Abuan village implementing fair trade system

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar

Ni Nengah Rasa was desperate, to the point she was prepared to sell the property she had just inherited from her late husband to pay the Rp 5 million bill for his cremation.

Men Nengah, as she is known to neighbors in their small village near the Kintamani resort in Bangli, was given six months to pay the debt.

But no matter how hard Men Nengah, 51, worked on her little plot of land, she was never able to save enough money.

Continue reading “Abuan village implementing fair trade system”

Satu Langkah, Satu Kemajuan

Setelah hanya rencana dan rencana, akhirnya sesuatu sudah dilakukan. -cailah, gawat sajan nok-. Hari ini ketemuan dengan beberapa blogger Bali sudah dilakukan. Ini masih rintisan, makanya hanya beberapa orang yang diundang. Idenya sih ya karena memang makin banyak blogger di Bali dan belum ada komunitasnya. Juga karena usul dari beberapa blogger.

Blogger yang datang sore tadi Kang Ayip (ayipbali.com), Prima (anima.dudut.com), Dewi (secret-silence.blogspot.com), dan Ollan. Nama terakhir belum punya blog meski rajin nulis untuk http://www.balebengong.net/. Bli Made Cock (blogdokter.net) yang ketika awal dikontak bilang bisa dateng, ternyata tidak datang juga hingga diskusi kecil itu usai. Petangnya, ketika aku sudah sampai rumah, dia baru SMS dengan nada yang begitu menyesal karena tidak bisa hadir. HP-nya ketinggalan di rumah dan dia lupa kalau ada janji ketemuan. Sing ken-ken, Bli.. Continue reading “Satu Langkah, Satu Kemajuan”

Anda Bertanya, BaleBengong Menjawab

Apa itu BaleBengong?

BaleBengong adalah portal yang dibangun untuk sebagai tempat berbagi informasi apa saja tentang Denpasar maupun Bali pada umumnya. Situs ini dikelola secara partisipatif oleh siapapun yang peduli dan ingin berbagi informasi tersebut. BaleBengong sekaligus bagian dari upaya mewujudkan jurnalisme warga di Denpasar maupun Bali.

Apa itu jurnalisme warga? Continue reading “Anda Bertanya, BaleBengong Menjawab”

Jurnalisme Warga adalah Jawabannya

Siang ini kami berdiskusi di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di Jl Melati Denpasar. Ada sekitar –aduh, kok lupa ngitung ya?- 15 orang yang datang. Kecuali dua project officer (PO) KPA Bali, semuanya alumni Klinik Jurnalistik, pelatihan jurnalistik bagi aktivis penanggulangan AIDS di Bali.

KJ sudah diadakan dua kali pada Agustus tahun lalu dan April tahun ini. Tujuannya melatih kemampuan dasar jurnalistik bagi mereka agar lebih mudah menyampaikan isu-isu HIV/AIDS lewat media. Aku sendiri bantu mendesain pelatihan sekaligus fasilitator. Ketika pelatihan sih pada semangat. Meski ngerjain tugas sampai dini hari, mereka masih juga semangat. Continue reading “Jurnalisme Warga adalah Jawabannya”

Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah

Setelah terus ngeles dari istri, akhirnya malam ini aku ke dokter. Dengan bersweater untuk menutup dingin udara malam itu –alah, ini kayak bikin puisi- aku ke rumah sakit tak jauh dari rumah, dan pasti murah meriah: Bhakti Rahayu.

Batukku makin menjadi. Sudah tiga mingguan ini batuk tak sembuh-sembuh. Padahal sudah minum obat. Pernah sih berhenti sebentar. Tapi Kamis pekan lalu mendadak kumat. Malah badanku panas. Kepala juga pusing banget. Continue reading “Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah”

Menikmati Free Hotspot

Akhirnya, dapat juga aku free hotpsot di Denpasar. Setelah hanya denger-denger dari teman, sore ini bisa juga menikmatinya.

Free hotspot ini ada di Tiara Gatsu. Ketika berangkat sih terasa agak jauh dari rumah. But sebenarnya tidak juga. Rumahku di daerah Lumintang, Tiara Gatsu di ujung Jl Gatot Subroto Barat. Ya, kurang lebih 10 menitlah ke sini.

Begitu sampai Food Court, buka laptop, nyalain wireless, cari jaringan, dan JRENG! Dapatlah kita berselancar gratis. Kalau muka badak, silakan duduk saja di kursi meja food court tanpa beli apapun. Tidak bakal ada yang datang lalu mengusir kita. Kalau agak malu dikit, ya beli teh anget atau kopi secangkir cukuplah.

Sayangnya sih aku belum bisa menikmati sepuasnya. Soale, istriku yang sudah duluan kapling dari rumah. J Aku ya kebagian momong Bani. Daripada cerai gara-gara rebutan online kan? 🙂
Jadi ya tunda saja ngenet sepuasnya di sini. Kapan-kapan saja balas dendam sepuasnya. [+++]

Bali farmer discovers benefits of going organic

– July 20, 2007

Anton Muhajir, Contributor, Tabanan

When I Gede Hanjaya’ wife Franziska Rapp was suddenly diagnosed with breast cancer, her doctor suggested she undergo surgery and avoid foods with chemical additives.

Hanjaya, a successful garment manufacturer, changed his life to do so. Leaving his business, he developed an organic farming site in his hometown of Tabanan regency, around 70 kilometers west of Denpasar.

“I wanted to produce healthy food for my family,” he said.

For the last 10 years, Hanjaya and his family have consumed fresh, chemical- and pesticide-free produce, with good results.

Continue reading “Bali farmer discovers benefits of going organic”

Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar

Seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah. [Pepatah China]

Begitu pula blog www.balebengong.net. Dia lahir dari kegelisahan. Kok sepi sekali suara dari Denpasar (dan Bali) kalau diskusi tentang hiruk pikuk dunia maya maupun jurnalisme warga? Padahal, setahu saya, makin banyak blogger di Denpasar dan banyak pula kabar yang bisa dibagi lewat dunia maya melalui jurnalisme warga.

Maka, sesuatu harus dilakukan. Sebab, ide tanpa aksi hanya jadi mimpi. Lahirlah http://thebalebengong.blogspot.com sebagai sebuah rintisan. Meski hanya rintisan, ide ini mendapat apresiasi dan dukungan semangat maupun tulisan dari Pak Darma Putra dan Kang Arief Budiman. Mereka berdua memberi saya keyakinan bahwa membuat portal jurnalisme warga bukanlah sesuatu yang mustahil. Terima kasih, Pak Darma dan Kang Ayip.. Continue reading “Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar”

Thank Google, Bukan Thank God!

Selesai rapat editing Laporan Populer kantor, Pak Imam, bos di bagian saya minta tolong. “Minta Pak Tut untuk cari buku tentang tanaman konservasi. Setahuku di sana ada soal nama latin kaliandra,” katanya. Kaliandra adalah tanaman untuk konservasi tanah. Di laporan populer belum ada nama latinnya. Kami harus memberi nama latin agar orang lain juga tahu.

Saya pun ke bagian depan mencari Pak Tut yang salah satu tugasnya menjaga perpustakaan. Dia segera mengetik kata kunci “Konservasi” di komputer untuk mencari buku yang saya maksud. Hasilnya: tidak ada dokumen yang cocok. Kami coba pakai kata kunci lain: pertanian, lahan kritis, dan beberapa kata lagi. Hasinya terlalu banyak. Abaikan saja. Continue reading “Thank Google, Bukan Thank God!”

Ironi MDGs Ironi Saya Juga

Kami berada di ruangan dingin ber-AC di kawasan Kuta, tempat di mana banyak bule berjemur mencari panas di pantai. Ketika baru masuk ruangan, beberapa orang malah minta agar AC dimatikan karena saking dinginnya.

Maaf, saya mungkin agak kuno. AC bagi saya masih merupakan simbol kemewahan. Di rumah kami di pinggir Denpasar Utara misalnya, saya dan istri lebih memilih membuat jendela sebanyak-banyaknya dan rumah seterbuka mungkin agar tidak perlu AC. Kalau nebeng mobil teman, saya lebih suka membuka jendela dari pada menghidupkan AC. Selain udaranya lebih segar, kalau pakai AC juga bikin pusing. Pengen muntah. Sekali lagi maaf. Kami memang ndeso. Continue reading “Ironi MDGs Ironi Saya Juga”