dia dapat sekitar Rp 2 juta. Dia senang bukan kepalang.

Tujuannya pelajaran semacam itu tak semata untuk cari uang, tetapi melatih dan meyakinkan bahwa mereka punya kemampuan. Mereka harus tahu apa yang mereka bisa dan akan sangat berguna dalam hidupnya. Menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia hanya salah satu contohnya. Karena kami tahu, sehari-hari Bani lebih banyak baca materi dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Ya, kenapa tidak dimanfaatkan saja?

Contoh lainnya tiga hari lalu pas aku kasih pelatihan menulis untuk anak-anak MTs, sekolah Islam setingkat SMP, di Denpasar. Mumpung Bani lagi libur, aku ajak dia untuk kasih pelatihan. Lumayan untuk jadi asisten, tukang pencet keyboard laptop dan tukang potret. Senangnya lagi dia pede sih di depan anak-anak sebayanya.

Hasilnya? Lumayan. Dia dapat Rp 100 ribu, pembagian seimbang dari honor sebagai pembicara selama sekitar 2 jam. Hehehe..

Nah, hari ini menjadi harinya Satori. Sejak dua hari lalu kami berniat membuat pembatas buku (bookmark) dari bekas kardus di rumah. Kemarin kami bikin satu. Hari ini, akhirnya kami benar-benar bikin bersama. Aku yang motong kardus bekas dan isi benang. Dia yang isi gambar. Lengkap dengan cerita dan tanda tangannya.

Kebetulan si adik ini memang senang sekali menggambar figur-figur monster warna-warni begitu. Daripada sekadar gambar, bagus juga untuk dijual.

Kami yakinkan dia bahwa dia bisa menjual bookmarknya. Kasih murah saja, Rp 2.000 per biji. Aku bayar dia Rp 10.000 untuk lima biji. Bunda dapat satu. Biar semangat. Kami unggah karyanya ke Twitter dan Instagram. Eh, pesanan datang kemudian. Dari Om Jong, Om Juli, Tante Iin, Tante Novi, Tante Farah, dan banyak lagi.

Si adik semringah mukanya melihat banyaknya pesanan. Bolak-balik dari kamar ke ayahnya untuk kasih tahu betapa senangnya dia. Tuh kan, Dik. Dibilangin juga apa. Kita bisa kok cari duit dari hobi corat-coret sekalipun. Ayo lanjutkan..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *