Selain Egois, Mereka juga Sinis

Merasa sebagai borjuis, orang Perancis malas bicara dalam Bahasa Inggris.

Karena ingin tahu di mana tempat lain untuk membeli tiket, aku bertanya pada petugas di stasiun Gaellani, Paris bagian barat pagi itu. Dia menjawab dalam bahasa yang tak ku mengerti. Dari dialeknya, aku yakin itu Bahasa Perancis. Ini toh juga di Paris.

Aku mengajaknya bicara dalam Bahasa Inggris. Dia tetap saja ngomong dalam bahasa yang tak kumengerti itu. Karena aku tak mengerti apa maksudnya, dan dia juga tak mau diajak ngomong Bahasa Inggris, aku lalu pergi mencari sendiri tempat membeli tiket itu.

Continue reading “Selain Egois, Mereka juga Sinis”

Menjadi Tikus Keliling Paris

Bergaya di Menara Eifel

Bermodal 4,5 euro, kami keliling Paris dari bawah tanah. Sayang, karcis dan bukuku hilang.

Begitu keluar dari stasiun metro di kawasan Museum Leuvre Sabtu pekan lalu, kami semua langsung girang bukan kepalang. Persis di depan kami berdiri museum tempat menyimpan lukisan Monalisa karya Leonardo di Vinci itu. Kami semua berseru kompak, “Waaaoow..”

Bagian museum yang kami lihat pagi itu tingginya sekitar 10 meter. Bangunan ini awalnya adalah benteng. Karena itu bentuknya seperti kotak raksasa dengan ukiran-ukiran di bagian depan yang sangat detail. Warnanya dominan putih susu.

Continue reading “Menjadi Tikus Keliling Paris”

Tak Semua Informasi Layak Dipercaya

Dunia maya adalah belantara tempat jutaan informasi terserak. Jika tak hati-hati memeriksa, kita mudah tersesat di dalamnya.

Maka, kita perlu memeriksa, memeriksa, dan memeriksa lagi tiap informasi yang kita peroleh dari internet. Salah satunya dengan melihat sejauh mana sumber informasi, blog maupun website, di internet itu bisa kita percaya.

Continue reading “Tak Semua Informasi Layak Dipercaya”

Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan

Senin, 3 Mei ini minggu kedua bagi kami di Hilversum, Belanda. Kami, 18 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sedang mengikuti kursus New Media for Independent Journalism di Radio Nederland Training Centre (RNTC) di kota berjarak sekitar 25 km selatan Amsterdam ini. Kursus yang diadakan AJI Jakarta dan Neso Indonesia ini pada 26 April hingga 14 Mei 2010.

Bagiku, tugas-tugas kursus makin hari makin menarik. Hari ini, misalnya, kami mendapat tugas untuk mengambil foto dan -kemudian- video di kawasan Radio Nederland Worlwide (RNW). Aku bersama Komang Wahyu Dhyatmika, wartawan TEMPO yang juga Ketua AJI Jakarta, dalam satu kelompok.

Continue reading “Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan”

Oalah. Ternyata Sumba Itu…

Tiap kali mendengar nama Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terlintas di kepalaku selama ini adalah pantai. Tidak tahu juga. Mungkin karena beberapa teman pernah bercerita soal ombak di sana yang bagus untuk selancar. Setahuku, turis juga suka datang ke pulau ini untuk menikmati ombaknya.

Maka, ketika akhirnya aku ke sana Rabu lalu, aku masih mikir soal pantai ini. Aku bayangkan akan bisa tinggal di dekat pantai menikmati deburan ombak. Lalu, pada pagi harinya bisa liputan. Kalau ini yang terjadi maka akan jadi kombinasi yang tepat antara bekerja dan jalan-jalan.

Tapi, apa yang aku alami ternyata jauh dari yang aku bayangkan.

Continue reading “Oalah. Ternyata Sumba Itu…”

Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditi

Free Beer for Serene Nyepi

Spanduk di depan Circle K Jalan Letda Made Putra Denpasar menarik perhatian kami, Sabtu akhir pekan lalu. Saat itu aku, Bunda, dan Bani sedang melintas di depannya. Spanduk itu mempromosikan bonus satu botol untuk setiap pembelian satu kardus bir Bintang. Dia menarik  perhatian kami karena menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi.

“Happy serene Nyepi celebration with Circle K, buy one cartoon get one bottle,” tulis Circle K di spanduk dan poster tersebut.

Continue reading “Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditi”

Kenapa Mereka Harus Ditembak Mati

Pertanyaan sama selalu muncul di kepalaku ketika melihat tersangka, ingat ini baru tersangka, teroris ditembak mati oleh polisi. “Kenapa sih mereka harus ditembak mati?”. Meski sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati, aku bisa memaklumi ketika yang ditembak mati adalah Amrozi CS atau siapapun yang terbukti di pengadilan memang bersalah.

Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang status hukumnya belum jelas tapi sudah ditembak mati? Mereka ini baru disangka sebagai teroris. Belum jelas apa kesalahannya. Belum jelas kejahatan macam apa yang mereka lakukan. Belum jelas apa perannya. Lalu, polisi sudah menembak mereka. Mati.

Continue reading “Kenapa Mereka Harus Ditembak Mati”

Pak Menteri, Perbaikilah Koneksi Internet Kami

Pelatihan Blog Pelajar se-Bali

Pagi ini aku baru memastikan, semua tempat pelatihan blog kami mengalami hambatan yang sama: koneksi internetnya lelet setengah mati. Ini yang mengacaukan pelatihan kami.

Minggu kemarin, Pelatihan Blog Pelajar SMA/SMK se-Bali diadakan serentak di tiga kabupaten di Bali. Kegiatan ini merupakan kerjasama Bali Blogger Community (BBC)Pers Mahasiswa Akademika Universitas UdayanaSloka Institute. Pelatihan dasar blog ini diadakan di seluruh kabupaten/kota di Bali yaitu Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Jembrana, Buleleng, Bangli, Klungkung, dan Karangasem dalam dua gelombang.

Continue reading “Pak Menteri, Perbaikilah Koneksi Internet Kami”

Agar Rasa Bisa Bercerita

Tak ada makan siang gratis. Begitu pula dengan traktiran untuk Tulank dan Intan sore tadi. Setelah bagi-bagi gaji dan honor di kantor siang hari, sorenya kami makan bersama di kafe Warung Taji di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Lina PW yang ada di Sloka juga kami ajak. Karena dia bawa kamera, dia kebagian tugas moto-moto.

Sementara itu Tulank dan Intan, kami minta untuk menulis pengalaman bersantap di kafe penyedia menu Italia dan Jepang ini. Gara-gara meminta mereka untuk menulis kuliner itu, aku jadi inget ide lama untuk berbagi pengalaman menulis topik yang masuk kategori berita ringan (soft news) ini.

Continue reading “Agar Rasa Bisa Bercerita”

Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi

Ketika pertama kali dikasih tahu Lode, istriku, aku tak terlalu peduli. “Kok bisa sih kamu pakai RBT BCL,” katanya. RBT singkatan dari ring back tone, nada tunggu yang terdengar si penelpon jika dia menelpon kita. Kalau RBT normal yang terdengar adalah suara panjang, tuuut, maka dengan adanya RBT tersebut suaranya akan berganti.

Adapun BCL singkatan dari Bunga Citra Lestari, model yang juga penyanyi dan artis sinetron. Sukses jadi bintang shitnetron, eh, sinetron, BCL kemudian ikut menyanyi dengan lagu yang bertema sendu. Kecantikan BCL sih memang jelas masuk selera semua orang. Tapi lagunya, aduh, nanti dulu. Aku jelas tidak suka dengan lagu-lagunya.

Continue reading “Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi”