Belasan polisi bersenjata lengkap menyambut di jalur antar-negara.
Aku dagdigdug berjalan ke arah mereka. Wajah Asia sepertiku, meskipun mungkin bukan kategori yang harus diwaspadai, tetap saja adalah wajah-wajah asing bagi polisi-polisi di Paris.
Karena itu, aku tidak lagi pura-pura iba termasuk kepada lelaki yang berjalan agak pincang itu. Tidak juga berbaik sangka meskipun dia tersenyum manis menyambutku masuk kereta.
Paris adalah ironi. Ini mungkin generalisir berlebihan. Tapi, itulah yang aku simpulkan.
“Are you speak English?” tanya seorang perempuan paruh baya padaku ketika kami baru saja sampai di depan Notre Dame, Paris, Sabtu lalu. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memberikan kartu pos padaku.
Bermodal 4,5 euro, kami keliling Paris dari bawah tanah. Sayang, karcis dan bukuku hilang.
Begitu keluar dari stasiun metro di kawasan Museum Leuvre Sabtu pekan lalu, kami semua langsung girang bukan kepalang. Persis di depan kami berdiri museum tempat menyimpan lukisan Monalisa karya Leonardo di Vinci itu. Kami semua berseru kompak, “Waaaoow..”
Bagian museum yang kami lihat pagi itu tingginya sekitar 10 meter. Bangunan ini awalnya adalah benteng. Karena itu bentuknya seperti kotak raksasa dengan ukiran-ukiran di bagian depan yang sangat detail. Warnanya dominan putih susu.