Kamu Salah! Lampu Merah Kok Berhenti?

0 , Permalink 0

Suasana masih sepi di perjalanan ke bandara pekan lalu.

Aku berangkat dari rumah pukul 5 pagi menuju Bandara Ngurah Rai. Jam segitu, belum banyak orang bangun. Jalanan masih sepi.

Perjalanan keluar Bali kali ini hanya dua hari. Biar lebih mudah dan murah, aku naik sepeda motor saja ke bandara. Lebih cepat dan hemat juga.

Sepanjang jalan ke bandara, aku hanya sesekali bertemu pengendara lain. Ada yang berpapasan, sebagian lain ke arah sama.

Di salah satu lampu lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, penghubung Denpasar dan Kuta, aku berhenti ketika lampu berubah merah. Karena memang masih terlalu pagi, sekitar pukul 5.30 WITA, hanya ada satu dua pengendara di arah berbeda. Toh, karena lampu lalu lintas memang menyala merah, aku tetap saja berhenti.

Eh, di belakangku kemudian ada yang ngebel. Dia lalu ngebut bablas. WUSS!

Bagi dia, lampu merah tak jadi masalah. Begitu pula satu, dua, tiga pengendara mobil ataupun sepeda motor di belakangku. Dengan cuek bebek, mereka terus saja menerobos ketika lampu masih merah.

Dan, tak masalah. Tak ada tabrakan. Tak ada kecelakaan.

Cuma, aku mendadak takut sendiri. Jangan-jangan aku justru ditabrak karena berhenti di tengah merah. Bagaimana kalau salah satu di antara penerobos lampu merah itu tak terlalu memerhatikan ada pengendara sepeda motor hitam berjaket hitam sedang berhenti di jalanan aspal hitam saat gelap pagi begitu.

Syukurnya tak ada apa-apa. Aku masih duduk dengan manis di atas sepeda motorku saat lampu lalu lintas menyala hijau. lalu, ngeeeeng, tarik melanjutkan perjalana ke bandara.

Sisanya kemudian kegalauan semata.

Ajaaib sekali perilaku berlalu lintas di Denpasar saat ini. Orang patuh terhadap aturan mungkin hanya karena ketakutan pada hukuman, bukan kesadaran demi keterbitan. Orang tertib karena takut atau terpaksa, bukan karena kerelaan untuk menghormati aturan.

Karena itu, begitu tidak ada pengawas semacam polisi, mereka bablas saja tap peduli pada lampu merah.

Pada saat yang sama, hal menyedihkan justru terjadi, orang-orang yang berbuat benar, seperti aku (ehem!) justru merasa takut. Berbuat benar justru berbahaya ketika sebagian besar orang lain dengan gagah berani berbuat salah.

Dalam pekerjaan menjadi jurnalis pun hal serupa terjadi. Mungkin sampai saat ini. Menerima amplop dari narasumber adalah sesuatu yang salah. Dewan Pers sudah menyatakan itu dalam Kode Etik Jurnalistik. Sebagian besar media pun memberikan pernyataan sama di kotak redaksinya.

Wartawan tidak boleh terima amplop, uang transpor, uang bensin, uang terima kasih atau apapun namanya dari narasumber.

Namun, dalam banyak kasus, menolak amplop justru dianggap salah oleh para jurnalis terutama yang biasa menerima amplop. Katakanlah ada di suatu jumpa pers. Wartawan yang tidak menerima amplop mungkin justru akan dikucilkan. Minoritas, seperti halnya dia yang berhenti di lampu merah saat dini hari.

Sebagian wartawan malah bangga bercerita bagaimana mereka dipelihara para narasumber di tempat liputan, seperti kantor pemerintah, kantor DPRD, dan seterusnya. Mereka yang jalannya lurus harus siap dicela atau minimal dicap sok suci.

Begitulah memang. Berbuat hal benar ketika sebagian besar orang justru senang dan bangga berbuat salah memang harus berjiwa besar. Harus bersiap mendapat cibiran sok suci atau pahlawan kesiangan. Kalau tidak ya akhirnya ikut kacrut juga.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.