Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih

Keindahan Pantai Bias Putih memang tersembunyi di antara bukit gersang di Desa Bugbug dan Desa Perasi Kecamatan Karangasem. Kamis pekan lalu, aku harus dua kali lewat untuk menemukan tanda menuju pantai berpasir putih kecoklatan ini. Dari jalan raya Desa Perasi antara Denpasar – Amlapura, ada jalan kecil berbatu dengan tanda panah di bawahnya.

Dari jalan kecil ini, aku harus melewati jalan beraspal seadanya hingga sekitar 1 KM. Di ujung jalan ini pos kecil di depan pura tanpa nama. Tiga orang berbadan kekar menunggu di pos. Menarik retribusi dari orang yang berkunjung. Murah, kok. Cuma seribu perak.

Jalan beraspal ganti dengan jalan berdebu ke arah kanan. Lalu jalan naik turun jelek di antara rimbun pohon kelapa, pisang, dan semak lain.

Hingga di ujung jalan, pantai itu mulai terlihat. Suara ombak juga terdengar. Aah, inilah pantai pasir putih yang lagi naik daun itu. Aku inget Dreamland di Ungasan pada saat aku ke sana pertama kali. Pantai pasir putih di antara tebing-tebing. Hanya ada belasan pengunjung.

Ada tempat berjemur juga! Benar-benar tak kusangka..

Ombaknya sedang. Tidak terlalu tinggi. Tapi cukup asik buat main-main. Beberapa anak kecil asik mandi di antara buih putih ombak di sini.. Bukan hanya turis lokal, beberapa turis mancanegara pun asik mandi, snorkling, atau sekadar berjemur di pantai ini.

Karena keindahan ini, beberapa warga setempat mulai membangun kafe sejak sekitar tahun lalu. Ada sekitar sembilan kafe yang menjual minuman ringan, kopi, juga kacamata untuk snorkling.

Ada bonus. Di antara deru ombak, biru langit, dan putih buih, ada suara rindik. Salah seorang pemilik kafe memainkan selama aku di sana.

Sayangnya, sih mereka kini terancam oleh proyek ambisius pembangunan lapangan golf seluas 124 hektar dengan semua fasilitasnya. “Bukan hanya soal takut kehilangan pekerjaan, saya juga takut atmosfir Bali akan hilang kalau dibangun hotel di sini,” kata I Gusti Ngurah Cakra, pemilik salah satu kafe di sini.

0 thoughts on “Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih

  1. @ arie: ayo. kapan2 kita ke sana rame2.

    @ den: jangan lupa pake kondom. biar ga kemasukan pasir.

    @ dipoetraz: lha, itu di atas gede2? pasti rabun dekat nih.. :p

  2. benar2 indah dan luar biasa…
    ASET PARIWISATA YG SANGAT BERHARGA!!
    mdh2an keindahan dan keaslian pantainya
    tetap terjaga dgn baik…
    agar tidak bernasib sama dgn pantai sanur dan pantai kuta…

    salam bwt semuanya…

  3. semoga pembangunan apapun disepanjang pantai itu, tetap menaati sempadan pantai atau aturan apapun yang berlaku untuk menjaga kelestarian alam.

  4. @ didut: asal bisa dijinakkan, kapitalisme tuh enak banget kok. 😀

    @ john: boleh2. gratis kok.

    @ dek didi: ayooo..

    @ balibuddy: jd silakan ajak tamunya melali ke sana, bli. 🙂

    @ yanuar: kapan2 kita melali rame2 ke sana yuk.

    @ nyoman: sebelum pantai jasri, bli. bedanya jasri kan item pasirnya. ini putih.

    @ nono: salamnya sudah disampaikan pd ombak yg bergoyang. :p

    @ mohammad: amin, mas.

    @ okanegara: lewat laut bisa jg. naik jukung dr sanur. 😀 lewat jalan biasa, dok. nanti pas di desa perasi toleh2 aja di kanan jalan. ada papan yg aku jepret itu.

    @ erick: setuju, rick. hidup kapitalisme! 😀

    @ wira: ga jauh, bli. paling lama 1,5 jam. apalagi jalannya skr mulus. wusss..

    @ ick: asal jangan melalung ya. ntar dicaplok hiu. 😀

    @ blad: kan deketan rumah kita. jd tinggal SMS lalu ke sana bareng bani. hehe..

  5. wogh pantainya menggilakan, jadi pengen mandi ne, sodara-sodara penyu-ku disana ada ngga ya 😀

    setuju ama bro didut, kapitalis emang ganas T_T, kasian ama mereka yang cari nafkah disana, soalnya kemungkinan kan digusur

  6. ternyata dah rame banget..dulu waktu aku ke sana hanya diramaikan oleh nelayan..nelayannya sekarang ke mana bli??
    Kok jalan yang melewati kuburan ga disebutkan??
    salam

  7. @ penyu: kapitalisme selalu memakan korban. makanya daripada jd korban. mari jd kapitalis. 😀

    @ pukukllima: ikuut..

    @ made eka: ya, ka. sekarang rame. tp ntar lg paling tambah rame.

  8. TAKUT ATMOSFIR BALI AKAN HILANG…………???? AH YANG BENER????
    MUNGKIN TAKUT CAFENYA DIGUSUR KALI…. WONG TANAH NEGARA DIJADIKAN CAFE.
    BENER KAN?

  9. gimana nggak mau digusur orang yang punya tanah ,yang ngontrak . lagian kalo mau bikin usaha cari tanah sendiri dong , namanya bukan Gusti ngurah Cakra , namanya I poleng Bungut bengor orang yang suka bohong makanya diberi mulut agak lebih alias po0leng bungut jagul. kalo mau bikin alasan jangan atas nama masyarakat dasar poleng tukang bohong bungut gebuh jagut selem lantang

  10. Sebagai krama purantara Bugbug, senang melihat tulisan ini, hanya jika Pasir Putih jadi berkembang sebagai sebuah Resorts, tentunya Pemerintah Daerah Karangasem dan Desa Pekraman Bugbug maupun Prasi sudah antisipasi dan identifikasi dampak ikutan yang mungkin timbul, sehingga keasrian lingkungan dan budaya setempat tidak tergerus …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *