Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka

23 , , , Permalink 0
Atas nama apa pun, pembangunan selalu melahirkan korban. Begitu juga pariwisata Bali. Di antara gemerlapnya, ada juga suara-suara rintihan mereka yang kalah.

I Wayan Rebo salah satunya. Atas nama pembangunan lapangan golf dan fasilitasnya, petani di kawasan Bukit Pecatu, Kuta Selatan ini harus terusir dari tanahnya sendiri. Dua kali dia masuk penjara karena dianggap melawan Negara. Dia menolak menjual tanahnya. Maka, Rebo dianggap mengkhianati pariwisata, yang sudah kadung jadi mantra sakti di Bali.

Atas nama pembangunan, Rebo harus tersingkir. Dia terusir. Tanahnya dulu kini berganti lapangan golf milik putra mantan diktator di negeri ini.

Tapi lapangan golf di atas bekas tanahnya itu jelas bukan miliknya. I Wayan Rebo hanya berlalu..

Sebaliknya, lapangan golf itu adalah pemisah antara dia dan masa lalu. Ada tembok yang mengelilingi lapangan golf itu. Sekaligus memisahkan Rebo dengan pura keluarganya.

Dulu, Rebo tinggal persis di depan Pura Beten Kepeh. Di tanah itu dia tinggal bersama keluarga besar. Tapi kini, di rumahnya dulu hanya tinggal puing-puing sanggah.

Kini, dia tinggal sekitar 500 meter dari rumahnya dulu. Dari rumahnya, dia hanya bisa melihat luasnya lapangan itu dari balik tembok.

Kalau mau sembahyang, dia harus melewati tembok itu. Menyusuri hijau lembut lapangan gof yang telah menyingkirkannya.

Tak hanya Rebo. Keluarga besar itu pun tercerai berai. Mereka tinggal terpisah di beberapa desa. Maka, tiap odalan di pura selalu jadi waktu untuk bertemu keluarga besar. Odalan di pura Juni lalu, sekaligus waktu untuk reuni dan berbakti.

Foto diambil antara Maret dan Juni 2008.

23 Comments
  • dipoetraz
    July 25, 2008

    *speechless*

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 25, 2008

    *menarik nafas

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    July 25, 2008

    walahhhhhhhhh lagi2 penindasan atas nama pariwisata, maju kena mundur kena !

    ReplyReply

    [Reply]

  • okanegara
    July 25, 2008

    manusia hadir memang untuk mengakhiri segalanya.termasuk jaman,dirinya dan dunia.perang,kerusakan lingkungan,pemusnahan tradisi dan nilai-nilai hidup.ketika pemerintah mengundang sebanyaknya investor untuk membangun pariwisata di Bali, saat itu pulalah semuanya juga mulai terjadi.

    ReplyReply

    [Reply]

  • budarsa
    July 25, 2008

    care nyebit tali, ngamis ke cenik.

    ReplyReply

    [Reply]

  • blad
    July 25, 2008

    miris liatnya…
    gimana ya leluhurnya ngliat mrajan atau pura tempatnya ‘singgah’ ke anak cucu jadi kayak gitu…

    ReplyReply

    [Reply]

  • gussuta
    July 25, 2008

    Aduh kasihan ya……. bli, orang bali sekarang jadi penduduk asing/tamu di daerahnya sendiri, huhuhuhuhuhu…………huhuhuhuhu

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    July 25, 2008

    Semoga Tuhan mengampuni dosa dosa mereka.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gelandangan
    July 26, 2008

    wahhh kira orang bali hampir sama dengan propinsi kaltim yah beli di samarinda 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • nono
    July 26, 2008

    menarik nafas…
    menahan nafas…

    ***
    menghembuskan nafas… (bukan yang terakhir…)

    tersenyumlah… (walau hati ini menangis..)

    ***

    ReplyReply

    [Reply]

  • fenny
    July 26, 2008

    Rebo yang ini sama ga ama yang di Jl. Sesetan itu? warung babi guling Rebo 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    July 26, 2008

    di balipun yg terkenal dgn religinya ternyata msh byk penindasan yg sperti itu yah … napsu manusia memang seringkaali tdk terkendali

    ReplyReply

    [Reply]

  • via
    July 27, 2008

    yang kaya makin jaya
    yang miskin makin terpinggirkan
    tapi lebih baik miskin harta tapi kaya hati daripada sebaliknya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • luhde
    July 27, 2008

    narasi yang bagus. tapi selalu berakhhir menyakitkan

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dimas
    July 27, 2008

    Endonesa… Yang punya uang yang berkuasa 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • agung alit
    July 27, 2008

    Beh, hebat sajan Pak Rebo, contoh kwalitas manusia Bali yang patut dibanggakan dan bilaperlu diberikan award Sloka Institute, karena penoakan atas kehadiran industri pariwisata yang melanggar Hak Rakyat, aku kagum ama orang ini. Untuk Anton thank you atas sharing liputannya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 27, 2008

    resiko ini sih…siapa suruh jadi orang belog dan tidak punya jaringan penguasa.ya belog, terima saja.tidak ada dalam sejarah orang belog bisa maju.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekads
    July 27, 2008

    apa uang selalu bisa mengalahkan segalanya?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    July 27, 2008

    Fyuh, tarik nafas dari sesaknya cerita diatas. Pasti sumpek, penat, marah, sakit pada jaman itu. Perjuangan telah usai, biarlah itu terjadi. Serahkan ke Sang Hyang Widi Wasa. Hasil bibit itu akan menjadi tanaman dan berbuah. Kita lihat saja hasilnya. Semoga pak rebo tabah dan selalu diberikan kekuatan utk tetap positif dan optimis. Amin.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 29, 2008

    @ dipoetraz: *hopeless liat orang speechless. 😀

    @ wira: jangan lupa melepasnya. ntar keselek.

    @ erick: seharusnya tidak perlu sampai menindas.

    @ okanegara: tp tidak harus mengakhiri sesuatu kan, dok. bisa saja dikelola dg lbh bagus. dan kita jg jangan trlalu rakus. *sok arif bijaksana. 😀

    @ budarsa: keto be. ;))

    @ blad: pas leluhur menengok anak cucu, mereka akan ketemu bola golf. 🙂

    @ gussuta: itu yg harus jd introspeksi, bli. semoga kita td trlalu rakus sehingga menjual semua apa yg kita punya.

    @ imcw: mereka yg mana, dok?

    @ gelandangan: apanya yg sama?

    @ nono: *menghembuskan nafas.

    @ fenny: dasar muka babi guling. makanan saja yg dipikir. hwahaha..

    @ didut: di mana2 selalu ada, mas.

    @ via: yoih, jeng.

    @ luhde: ya, mmg gitu akhirnya. gmn dong, bu?

    @ dimas: sepakaaat..

    @ agung alit: tengkiu jg atas sharing pendapatnya. ditunggu sharing pendapatannya.

    @ wira: aha, ini dia blame the victim.. kasih pak rebo. sudah kalah masih disalahin. 🙁

    @ ekads: sptnye begitu..

    @ hendra: amin..

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    August 2, 2008

    commentku hilang nok… heuhuheu

    ReplyReply

    [Reply]

  • hari_bumi
    August 6, 2008

    Penindasan yg mencari pembenaran dg brkedok Pariwisata, kemaren dulu sempet baca ceritanya…pedih rasanya…ketika ia diintimidasi dan dipaksa menjual tanahnya untuk lap golf…sampai yg mengintimidasi adalah pejabat 2 tinggi dikala itu…sebegitu berkuasakah uang? Apakah ini tujuan pariwisata kita? pariwisata saat ini lebih banyak menguntungkan investor dan masyarakat Bali menanggung dampak lingkungannya…ah….mungkin ia adalah salah satu Wayan Rebo yg terexpose media, dan saya percaya masih banyak wayan rebo lain yg telah merasakan ketidak adilan yg mengatasnamakan pembangunan pariwisata…Salut buat pak wayan rebo…dumogi hyang widhi ngicen kerahajengan…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pushandaka
    August 7, 2008

    Pariwisata memang memperbudak bali. Liat aja pilgub kemaren. Gubernur terpilih adalah gubernur kesukaan orang asing (wisatawan).

    Jadi apa-apa harus sesuai dengan kebutuhan pariwisata dan wisatawan. Kebutuhan orang lokal, ntar dulu deh. Padahal blum tentu pariwisata membuat sejahtera orang lokal.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *