Wahai Losari, Apa yang Sebenarnya Kau Cari?

0 , , Permalink 0
Pemandangan Pantai Losari pada November 2021. Foto Anton Muhajir.

Sejauh ini, kuliner Makassar masih juara bikin kangen.

Makanya, begitu mendarat di Makassar pada awal November lalu, aku langsung menuju kawasan Pelabuhan Paottere. Sudah terbayang-bayang ikan bakar dengan kuah santan dan sambal kacang salah satu rumah makan di sini.

Sayangnya, ikan yang terhidang sore itu sudah tidak terlalu segar. Teksturnya agak lunak. Kata karyawannya, itu memang ikan dari pagi. Salahku sendiri tak milih ikan yang lebih baik.

Untungnya sedikit kekecewaan di Rumah Makan Paottere itu dengan menu-menu khas lain selama lima hari di Makassar. Ada coto makassar, pisang epe, konro bakar, saraba, dan santapan lainnya.

Secara umum, kuliner Makassar belum terkalahkan dibanding kota-kota lain di negeri ini. Banyak pilihan. Enak-enak. Karena itulah, di antara kota-kota lain, Makassar berada di urutan pertama daftar kota yang kulinernya bikin kangen.

Awal November lalu, beruntunglah aku bisa mengobati kerinduan itu. Juga menikmati kota Makassar meski sekitar seminggu meski hanya terfokus di Pantai Losari dan sekitarnya.

Ada beberapa perbaikan. Jalur pedestrian terasa lebih lebar, bersih dan nyaman. Deretan pohon ketapang kencana menghiasi sepanjang jalurnya. Batang pohon yang membentuk payung membuat jalur makin teduh.

Namun, Rapi dan nyamannya jalur pedestrian itu terasa kontras dengan kondisi Pantai Losari. Rasa-rasanya, pantai ini makin tidak jelas saja orientasinya. Dia bahkan lebih buruk dibanding kesan terakhirku ke sini pada Mei 2018 lalu.

Pertama, makin banyak fasad mengganggu pada lansekap yang sebenarnya bisa lebih terbuka. Bangunan-bangunan kecil itu memenuhi anjungan Pantai Losari. Seolah-olah berlomba untuk tampil di sana.

Ada, misalnya, patung beberapa pahlawan dengan pondasi selebar kira-kira 3 meter. Tak tepat juga rasanya mendirikan patung pahlwan di tempat semacam ini. Terus ada juga dua tugu Adipura Kota Metro yang diperoleh Makassar pada 2013 dan 1997.

Masih ada lagi tambahan patung figur dan kapal pinisi di sisi lain Anjungan Pantai Losari. Anjungan makin terasa sesak. Penuh. Riuh.

Akibatnya, pandangan lepas yang seharusnya bisa didapatkan dari Losari jadi terhalang dengan tugu dan monumen semacam ini. Well, tentu saja mereka mungkin penting bagi sebagian orang (atau pejabat?) tetapi rasanya tidak tepat saja lokasinya.

Hal kedua yang makin mengganggu adalah makin banyaknya penanda lokasi (landmark) berupa tulisan besar-besar. Selain Pantai Losari, yang setahuku sudah ada sejak awal penataan tempat ini, sekarang juga ada tulisan City of Makassar, Bugis, dan Toraja.

Makin banyak tulisan semacam itu membuat tak ada lagi identitas atau penanda tunggal di Lokasari. Semua seolah harus ada di sini: landmark, monumen, patung, dan entah apa lagi. Padahal, tulisan-tulisan dengan font serupa berwarna merah atau putih itu juga bisa dipasang di manapun.

Hal ketiga yang makin mengganggu pemandangan adalah adanya Masjid 99 Kubah di latar belakang pantai, di sisi barat tempat yang dulu pantai.

Oh, tidak. Aku tidak sedang menihilkan pentingnya masjid. Masjid tentu saja penting bagi umat Islam. Namun, kalau dia dipaksakan ada di sebuah tempat yang justru mengganggu rasanya tidak tepat juga. Apalagi di seberangnya juga sudah ada Masjid Amirul Mukminin yang sama-sama baru dibangun.

Ada baiknya pengelola Pantai Losari ini mulai menata lebih serius. Fokus pada satu ikon atau penanda saja. Anjungan dibuat lebih lapang dan terbuka. Jadi, lebih bisa menikmati pantai, termasuk air lautnya yang kelihatan makin menghitam dan berbau itu.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.