Heh, Apa? Pengen Beli Mobil Lagi?

0 Permalink 0
Deretan mobil ketika terjebak antrean masuk pelabuhan, Maret 2017. Foto Anton Muhajir.

Hari-hari ini, godaan untuk membeli mobil datang lagi.

Setelah lebih dari tiga tahun ini hidup tanpa mobil, kayaknya asyik kalau punya mobil lagi. Bisa jalan ke mana-mana pakai mobil sendiri. Tidak perlu sewa. Tak perlu bawa sopir. Tak perlu keluar uang lebih buat transportasi.

Godaan itu datang lebih besar terutama ketika kami pergi keluar kota rame-rame. Entah untuk jalan-jalan atau karena ada kerjaan. Daripada menyewa mobil orang, kan lebih enak bawa mobil sendiri. Begitu mikirnya.

Cuma setelah berpikir lebih dalam, eeeeh, tunggu dulu. Tak semurah dan semudah itu, Mas Bro. Kalau dihitung dengan serius, punya mobil sendiri, tuh, ternyata tak lebih dari pemborosan yang benar-benar menjadi beban dompet dan pikiran.

Ambil contoh jika membeli mobil seperti yang terakhir kami punya, Suzuki Ertiga GL tahun 2013. Waktu itu kami beli sekitar Rp 180 juta. Tunai. Saat ini, harga mobil sejenis berkisar antara Rp 220 juta hingga Rp 230 juta.

Itu baru biaya untuk membelinya. Jangan lupa tambahan lain-lain, seperti bahan bakar minyak (BBM), perawatan, pajak tahunan, dan asuransi. Itu baru pengeluaran minimal. Bisa jadi ada saja biaya lain-lain.

Mari hitung satu per satu. Kalau menurut Kompas, sih, rata-rata biaya BBM untuk mobil per bulan sekitar Rp 51.000 per hari atau Rp 1,5 juta per bulan. Ambillah nilai tengahnya, Rp 250 ribu per minggu. Artinya, pengeluaran untuk BBM tiap bulan sekitar Rp 1 juta.

Lanjut dengan biaya perawatan. Seingetku, rata-rata Rp 500.000 tiap kali servis. Dalam kasus tertentu bisa lebih. Anggaplah dalam setahun empat kali servis, berarti sudah Rp 2 juta. Rata-rata per bulan sekitar Rp 170 ribu.

Terakhir, biaya asuransi. Menurut arsip, biaya asuransi mobil yang waktu itu besarnya Rp 3,3 juta per tahun. Saat ini harganya bisa jadi naik. Namanya asuransi, dia memberikan perlindungan terhadap kecelakaan atau kerusakan. Namun, berdasarkan pengalaman, dia lebih banyak menjamin PERASAAN aman. Dalam praktiknya, kayaknya waktu itu kami tak pernah mengklaimnya.

Ya, risiko asuransi, ya, memang begitu, Mas.

Jadi, baiklah. Mari hitung berapa perkiraan total biaya yang dikeluarkan kalau punya mobil lagi. Beli mobil plus tetek bengek urusan administrasi sekitar Rp 250 juta. Biaya bulanan untuk BBM, servis, dan asuransi sekitar Rp 1,5 juta. Itu belum termasuk biaya tak terduga.

Lalu, dengan biaya Rp 1,5 juta per bulan, mobilnya diapain? Nganggur. Hehehe..

Kami termasuk jarang naik mobil untuk bepergian. Dalam dua bulan, belum tentu kami menggunakannya sekali. Kalau di dalam kota, sudah stres duluan jika harus nyetir mobil sendiri. Bawaannya khawatir kena macetlah, susah parkirlah, takut nabraklah, apalah.

Bukannya menambah kenyamanan, nyetir mobil sendiri hanya menambah kekhawatiran.

Punya mobil mungkin bagus saja jika dia menghasilkan. Misalnya disewakan atau dipakai untuk ikut layanan transportasi daring.

Itu yang dulu pernah kami lakukan. Ngasih kakak sendiri untuk menggunakan mobil kami ikut layanan transportasi daring. Niat utama kami sebenarnya untuk membantu dia agar bisa punya pendapatan tetap. Biar mobil tidak ngoyong jumah gen. Kami sama sekali tak menuntut dia memberikan target setoran per bulan. Cukup persentase pendapatannya.

Dasar tidak jodoh, kakak ipar yang memang malas kerja ini selalu nemu alasan untuk tidak bayar. Dia juga sering mengeluh ini itu meski tak ada target tertentu. Padahal, kalau melihat sopir-sopir layanan daring lain kayaknya lancar jaya pendapatannya.

Bukannya untung, kami malah buntung. Bukannya bisa membantu, kami malah sering merasa membebani karena dia mengeluh melulu.

Jadi, ya, kapok sudah. Tidak hanya kapok untuk membantu dia, tetapi juga kapok untuk membeli mobil lagi. Habis-habisin duit dan menambah beban pikiran saja.

Solusinya? Santai. Ada layanan transportasi daring. Kalau perlu, pesan saja. Paling mahal cuma Rp 150 ribu sekali jalan. Atau jika perlu mobil untuk keluar kota, sewa saja, Mas. Kalau ingin nyetir sendiri, cukup Rp 300 ribu per hari. Tak perlu stres mikir biaya servis, asuransi, dan tetek bengek lainnya.

Atau, kalau malas nyetir sendiri, sekalian saja sama sopirnya. Paling hanya Rp 500 ribu per hari. Jika dalam setahun perlu mobil katakanlah sepuluh kali, which is enggak bakal segitu juga sepertinya, maka kami hanya keluar duit Rp 5 juta dalam setahun.

Lalu, jika dibandingkan dengan biaya beli mobil yang Rp 250 juta, maka kami bisa sewa mobil plus sopirnya sampai 50 tahun. Hasilnya bisa jalan-jalan dengan duduk manis di belakang. Bisa dengar musik sambil tiduran selama di jalan. Enak. Nyaman. Murah. Tenang.

Nah, jika masih tergoda untuk beli mobil lagi, jangan lupa baca tulisan ini kembali. Biar tidak beli mobil hanya gara-gara kemakan gengsi!!

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.