Menteri yang Gagal Berkomunikasi

Membaca tulisan CNN Indonesia: Twitter nation, menyadarkan lagi pada kegagalan Tifatul Sembiring untuk berkomunikasi.

Dibanding mengutip komentar dari menteri yang mengurusi komunikasi dan teknologi informasi, CNN lebih memilih Enda Nasution untuk berkomentar. Makna di baliknya, untuk urusan teknologi informasi, media asing lebih percaya pada Enda daripada Tifatul.

Continue reading “Menteri yang Gagal Berkomunikasi”

Di Bali, Sinergi itu Masih Mimpi

Di Jakarta, media dunia maya bersinergi digdaya dengan media arus utama. Di Bali masih jauh panggang dari api.

Banyak contohnya. Dua di antaranya yang terbukti ampuh adalah ketika media arus utama memberitakan penahanan Prita Mulyasari. Prita adalah konsumen yang dipenjara gara-gara emailnya tentang keluhan terhadap pelayanan rumah sakit bocor ke ranah publik. Prita dipenjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dia pun ditahan.

Continue reading “Di Bali, Sinergi itu Masih Mimpi”

Tak Perlu Penanda untuk Pewarta Warga

Seorang teman pernah dengan bersemangat menunjukkan “kartu pers”-nya sebagai pewarta warga. Tapi, kartu itu untuk apa?

Menurutku, seorang pewarta warga tidaklah perlu mendapat identitas khusus sebagai pewarta, seperti kartu pers. Ada, setidaknya, dua alasan.

Continue reading “Tak Perlu Penanda untuk Pewarta Warga”

Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga

Di sisi kanan kami ada kebun kering dengan model terasering, di sisi kiri ada pantai, di depan sana ada gunung berapi. Keren sekali….

Kami baru balik dari Dusun Hokobopo, Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Aku dan Ibrahim, teman dari Yayasan Ayu Tani, selesai liputan tentang petani kacang mete di ujung timur pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Continue reading “Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga”

Mereka yang Mesum, Bukan Erwin!

Siang ini Erwin Arnada akhirnya resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Erwin, mantan Pemimpin Redaksi Playboy Indonesia, dituduh melanggar kesusilaan.

Vonis ini masih kontroversi. Sebagian orang, terutama pegiat kebebasan pers di Indonesia, menilai vonis tersebut tidak tepat karena tidak menggunakan Undang-undang (UU) Pers No 40 tahun 1999. Majalah Playboy Indonesia adalah produk jurnalistik. Karena itu dia pun harus diadili dengan UU yang mengatur tentang pers.

Continue reading “Mereka yang Mesum, Bukan Erwin!”

Mereka Tetap Bangga Mengaku Indonesia

SBY membatalkan kunjungan ke Belanda akibat ancaman dari simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS). Demikian bencikah orang-orang keturunan Maluku itu pada Indonesia?

Pengalamanku dengan mereka menunjukkah hal sebaliknya. Orang-orang Belanda keturunan Maluku itu selalu saja bangga punya hubungan dengan Indonesia. Memang, sih, ini hanya pengamatan sangat dangkal dari dua kali kejadian. Tapi, aku tetap menangkap kuatnya perasaan bangga sebagai bagian dari Indonesia itu ketika berbincang dengan mereka.

Continue reading “Mereka Tetap Bangga Mengaku Indonesia”

Membandingkan Castro, Obama, dan SBY di Twitter

Laporan terakhir @Presiden_RI sudah tujuh bulan lalu  meski jumlah pengguna dari Indonesia terus bertambah.

Jumlah pengguna twitter di Indonesia terus bertambah. Lembaga riset yang fokus tentang dunia digital, comScore, mengatakan pertumbuhan pengguna twitter di Indonesia paling  tinggi di antara 41 negara lain yang diteliti mereka pada Juni lalu. Menurut comScore,  20,8 persen pengguna internet di Indonesia mengakes situs laporan singkat (micro blogging) ini.

Continue reading “Membandingkan Castro, Obama, dan SBY di Twitter”

Dewan yang Keblinger, Gunakanlah Twitter


Daripada mengusulkan Rumah Aspirasi, anggota DPR mending membuat akun twitter.

Jadi, tak perlu lagi ada tambahan anggaran sekitar Rp 200 juta untuk tiap anggota Dewan yang terhormat tersebut. Dengan demikian tak perlu lagi ada beban tambahan Rp 436 miliar uang negara yang dipakai anggota Dewan.

Continue reading “Dewan yang Keblinger, Gunakanlah Twitter”

Tak Perlu Berisik Kalau Ngetik

Sekitar empat tahun lalu aku membayangkan. Tengah malam sambil berbaring di kasur aku punya ide. Lalu, saat itu juga aku bisa menuliskan atau sekadar menyimpannya di dalam komputer.

Imajinasi itu terjawab oleh komputer jinjing alias laptop. Tapi, membawa laptop ke tempat tidur bukan hal yang tepat. Pertama, laptop terlalu berat. Kedua, laptop tak bisa dipakai sambil rebahan. Kalau mau nekat sih bisa-bisa saja. Tapi, laptop tetap belum bisa menjawab kebutuhan itu.

Continue reading “Tak Perlu Berisik Kalau Ngetik”

KISS agar Tulisan Lebih Manis


Bukan lagi media yang mengendalikan pembaca, tapi sebaliknya, pembaca yang mengendalikan media.

Begitulah prinsip media online. Terlalu banyak pilihan media bagi pembaca. Kalau pembaca tak suka, dia tinggal klik, memindahkan alamat yang dia baca. Dari situs di Indonesia, dia bisa langsung pindah ke negeri antah berantah.

Continue reading “KISS agar Tulisan Lebih Manis”