Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

24 , Permalink 0
Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Di Bandung, cewek seksi di jalanan bukan sesuatu yang langka. Kaos dan baju ketat di tubuh putih dan ramping jadi sesuatu yang biasa. Dan, bagiku, cewek-cewek itu memang berniat banget tampil menarik. Cewek Bandung benar-benar peduli penampilan. Cewek Bandung benar-benar memenuhi standar kecantikan umum seperti iklan: rambut hitam lurus, kulit putih, tubuh ramping, bibir merah bergincu, dan seterusnya.

Ada tiga kejadian yang menguatkan stereotip itu. Pertama pas aku jalan-jalan ke Pasar Baru. Ketika baru masuk pasar yang menjual aneka rupa ini, aku kaget bukan kepalang melihat buanyaknya orang antri di toko kosmetik. Dari ABG, tante, hingga ibu-ibu pakai jilbab meluber antri beli alat dan bahan kecantikan itu. Aku geleng-geleng kepala saja..

Kedua pas di angkot dari jalan Dago ke arah jalan Asia Afrika. Seorang ibu masuk bareng anaknya. Umurnya antara 30-40 tahun. Dia duduk persis di sebelahku. Ketika di jalan dia buka tasnya. Karena dekat banget denganku, jadi ya aku bisa melirik isi tas ibu itu. Dan, isinya memang banyak banget alat kecantikan. Hmm..

Terakhir, ketika di bis dalam perjalanan Bandung โ€“ Bandara Soekarno Hatta. Cewek di kursi satu baris denganku, PD banget ketika mengeluarkan alat perangnya. Lalu, tanpa ba bi bu, berdandan di bis yang mulai masuk Jakarta itu. Dia berbahasa Sunda ke cowok teman seperjalanannya. Jadi ya, ini makin menguatkan stereotip itu tadi.

Nah, di bis yang sama itu pula ada cerita lucu yang baru aku tahu. Bapak di kursi 19, persis di sebelahku, ngobrol tentang bagaimana laki-laki Bali tertawan di Pasundan, bahasa lain dari Sunda. Menurut bapak yang tinggal di Denpasar dan Bandung, jadi harus sering bolak-balik Denpasar Bandung, itu sekitar 50 persen laki-laki Bali menikah dengan perempuan Sunda di Bandung.

โ€œSoalnya kalau di Bali susah cari cewek cantik. Tidak seperti di Bandung,โ€ katanya sambil tertawa. Aku sih nyengir saja.

Tapi ya karena cewek Bandung seksi-seksi, maka mereka juga rentan jadi korban. Ini juga terserah pada sudut pandang mana yang kita gunakan. Korban laki-laki hidung belang tentu saja. Tapi ini sih tidak hanya di Bandung ya. Hehe.. tapi sepertinya cari cewek di Bandung lebih mudah dan terbuka begitu.

Temanku sesama peserta pelatihan yang dari Manado punya cerita. Malam kedua dia di Bandung, dia ditawari untuk pijat oleh pihak hotel. Ridho, teman sekamarku juga mengaku begitu. Tapi karena Ridho ini sepertinya tipe lelaki baik-baik, makanya dia menolak. ๐Ÿ˜€

Kalau teman yang dari Manado sih bilang dia akhrinya pijat. Tarifnya Rp 150 ribu per dua jam. Untuk pijat spesial sampai Rp 800 per dua jam. Karena mahal, dia bilang dia tidak jadi pijat plus-plus itu.

Berdasarkan pengalamanku di beberapa kota, hal kayak gini sebenarnya termasuk susah. Ketika aku di Makassar, Ambon, Jakarta, Yogyakarta, atau Semarang, misalnya, aku belum pernah sampai ditawarin pijat plus-plus begitu secara verbal. Di salah satu hotel di Solo malah dengan tegas ada larangan membawa pasangan yang bukan muhrim. Ehm! Eh, di Bandung sepertinya mudah banget.

Pas aku di hotel melati di daerah stasiun, dengan malu-malu temanku bilang. โ€œSori ya, Ton. Aku pijat dulu,โ€ katanya. Seorang cewek berpakaian seksi sudah berdiri di depan pintu kamarnya ketika itu. Mereka masuk. Lalu aku kabur cari hotel lain. Semula aku memang hendak satu kamar sama dia. Tapi karena aku takut tidak bisa menahan iman, jadi ya aku kabur saja. Cari hotel lain saja.

Eh, di hotel lain juga patuh dogen. Pas aku baru masuk kamar, pegawai hotel juga tanya ke aku apakah aku butuh tukang pijat apa tidak. โ€œTukang pijatโ€ sepertinya memang jadi bahasa kunci dalam bisnis esek-esek di mana saja, termasuk Bandung. Aku menolak. Aku pilih tidur saja. Eh, habis itu datang lagi pegawai yang lain menawarkan hal yang sama. โ€œKalau mau, yang manis juga ada,โ€ rayunya.

Tidak ah. Aku tidur saja. Tapi sebelum tidur, aku mikir juga. Jangan-jangan hotel kecil dan jelek itu memang sering jadi tempat mesum.

Eh, pas pagi-pagi mau cabut dari hotel, aku kaget setengah mati. Kaligrafi surat Al-Fatihah, surat Yasin, serta simbol-simbol religius dalam abjad Arab memenuhi lobi hotel itu di lantai dua. Aaaah, ternyata..

24 Comments
  • Arie
    April 22, 2008

    *diakhir cerita*
    ternyataaa kenapaaaa Pak De ?? daku ing mengerti ne *garuk garuk kepala – oon*

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    April 22, 2008

    emang cwek bali gak cantik2 ya pak? banyak kok kalo emang mo cari yang cantik gak usah jauh2 ke bandung ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    April 22, 2008

    makanya ada istilah Bandung lautan api, karena ceweknya hot-hot alias panas panas seperti api ๐Ÿ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 23, 2008

    @ arie: ya, ironis saja sih. ayat2 agama di tempat yg menawarkan tukang pijat plus2. ๐Ÿ™‚

    @ ghozan: cantik itu relatif, pak. tergantung yg liat sih. yg lebih penting mau apa tidak sama kita. ๐Ÿ˜€

    @ devari: yoih. jangan2 perang di bandung dl jg karena rebutan cewek. ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • paramarta
    April 23, 2008

    mimih… sekenne? kalo saya dibandung ndak perlu kayaknya pasang tarif tuk buat baik… nyanan pasti si cewek bakalan balas jasa… ๐Ÿ˜†

    sik-asik2

    ReplyReply

    [Reply]

  • budarsa
    April 23, 2008

    Kaos dan baju ketat di tubuh putih dan ramping …

    entah kenapa pikiran ini langsung menerawang jauh …

    ReplyReply

    [Reply]

  • novan
    April 23, 2008

    selama kurang lebih 4 taun di bandung, 90 sekian persennya itu emang ce cantik, jarang lah liat ce yg ga cantik, cuman ya itu…dari sekitar 90 sekian persen tidak semuanya berhati cantik ๐Ÿ™‚ cukup lah nikmati dengan mata saja ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • huda
    April 24, 2008

    Kalo soal dandan, waria Bandung juga jago-jago, begitu laporan Mbambang… hehehe….
    Tapi kamu nggak ditawari pijit ala waria kan Ton? sesekali coba deh, kan nggak papa sesama lelaki muhrim. :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • hahaa
    April 25, 2008

    Ton, di Pasundan yang pandai berias tak hanya perempuan. Kawan-kawan waria juga jago lho, kalo nggak percaya tanya Bambang deh, hehehe….

    Nah, kalo takut pijit ama perempuan karena bukan muhrim, ama waria aja kan sama-sama lelaki, :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 25, 2008

    Saya mau headbang ah di blog nya bli anton!

    ** Liat gambar sebelah! ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 25, 2008

    eh, berhasil ga ya headbang nya? wkwkkw.. sorry nyepam bli! Tapi jeg tulisannya bli anton jeg top!

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @ paramarta: whaaa, kalo soal tarif buat cowok, di bali lbh mahal, bli. pake dollar. ๐Ÿ˜€

    @ budarsa: bayangin siapa, bli? aming? :p

    @ novan: ah, itu sih karena tidak ada yg mau sama kamu aja, van. makanya bilang mereka tidak baik hari. ๐Ÿ˜€

    @ huda: kalau mas huda jd warianya, aku mau dah. ora usah bayar tangan. ๐Ÿ˜€

    @ imsuryawa: pokoke headbang dan komentar bli suryawan jeg top sajan. ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • eL
    April 29, 2008

    Terimakasih masih menganggap tidak semua perempuan sunda seperti itu even I’m not a sundanese, but I live here dan sangat terganggu dgn pendapat ini.
    kalau diliat dari stereotip-nya mang bener apa yg dibilang, tp nggak cm perempuan sunda, tiap perempuan pasti ingin selalu tampil cantik, cm kebetulan perempuan sunda lebih berani dan tentunya didukung dgn ciri fisik yg “diatas rata2” daerah lain.

    ReplyReply

    [Reply]

  • putu_arya
    April 30, 2008

    Waduh mas anton ceritanya unik banget. Saya inget dulu pas saya lomba di bandung, kepala saya sampai pusing ngelihatin cewek-cewek di bandung. Bahkan yang ngejaga warung pinggir jalan yang notabene cuma ngejual rokok aja cantiknya bukan main. (he3 just another story)

    ReplyReply

    [Reply]

  • lingga
    May 9, 2009

    halow … sedikit info… bahwa di bdg ada jg hotel seperti yg di solo itu… bisa intip webnya http://www.linggahotel.co.id.. makasiy…

    ReplyReply

    [Reply]

  • aremaboy
    June 15, 2009

    bener banget pak… saya pengalaman pas lagi tugas workshop di bandung, saya menginap di aston cihampelas… pas makan malam saya ke McD di samping hotel. niatnya cari makan, maka pakaian seadanya, eh di seberang tempat duduk saya ada 2 cewe yang lumayan muda, sekitar 20-22 an…cekikian kadang ngelihat saya, karena iseng, saya coba beradu mata agak lama…eh…disamperin!!
    waduhh…saya ga ngira bakal seberani itu…
    trus dia nanyain kok saya sendiri…
    ya saya jawab, temen2 pada ke ciwalk duluan, tadi saya masih maen fesbuk di hotel, mumpung wifinya gratis…hehe…
    uwya, 2-2nya lumayan cantik, tapi yg menggoda saya adalah bagian bawah leher, terlihat begitu bulat…heheh…
    setelah itu ngobrol2 ngalor ngidul…dan ujung2nya ngajakin saya maen ke kostan mereka, ternyata mereka mahasiswa STIE mana gitu, mereka jg ga bilang jelas…
    iseng…saya ikutin mereka, pakai taksi (saya yg bayar pastinya)… dan 25 menit kemudian sampai di daerah agak gelap yang saya ga tau itu dimana… tapi seingat saya jalannya naik terus dan melewati cibeunying… kalo ga salah perumahan dosen…
    nah yang kiri namanya sasha, yg kanan saya namanya dewi… kayanya sih nama samaran…hahaha…
    yang kanan begitu tau saya kerja di pertambangan, mulai agresif tuh…(10 menit kemudian sensor)… lalu saya sampai di kost mereka…ternyata memang kost mahasiswa, campur pula…
    Esoknya saya baru sadar kalo sudah dihabisi mereka berdua…(disensor dunk)…hehehe…
    lalu saya balik lagi ke hotel jam 8 pagi, dan ketinggalan workshop yang mulai jam 7.30…hueheh….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Unang cicalengka
    March 8, 2010

    Cewek sunda itu rata2 gampangan, sudah rahasia umum. Case closed.

    ReplyReply

    [Reply]

  • sastro
    April 13, 2010

    wah aya aya wae kang mas iki pengalamaneeeeeeeee

    ReplyReply

    [Reply]

  • Regina
    February 21, 2013

    Tes

    ReplyReply

    [Reply]

  • Regina
    February 21, 2013

    Wanita cantik ada di semua suku.

    200 orang artis wanita terpopuler Indonesia :

    78 orang etnis Jawa,
    32 orang etnis Sunda,
    16 orang etnis Minang,
    15 orang etnis Tionghoa,
    13 orang etnis Melayu,
    12 orang etnis Manado,
    11 orang etnis Sulawesi,
    10 orang etnis Batak,
    13 orang etnis Aceh-Betawi-Kalimantan.

    Artis etnis Jawa asli bukan keturunan suku apapun : Diana Pungky, Renata Kusmanto (Ponds-Vaseline), Dian Sastrowardoyo (Loreal), Ashanty, Dhini Aminarti, Girindra Kara, Tiara Lestari, Diah Permatasari, Kirana Larasati, Ririn Dwi Ariyanti, Anneke Jodi, Ratna Galih, Five Vi, Lia Ananta, Shinta Bachir, Nabila Putri, Sara Wijayanto, Ine Febriyanti, Asty Ananta, Kinaryosih, Ardina Rasti, Aryani Fitriana, Sissy Priscillia, Cindy Fatika Sari, Astrid S, Widy Vierra, Nova Rini, Dewi Noor Kumalasari, Endhita W, Della Puspita, Ratna Listy, Krisdayanti, Kristina, Ayu Dewi, Maia Estianti, Dewi Persik, Anggun C. Sasmi, Nina Warna, Prita Laura, Indah Kirana, Tia AFI, Venna Melinda, Maya Septha, Yuni Shara, Mayangsari, Gracia Indri, Rini Wulandari, Citra Skolastika, Enno Lerian, Vicky Shu, Millane Fernandez, Sigi Wimala, Tasya Kamila, Dian Khrisna, Dhea Ananda, Indah Indriana, Vonny Kristianda, Indah Ayu Putri, Auxilia Laksmi. Putri Indonesia : 2004 Artika Sari Devi, 2006 Agni Pratistha, 2007 Putri Raemawasti, 2011 Maria Selena.

    Artis etnis Jawa-Eropa : Carissa Putri (Eropa-Jawa), Luna Maya, Wulan Guritno, Inneke Koesherawati, Deasy Bouman, Sheila Marcia, Nabila Putri, Jessica Mila, Paula Verhoeven, Alexandra Gottardo, Tyas Mirasih, Rebecca Reijman, Angelica Faustina. Putri Indonesia :2005 Nadine Chandrawinata, 2010 Nadine Alexandra.

    Wanita cantik Sunda ada di Bandung.

    Wanita cantik Jawa ada di Jakarta-Surabaya-Semarang-Solo-Yogyakarta-Malang

    ReplyReply

    [Reply]

  • wahyu doni
    May 10, 2013

    Stigma seperti yg jelek dan yg bagus cuma konon ajja kalo emang seperti itu mungkin tidak usah melibatkan suku. toh semua suku juga pasti mempunyai latar belakangnya .

    ReplyReply

    [Reply]

  • Abdul
    September 6, 2014

    Saya orang Bandung lagir dan Hidup di Bandung, Lihat cewek sunda biasa2 saja. Malah saya kira lebih cantik cewek2 daerah lain

    ReplyReply

    [Reply]

  • dwarf
    September 3, 2015

    Dibutuhkan banyak LC / Spa

    **fee&tipp**

    ยป Gold
    (Fee 300rb/voucher & min tips 300)
    ยป Platinum
    (Fee 500rb/voucher & min tips 500)

    Kriteria :
    โ€ขTinggi min 158cm
    ยป Cantik / Goodlooking
    dan bb proporsional
    โ€ขbisa minum yg berkohol untuk lc.

    Bagi yang ada kenalan teman / saudara yg mbutuhkan dan srius kerja silahkan invite
    bbm: 580F9DC7. Di cari yang tidak setengah 2 pada saat hari H panggilan kerja. thanks.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Rio
    September 22, 2015

    ga gitu gitu amat kali… kalau soal protitusi dimanapun sama, cuman emang di Bandung lebih cantik cantik ga spt daerah lain jelek jelek…menemukan gadis cantik di Bandung spt meneukan kerikil di pinggil jalan….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *