Kenapa Mereka Harus Ditembak Mati

18 , , , , Permalink 0

Pertanyaan sama selalu muncul di kepalaku ketika melihat tersangka, ingat ini baru tersangka, teroris ditembak mati oleh polisi. “Kenapa sih mereka harus ditembak mati?”. Meski sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati, aku bisa memaklumi ketika yang ditembak mati adalah Amrozi CS atau siapapun yang terbukti di pengadilan memang bersalah.

Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang status hukumnya belum jelas tapi sudah ditembak mati? Mereka ini baru disangka sebagai teroris. Belum jelas apa kesalahannya. Belum jelas kejahatan macam apa yang mereka lakukan. Belum jelas apa perannya. Lalu, polisi sudah menembak mereka. Mati.

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi setelah membaca di berbagai media tentang penyergapan kelompok yang diduga sebagai teroris di Aceh maupun Pamulang. Dalam penggerebekan ini, polisi menembak mati tiga tersangka di Pamulang dan dua tersangka lainnya di Aceh.

Membicarakan masalah ini pasti memicu kontroversi. Juga kadang-kadang sebagian orang langsung dengan mudah menyematkan anggapan padaku bahwa aku pendukung orang-orang yang disangka sebagai teroris tersebut. Karena itu perlu ada ketegasan. Aku tak mendukung terorisme atas nama apa pun.

Aku bersyukur lahir dan besar dalam keluarga religius namun moderat. Aku malah kasihan pada orang-orang yang tertipu untuk melakukan teror atas nama jihad.

Jadi, sekali lagi, mendiskusikan penembakan pada orang-orang yang diduga sebagai teroris itu bukanlah berarti aku mendukung terorisme itu sendiri.

Hal yang kupertanyakan adalah: apakah mereka memang harus ditembak mati untuk sesuatu yang belum jelas?

Pertanyaan ini muncul karena beberapa alasan. Pertama, kalau memang mereka itu orang yang disangka sebagai teroris, tidakkah lebih baik kalau mereka ditangkap hidup-hidup? Dengan begitu polisi bisa mendapatkan keterangan lain tentang jaringan tersebut. Jangan seperti Ibrahim di Temanggung Agustus tahun lalu yang ditembak mati karena diduga sebagai Noordin M Top. Dan, polisi ternyata salah.

Alasan kedua ini hanya karena alasan kemanusiaan. Sebagai manusia, tidakkah orang-orang itu harus dihormati haknya untuk hidup. Aku cari di Google. Polisi ternyata punya Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 8 tahun 1999. Peraturan ini mengatur tentang Implementasi Prinsip dan Dasar Standar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian. Salah satu poin dalam aturan ini adalah bahwa meski tersangka lari, polisi dilarang untuk menembaknya.

Pasal 5 ayat 2 Peraturan ini juga menegaskan bahwa ada delapan bagian dari HAM yang tak boleh dihilangkan dalam kondisi apa pun. Hak untuk hidup adalah hak pertama dari hak yang tak boleh dihilangkan dalam kondisi apa pun itu. Yap. Dalam kondisi apa pun.

Tidakkah polisi punya cara lain, dilumpuhkan, misalnya. Ditembak dengan gas air mata. Atau dibius. Atau apa kek. Kalau mereka bisa beli senjata beserta isinya yang mahal, masak sih beli peluru untuk membius saja tidak bisa?

Foto diambil dari Vivanews.com.

18 Comments
  • Agung Pushandaka
    March 10, 2010

    Setelah baca tulisanmu di sini, aku bisa mengerti maksudmu, ndak kaya di facebook yang secuil dua cuil. πŸ™‚

    Tapi ton, menembak mati mereka bukan cuma untuk melindungi polisi yang berusaha menangkap hidup-hidup. Mereka itu bersembunyi di balik orang-orang yang ndak berdosa. Polisi pasti maunya menangkap mereka hidup-hidup, tapi mereka sudah buru-buru menembak kalau mau ditangkap. Ya kalau polisi yang mati itu wajar karena memang “kodrat” mereka sebagai tameng masyarakat. Tapi kalau warga sipil di lingkungan sana yang mati karena tembakan mereka, gimana? Ntar polisi juga yang disalahkan kalau ada sipil yang mati.

    Kalau yang di aceh, wajar ada yang mati. Di sana sudah kontak senjata (perang) secara terbuka. Dalam perang kematian adalah kewajaran walaupun ada aturan untuk mencegah kematian dalam jumlah besar.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    gung, sekali lagi. meski aku gak setuju dg hukuman mati, aku masih bisa memahami kalau yang ditembak mati tersebut memang orang yg sudah terbukti bersalah melalui proses pengadilan.

    lha ini kan tidak. orang2 yg ditembak mati itu belum diadili, belum pernah menyampaikan apa yg sebenarnya terjadi -menurut mereka tentu saja- tp mereka sudah ditembak mati duluan.

    dalih polisi kan selalu sama: mereka melawan. tp kita harus skeptis jg pada klaim2 sepihak ini.

    poinku adalah bahwa kalau toh mereka, orang2 yg diduga sbg teroris itu, harus ditembak mati, tembaklah setelah mereka mendapat haknya sbg orang yg bersalah.

    ReplyReply

    [Reply]

    Agung Pushandaka Reply:

    Keinginanmu mulia banget ton, seperti SBY, jadikan hukum sebagai panglima. Hehe..

    Tapi gimana ya ton, aku juga ndak bisa menemukan alasan secara hukum tentang tindakan polisi yang harus menembak mati para tersangka.

    Aku cuma berpikir karena polisi punya kewajiban melindungi warga sipil. Kalau mereka ndak ditembak mati, mungkin mereka malah menembak membabi buta yang membuka peluang jatuhnya korban dari orang ndak berdosa.

    Buktinya, ndak semua tersangka terorisme ditembak mati kan? Ada yang ditangkap hidup-hidup kemudian diadili. Itu membuktikan, bahwa mereka yang mati karena beanr-benar kondisi yang memaksa.

    Ton, aku tau kamu bukan pro-terorisme. Tapi, kayanya kamu anti-polisi? Hihi! Panas-panas makan puding. Just kidding.

    ReplyReply

    [Reply]

    Dek Didi Reply:

    Kalo polisi mati kena tembak karena bertugas mendamaikan mahasiswa yang demo, memburu teroris, ngejar rampok, pernah gak kita merasa kasihan sama polisi?
    Pernahkah kita merasa peduli sama polisi? Keselamatan mereka?
    Mereka juga berhak bilang, Saya dilindungi HAM…

    ReplyReply

    [Reply]

  • aprian
    March 11, 2010

    Mau buat teori konspirasi gitu ceritanya ya ton? hehehe.

    Mungkin wartawan sekali2 diajak ikut ke penggrebegan teroris ya tp dg syarat kalo mati kena tembak/bom gak boleh nuntut. Minimal biar tahu suasana di lapangan kayak gimana … πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    kalo bikin teori konspirasi sih pasti ceritanya lain lagi, pri. kalo konspirasi, pasti ujung2nya yg disalahkan adalah amerika. πŸ˜€

    ini bukan menyalahkan amerika kok, pri. cuma bertanya pada polisi apakah mereka sudah memenuhi standar operasi ketika melakukan penembakan itu? setauku ada enam skalanya. dan, menembak -itu pun tidak boleh sampai mematikan- adalah pilihan terakhir.

    meski sedikit, aku bayar pajak lho, om. pajak itu utk biayai negara dan aparatnya, termasuk polisi. πŸ™‚ jd ya wajar saja aku bertanya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Deddy
    March 11, 2010

    Mungkin ga harus. Kalau Polisi boleh milih, mungkin mereka juga ingin menangkap hidup-hidup. Tapi kondisi saat itu kan kita ngga tahu, seperti Agung Pushandaka, bisa jadi karena mereka bersenjata dan tidak mau diminta untuk menyerah ketika dikepung.

    Ketika mendobrak masuk kan susah juga mendeteksi mereka dimana. Mungkin ya reflek aja nembak. Dan kalau teroris tersebut bersenjata ya memang tembakan mematikan menjadi pilihan. Bayangin aja klo Polisi nembak kaki trus teroris tersebut nembak badan Polisi.

    Sekali lagi, mungkin ngga harus… tapi kondisi yang membuat seperti itu…

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    berita2 soal terorisme itu lebih banyak sepihak, versi polisi. pembenarannya selalu saja pakai kata2 spt “bisa jadi”, “diduga”, “kalau” – “maka”, dan sejenisnya.

    kita gak pernah cukup dapat informasi tentang kenapa polisi harus menembak mati mereka? pernahkah kita memastikan bahwa orang2 yg disangka sbg teroris itu memang membawa melawan? kita taunya cuma dari polisi melalui media.

    aku yakin kok polisi sebenarnya pasti bisa melumpuhkan tanpa harus membunuh mereka. mereka jago2 lo. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    March 11, 2010

    Ada ndak ya peluru khusus berupa bius yang dapat digunakan oleh polisi ketika menangkap penjahat termasuk teroris?

    sebenarnya saya setuju dengan pak anton agar teroris atau penjahat ditangkap hidup2, tapi saya yakin keadaan lah yang membuat polisi harus melumpuhkan mereka, polisi tentu tidak bisa selalu melumpuhkan dengan menembak kaki, kan wajar saja kalau mungkin yang kena adalah organ vital yang menyebabkan kematian.

    Kalau pun dilumpuhkan dengan menembak kaki, penjahat/teroris itu kan bersenjata, jadi sebenarnya belum “lumpuh”.

    Kayaknya jalan satu2nya ya dengan peluru khusus itu, itupun kalau ada.

    ReplyReply

    [Reply]

  • eshape
    March 11, 2010

    Idealnya memang mereka ditangkap hidup-hidup, tapi kondisi di lapangan kita tidak tahu dengan pasti

    Tayangan TV ataupun berita di koran bisa saja tidak sesuai fkata di lapangan

    Jadi daripada puzing, mari kita berbaik sangka saja pada mereka tanpa meninggalkan kewaspadaan

    Tulisan yang bagus mas

    Salam Jabat Erat

    ReplyReply

    [Reply]

  • wirama
    March 12, 2010

    weh, gak bisa ngomong apa…cuman nonton doang dan berharap tidak banyak “korban” cuci otak untuk jihad dengan cara terror =D

    ReplyReply

    [Reply]

  • lambang
    March 12, 2010

    Wah rame banget nich ceritanya! Yang komen antara pro dan kontra.

    1. setuju, kalau seandainya polisi membiarkan nyawa sang pelaku teroris untuk hidup dengan cara menembak dengan menggunakan peluru bius atau melumpuhkannya (dengan bius yang benar-benar cepat bereaksi) agar sang teroris bisa lumpuh tanpa sempat melawan sebab status yang di berikan masih TERSANGKA, jadi perlu penyelidikan lebih lanjut.

    – nah lho! kalau sang teroris memakai pelindung semacam rompi anti peluru atau alasan lain mengenai belum adanya obat bius seperti itu gimana?

    – police (baca: polisi) adalah orang-orang yang terlatih, yang memang sudah menjadi tugas mereka untuk bisa menangani masalah seperti ini. Saya yakin kalau mereka punya strategi yang save dan matang dalam menghadapinya. beberapa media masa sering memberitakan latihan-latihan (trainning) untuk pemberantasan teroris ataupun penjinakan bom, entah di gedung, kapal, bahkan penyelamatan pejabat yang disandera.
    Coba dech! cari jalan tengah yang tidak membuat getar-getir semua pihak dan masyarakatpun mendapatkan kejelasan informasi.

    2. tidak setuju, teroris juga manusia. Dia juga punya hak untuk hidup. Jika sudah di teliti dengan jelas dan riil, hukum bisa memutuskan layak tidaknya sang pelaku untuk dihilangkan nyawanya atau malah di bebaskan sebab alasan lain ex: salah tangkap, de el el.

    3. bingung, coba bayangin kalau yang menjadi teroris itu kita sendiri. Di tengah-tengah situasi penggerebekan satuan gegana. ajal sudah di depan mata. Apa yang bakal kita perbuat? Apakah langsung tobat dan menyerah atau melawan mereka, yang kesemuanya itu hanya 1% kesempatan untuk hidup karena yang menyerahpun setelah di adili bakal kena hukuman mati. hehe.

    It’s just my opinion.

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    March 13, 2010

    wah, susah ngomongnya nih. secara pribadi, lebih baik untuk yang tingkat atas kayak mereka ini ya dilumpuhkan dengan akurat dan cepat, kalo dengan peluru bius, barangkali mereka masih punya waktu untuk melawan, dan itu akan sangat berbahaya mengingat senjata selalu ada ditubuh mereka.

    ReplyReply

    [Reply]

  • tukang ojeg
    March 14, 2010

    no comment dah πŸ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghe
    March 14, 2010

    hayo siap yang terosris kita atau mereka?

    ReplyReply

    [Reply]

  • ediputrana
    March 14, 2010

    Kalo Mereka Membawa Senjata, Melawan dan Berusaha Kabur apa Salahnya Lgsng Ditembak ? Sudah Jelas Mereka Teroris, Daripada Kabur terus Ngebom Sana Sini Lagi ? Pilih Mana Ayo ? Tembak Apa Kasi Mereka Kabur ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • andry sianipar
    March 17, 2010

    Om Swastiastu…

    saya rasa mereka memang ” berhak ” untuk ditembak mati.
    supaya menimbulkan efek jera.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Simon
    April 28, 2010

    Kalo polisi mati kena tembak karena bertugas mendamaikan mahasiswa yang demo, memburu teroris, ngejar rampok, pernah gak kita merasa kasihan sama polisi?
    Pernahkah kita merasa peduli sama polisi? Keselamatan mereka?
    Mereka juga berhak bilang, Saya dilindungi HAM…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *