Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka

Atas nama apa pun, pembangunan selalu melahirkan korban. Begitu juga pariwisata Bali. Di antara gemerlapnya, ada juga suara-suara rintihan mereka yang kalah.

I Wayan Rebo salah satunya. Atas nama pembangunan lapangan golf dan fasilitasnya, petani di kawasan Bukit Pecatu, Kuta Selatan ini harus terusir dari tanahnya sendiri. Dua kali dia masuk penjara karena dianggap melawan Negara. Dia menolak menjual tanahnya. Maka, Rebo dianggap mengkhianati pariwisata, yang sudah kadung jadi mantra sakti di Bali.

Continue reading “Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka”

Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu

Kami duduk berenam Sabtu kemarin di Art Cafe Jl Hayam Wuruk Denpasar. dr Oka, Mas Rofiqi, Bodrek, Bunda, Agung, dan Bani. Bli Popo datang ketika diskusi hendak berakhir. Keprihatinan terhadap media di Bali yang mempertemukan kami sore itu.

Tanpa mengecilkan peran media di Bali selama ini, kami mencatat masih ada beberapa masalah terkait kualitas media di Bali. Terutama soal makin hilangnya hak publik di media lokal saat ini.

Continue reading “Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu”

Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa

Hari kedua di Jogja, giliran waktunya belajar soal bertani dan sekolah alam. Sebelumnya kami belajar soal penerbitan di Insist Press dan soal pemasaran produk organik di Sahani. Sekarang kami berkunjung ke lahan pasir di Kulon Progo dan sekolah alam di Bantul.

Kami berangkat pagi, pukul 7.30 dari hotel. Sebab kami harus jemput Dja’far Shiddieq, dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM). Pak Daja’far adalah nara sumber kami ketika diskusi soal tanah di Bali. Bersama beberapa dosen dan mahasiswanya, Pak Dja’far juga sedang meneliti lahan pasir di Kulon Progo.

Dari Pak Da’far pula kami tahu tentang petani lahan pasir di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo. Inilah tujuan kami sekarang.

Continue reading “Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa”

Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong

Seharusnya aku posting tulisan ini pekan lalu saat di Jogja. Apa boleh buat, selama di sana aku tidak bisa online. Bisa sih pas hari ketiga. Tapi selain sebentar, koneksi warnet di ujung Jl Dagen, kawasan Maliboro itu leletnya setengah mati. Maka, aku cuma bisa cek imel bentar waktu itu.

Baiklah. Mari mulai dari review. Ngapain di mana saja selama di Jogja.

Bedanya di Jogja kali ini dibanding sebelum-sebelumnya adalah karena sama Bani, my little dictator. 😀 Tidak enak saja sih. Minggu sebelumnya sudah aku tinggal lima hari ke Makassar. Maka, mumpung lagi liburan, sekalian saja aku ajak Bunda dan Bani untuk ke Jogja. Toh, Jogja kota yang sangat asik buat liburan.

Continue reading “Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong”

Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam

Sekitar sepuluh hari lalu aku tertawa dalam hati ketika melihat tayangan TV One soal ikan blodog. Dalam acara 1001 Dunia itu disebut bahwa ikan bernama bahasa Inggris mudskipper itu merupakan salah satu ikan langka di dunia. Sebab blodog hidupnya lebih banyak di darat. Berbeda dengan ikan lain yang hidupnya di dalam air.

Menurut acara yang dipandu Nugie itu, ikan bernama latin Periophthalmus modestus ini adanya di Nikaragua dan satu negara lagi yang aku lupa namanya. Kalimat inilah yang bikin aku ketawa sendiri.

Continue reading “Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam”

Catatan Usai PNHR II Makassar

Kerjaanku di Pertemuan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Makassar sudah usai dua hari lalu. Aku sudah di Bali lagi. Sekarang waktunya membuat catatan soal pertemuan nasional tersebut. Itung-itung jadi otokritik atas kerjaan selama di sana.

Namanya kritik, tentu saja berangkat dari sebuah masalah. Ini bukan berarti suka melihat masalah saja. Ada beberapa hal yang layak diapresiasi. Misalnya betapa para pengguna ataupun mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) terlibat sepenuhnya di kegiatan itu. Salut juga melihat mereka bekerja sampai pagi-pagi untuk mengurus sekitar 600 peserta pertemuan.

Continue reading “Catatan Usai PNHR II Makassar”

Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!

Minggu [1/6] pukul 21:27 Wita. Sebuah SMS masuk, mengganggu batas antara lelap dan sadarku. Pengirim SMS itu Dogi, teman di penanggulangan AIDS. Dia meneruskan SMS berantai dari teman-teman di Jakarta.

“Dek ini dari Mas Gun. tolong sampaikan ke semua teman wartawan: Guntur Romli, penulis dan aktivis kebebasan beragama, luka parah akibat penyerbuan FPI terhadap aksi damai aliansi kebebasan beragama di monas siang tadi. sekarang dirawat di RSPAD dan harus dioperasi. kekerasan berkedok agama harus dilawan! mohon bantuan kawan2 media untuk menyebarluaskan kisah duka ini. untuk detail silakan kontak nong darol (081611xxxxx). salam. arif zulkifli.”

Continue reading “Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!”

Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!


April lalu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain mengatur masalah transaksi elektronik, UU No 11 tahun 2008 ini juga mengatur ketentuan tentang informasi di dunia maya. Aturan-aturan itu rentan mengancam kebebasan berekspresi terutama pada Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3).

Pasal-pasal tersebut pada umumnya memuat aturan-aturan warisan pasal karet (haatzai artikelen), karena bersifat lentur, subjektif, dan sangat tergantung interpretasi pengguna UU ITE ini. Selain itu, materi pada pasal-pasal tersebut juga bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM) terutama tentang kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi maupun UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat. Sebab setiap pengguna informasi, termasuk blogger di dalamnya, bisa diancam hukuman penjara kapan saja.

Continue reading “Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!”

Factory workers, journalists unite for May Day rally

Jakarta Post – May 2, 2008

Dicky Christanto, Denpasar – Protesters at a May Day rally held in Denpasar on Thursday accused the government of failing to protect Indonesians working longer hours for no extra pay.

The alliance of organizations commemorating the May 1 International Workers’ Day displayed dozens of banners while activists gave speeches about how “unfriendly” government policies had jeopardized workers’ lives.

Continue reading “Factory workers, journalists unite for May Day rally”