Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan

Senin, 3 Mei ini minggu kedua bagi kami di Hilversum, Belanda. Kami, 18 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sedang mengikuti kursus New Media for Independent Journalism di Radio Nederland Training Centre (RNTC) di kota berjarak sekitar 25 km selatan Amsterdam ini. Kursus yang diadakan AJI Jakarta dan Neso Indonesia ini pada 26 April hingga 14 Mei 2010.

Bagiku, tugas-tugas kursus makin hari makin menarik. Hari ini, misalnya, kami mendapat tugas untuk mengambil foto dan -kemudian- video di kawasan Radio Nederland Worlwide (RNW). Aku bersama Komang Wahyu Dhyatmika, wartawan TEMPO yang juga Ketua AJI Jakarta, dalam satu kelompok.

Melalui obrolan singkat, kami sepakat mengambil foto susana kerja di Radio Nederland. Pas banget, 3 Mei adalah  World Press Freedom Day. Jadi tema foto sangat aktual.

Nah, mumpung hari ini kami jalan-jalan mengenal jeroan RNW lebih dalam, sekalian saja aku menulis soal ini.

RNW berada di kawasan Media Park di sisi utara kota Hilversum. Media Park merupakan pusat kantor berbagai media baik TV, online, ataupun cetak. Ada sekitar 30 gedung media di kawasan ini. Tak heran jika Hilversum dikenal sebagai Kota Media di Belanda.

Salah satu yang menarik bagiku sejak pertama kali tiba di tempat ini adalah hutannya. Kantor RNW, berada paling utara dari kawasan ini, persis dikelilingi hutan. Pohon-pohon menjulang sekitar 10 meter di sekitar tempat ini. Kami bisa menikmati lebat dan tingginya pohon-pohon dari Corner Room ataupun Orange Room, ruangan kursus.

Hilversum ternyata juga memang terkenal sebagai kota yang masih menjaga hutan dibanding kota lain di Belanda.

Gedung RNTC berada di sisi utara cluster RNW. Gedung ini terpisah dari gedung utama RNW di mana ruang redaksi dan siaran berbagai negara seperti Indonesia, Sudan, dan Suriname. Di gedung utama ini pula terdapat kantin tempat kami biasa makan siang dengan menu asia murah meriah. 🙂

Hari ini aku main ke ruang redaksi RNW. Ruangan seluas sekitar 20 x 20 meter persegi ini tempat di mana tim redaksi radio bekerja. Empat di antara mereka adalah yang bekerja untuk seksi Bahasa Indonesia. Kami ngobrol dengan mereka sambil mencari-cari foto.

Ada sekitar 50 orang bekerja di ruang redaksi ini. Aku lihat sekilas ada yang sedang mengetik dalam huruf China. Ada yang bicara dalam Bahasa Arab. Ada wajah Afrika. Di pojok lainnya seorang narasumber dari Amerika Latin sedang diwawancarai dalam Bahasa Spanyol. Meski sibuk bekerja, semua penghuni masih bisa menikmati hutan yang terlihat jelas dari dinding kaca ruangan.

Di bagian tengah ruangan ini ada meja bundar berdiameter sekitar 4 meter dengan gambar peta memenuhinya. Ini meja bundar tempat dedengkot redaksi rapat seperti siang itu ketika kami berkunjung.

Dari meja ini pula mereka menentukan berita-berita apa saja yang akan disiarkan ke penjuru dunia. Salah satu fokus RNW memang di negara-negara yang medianya belum sepenuhnya bebas atau bahkan masih tertutup sama sekali. Tujuannya agar informasi bisa diakses tiap orang.

Selain siaran radio itu, RNW juga memberikan pelatihan tentang media dengan target peserta terutama dari negara berkembang. Melalui pelatihan seperti itu, wartawan dari negara-negara berkembang tak hanya memahami pentingnya kebebasan media tapi juga kemampuan untuk memproduksi media yang independen.

Warga Sudan, misalnya. Minggu lalu aku ngobrol dengan beberapa dari mereka di ruang kopi RNTC. Mereka sedang menyiapkan materi siaran dalam Bahasa Arab untuk Radio Darfur. Mereka terpaksa melakukan siaran dari RNTC sebab mereka tidak bisa siaran dari negaranya sendiri. “Terlalu berbahaya kalau siaran di sana,” kata salah satu dari mereka.

Sudan termasuk salah satu negara tertutup bagi kebebasan media. Tapi, dari tengah belantara hutan Hilversum wartawan Sudan bisa melawan pengekangan informasi di negeri mereka sendiri. [!]

Foto-foto kami bisa dicek di blog tugas kami.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.