Maksiat itu di Pikiranmu, Sobat

“mikir-mikir lagi kalau mau ke #bali. terlalu banyak mudharatnya.”

Begitu kicauan (tweet) salah seorang pengguna twitter di akunnya sekitar tiga hari lalu. Aku menemukannya di antara ratusan kicauan dengan hash tag #bali. Kicauan itu langsung menggelitik pikiranku soal ironi turis domestik di Bali.

Continue reading “Maksiat itu di Pikiranmu, Sobat”

Agar Tulisan Kita Bisa Dipercaya

Percayalah sama status Luna Maya di twitter daripada infotainmen.

Sebab, status Luna Maya di twitter adalah pernyataan resminya sedangkan infotainmen merupakan tafsir mereka terhadap status itu. Luna Maya adalah sumber pertama, infotainmen sumber kedua.

Continue reading “Agar Tulisan Kita Bisa Dipercaya”

Lagi-lagi Perempuan jadi Kambing Hitam

Kenapa sih harus perempuan yang selalu dijadikan kambing hitam?

Pertanyaan itu langsung muncul di pikiranku setelah ngobrol dengan pembina, sekaligus penari, sendratari di Pesta Kesenian Bali (PKB) pagi tadi. Sendratari selama sekitar satu jam itu menceritakan dua bersaudara laki-laki, yang pada awalnya akur tapi kemudian berantem gara-gara merebutkan perempuan cantik.

Continue reading “Lagi-lagi Perempuan jadi Kambing Hitam”

Cepat Saji Tak Selalu Bikin Ngeri

Para remaja itu terus saja mengatakan, fast food itu buruk terhadap kesehatan. Lha, bagaimana kalau fast food itu pakai bahan organik?

Mereka mengatakannya ketika ditanya juri dalam seleksi remaja Duta Pangan Sehat VECO Indonesia, Sabtu ini. Ada 16 remaja yang ikut tahap final ini. Dari 16 itu, separuh di antaranya akan dipilih sebagai duta tersebut. Totalnya akan ada 12 remaja. Empat remaja lain diseleksi dari Boyolali dan Solo.

Continue reading “Cepat Saji Tak Selalu Bikin Ngeri”

Menanti Sajian Khas Negeri Sendiri

Garuda Indonesia harusnya lebih banyak menyediakan menu khas negerinya sendiri daripada menyuguhkan roti.

Karena belum makan malam, aku mengharapkan ada suguhan makan di penerbangan antara Surabaya – Denpasar, Selasa malam kemarin. Aku berharap pramugari cantik itu menyajikan satu porsi nasi lengkap dengan lauk ayam atau ikan laut. Apa daya, dia tak menyajikan menu yang aku harapkan.

Continue reading “Menanti Sajian Khas Negeri Sendiri”

Pak Bupati, Perbaikilah Jalan Kami

Makin hari, jalan menuju kampung kami makin rusak. Bukannya memperbaiki, pemerintah malah saling lempar tanggung jawab.

Setelah menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dari Solo hingga kampungku, aku pikir derita akibat buruknya jalan akan berakhir. Ternyata tidak. Jalan sepanjang sekitar 2 km itu tak lebih baik dari jalan-jalan rusak lain yang kutemui di pedesaan Boyolali dan jalan utama Jombang – Tuban melewati Lamongan.

Continue reading “Pak Bupati, Perbaikilah Jalan Kami”

Ironi Negeri Ini di Boyolali

Kami seperti melewati gelombang lautan di jalanan pedesaan Boyolali ketika pejabat kita ribut-ribut soal video mesum.

Begitu keluar dari Desa Cermo, Kecamatan Sambi menuju Desa Wates, Kecamatan Simo di Kabupaten Boyolali, kami langsung menghadapi rusaknya jalan raya. Jalan antarkecamatan ini bergelombang. Bopeng di sana sini. Kondisi jalan jadi mirip gundukan.

Continue reading “Ironi Negeri Ini di Boyolali”

Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran

Pada masa Perang Dunia II, Emmerich am Rein luluh lantak karena pengeboman. Kini, kota di pinggiran Jerman itu tetap menawan.

Menghabiskan sisa satu hari sebelum meninggalkan Belanda, aku memutuskan berkunjung ke Emmerich am Rein, kota kecil dekat perbatasan Belanda dan Jerman. Aku memilih kota di distrik Cleves, Provinsi Dusseldorf ini dengan pertimbangan dekatnya lokasi, mepetnya waktu, murahnya biaya.

Continue reading “Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran”

Patung-patung Tua yang Bercerita

Godfrey of Bouil

Semula aku hanya berniat melihat Manneken Pis, patung anak kecil sedang kencing ikon Belgia. Ternyata aku malah menemukan banyak patung lain di antara menawannya lansekap ibukotanya, Brussels.

Tak banyak yang aku persiapkan ketika berencana berkunjung ke Brussels, Belgia. Aku hanya berniat mampir tak lebih dari setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Leuven, kota berjarak sekitar 30 km dari Brussels.

Tujuan utamaku ke Belgia memang bukan untuk jalan-jalan tapi berkunjung ke kantor pusat Vredeseilanden, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Leuven. Lembaga ini memiliki kantor regional di tujuh negara termasuk VECO Indonesia, tempatku kerja paruh waktu.

Continue reading “Patung-patung Tua yang Bercerita”

Dua Kejutan di Kota Persinggahan

Kafe tempat Karl Marx pernah membaca manifesto komunisme di Belgia itu membuatku senang bukan kepalang. Inilah kejutan kedua mampir di Brussels, Belgia.

Kejutan sebelumnya adalah Town Hall. Bangunan berumur lebih dari 600 tahun ini berada di tengah Grand Palace, kawasan paling populer di Brussels, ibukota Belgia. Jaraknya tak sampai lima menit jalan kaki dari stasiun pusat Brussels.

Bangunan gothic yang dibangun pada tahun 1402 ini tak langsung terlihat ketika kami keluar dari stasiun pusat Brussels. Dia tersembunyi di antara hotel, restoran, kafe, toko souvenir, dan bangunan lain di kawasan ini. Tapi, setelah melewati hiruk pikuk turis dan sekitar tiga gang, kami sampai kawasan Grand Palace.

Continue reading “Dua Kejutan di Kota Persinggahan”