Farmers still neglect organic, fair trade certifications

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Sun, 10/19/2008 1:34 PM | Bali

Indonesian farmers do not pay enough attention to organic and fair trade certification aimed at increasing agricultural exports, Indro Surono of PT Biocert, a certification institution for agricultural products in Denpasar, said.

Speaking at a seminar on “Social and Fairtrade: Toward Responsible and Fair Business in Agriculture”in Denpasar last week, Indro said less than 1,200 farmers in Indonesia hold organic and fair trade product certifications.

Continue reading “Farmers still neglect organic, fair trade certifications”

Locals divided on golf resort plan

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Sat, 10/04/2008 11:34 AM | Bali

Bias Putih is a 300 meter-long strip of white sandy beach flanked by two lush hills in Bugbug village, Karangasem, some two and a half hours drive east of the island’s capital Denpasar.

Its scenic beauty and unspoiled shoreline have drawn an increasing number of visitors, foreign as well as domestic, in the last couple of years.

“Many foreign visitors praised the beach for its deep, crystal blue water,” a local I Gusti Ngurah Cakra said.

Continue reading “Locals divided on golf resort plan”

Post-harvest processing helps cocoa farmers

Thu, 09/18/2008 10:34 AM  |  Surfing Bali

The establishment of a Cocoa Processing Unit (CPU) in Tabanan regency has helped the local cocoa farmers to get better prices and to avoid the trap set by the tengkulak (village-level commodity middlemen).

The CPU is the result of collaborative efforts between PT Big Tree Farm, an agricultural commodities’ trading company, with Amarta, the agro-business initiative funded by USAID. Amarta built the processing plant, while PT Big Tree Farm manages the commercial aspects.

The facility lies at Lalanglinggah village in West Selemadeg and not far from around 4,000 hectares of cocoa plantations operated by local farmers.

Continue reading “Post-harvest processing helps cocoa farmers”

Bedugul organic farmers struggle against long distribution

Anton Muhajir,  Contributor, Bedugul | Thu, 09/18/2008 10:35 AM | Surfing Bali

The hilly area of Bedugul, around a two-hour drive north of the island’s capital Denpasar, is one of the most scenic places in Bali.

For decades it has been the island’s biggest producer of fresh fruit and vegetables.

Recently, local farmers are breaking free from the prevailing trade and distribution scheme in order to gain better prices for their products and a better life for their families.

Continue reading “Bedugul organic farmers struggle against long distribution”

HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities

This article has published in The Jakarta Post Surfing Bali page.

HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities

Anton Muhajir ,  Contributor, Denpasar   |  Thu, 09/11/2008 11:04 AM  |  Surfing Bali

In response to a recent government regulation that designated state health workers as the only people officially allowed to distribute syringes and needles to IDUs (Injecting Drugs Users), Bali’s HIV/AIDS non-governmental organizations have developed a new strategy.

Prior to the issuance of the regulation, NGO outreach workers were responsible for distributing needles directly to local IDU communities that participated in government-condoned NEP (Needle Exchange Program) pilot projects.

Continue reading “HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities”

Mendaftarlah, Mumpung Masih Ada Waktu..

Tak terasa, pendaftaran lomba blog remaja akan segera ditutup. Jadi, silakan segera daftarkan diri sebelum 12 September ini kalau Anda belum mendaftar. Masih ada waktu sekitar satu minggu untuk membuat artikel yang ciamik dan nyambung dengan dunia remaja.

Temanya gampang dibahas, kok. Soal kesehatan reproduksi dan dan seksualitas remaja, Narkoba, HIV dan AIDS, lingkungan, maupun kemanusiaan. Buat tulisannya jangan serius-serius. Yang santai saja. Biar nanti enak bacanya. Kalau asik dan dapat juara pertama, lumayan bisa dapat duit Rp 1,5 juta. Atau Rp 500 ribu untuk juara ketiga.

Continue reading “Mendaftarlah, Mumpung Masih Ada Waktu..”

Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani

Dari tiga tempat lain yang dikunjungi peserta partner meeting VECO Indonesia Selasa ini, aku pilih ke petani kopi di Kintamani. Sebab dua tempat lain, pengolahan kakao di Selemadeg Tabanan dan petani sayur di Pancasari Bedugul, aku sudah pernah kunjungi. Dan, menurutku, perjalanan ini memang sangat menarik.

Kunjungan lapangan ke tiga tempat ini merupakan bagian dari agenda partner meeting VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja paruh waktu. Pertemuan mitra tahunan ini diadakan di Lovina antara 24-28 Agustus ini. Pada hari ketiga pertemuan, sekitar 90 peserta itu dibagi jadi tiga kelompok untuk berkunjung ke tiga lokasi. Aku pilih yang ke Kintamani karena aku belum pernah ke sini.

Continue reading “Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani”

Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?

Ini diskusi paling hangat di pertemuan tahunan mitra VECO Indonesia hari ini. Lembaga di mana aku kerja part time ini sedang menggelar pertemuan tahunan. Sekitar 90 orang dari mitra-mitra di Flores, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Bali ini berkumpul di Hotel Sunari Lovina Buleleng.

Pertemuan tahunan ini dimulai tadi pagi. Namun peserta sudah sampai di hotel sejak kemarin sore. Semalam kami sudah berkenalan satu sama lain. Latar belakang sebagian besar peserta adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping petani. Hanya sedikit organisasi petani atau malah petani itu sendiri. VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja part time memang lebih banyak berhubungan dengan LSM pendamping petani dibanding dengan petani langsung.

Continue reading “Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?”

Proud to be Part of BBC

Masih euforia oleh-oleh dari bakti sosial BBC Goes to RSJ, Pitulasan ala Bali Blogger Community (BBC). Tulisan ini anggap saja sebagai koreksi atas tulisanku sebelumnya soal BBC yang rame di milis tapi sepi kegiatan. Bagiku, bakti sosial pas peringatan 17 Agustus alias pitulasan lalu membantah tulisanku itu sendiri.

BBC kini makin bergerak maju. Kami tak melulu ribut di dunia maya. Kami bisa berbuat sesuatu untuk dunia nyata. BBC Goes to RSJ membuktikan itu. Meski, bagi banyak orang mungkin kecil banget, tapi bagiku ini langkah keren untuk membuktikan kalau kami juga peduli pada kelompok yang terlupakan.

Continue reading “Proud to be Part of BBC”

Perkembangan yang Ada. So Far..

Tumpukan sumbangan di rumahku terus bertambah. Barusan Novan datang bawa satu tas plastik pakaian. Tadi sore, pas pulang kerja aku juga bawa dua plastik besar sumbangan dari Raras dan Budi, dua teman di tempat kerja paruh waktu. Pakaian bekas itu akan kami sumbangkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli pas Pitulasan nanti.

Yap, persiapan BBC Goes to RSJ sepertinya makin lancar.

Tiga sumbangan itu menambah daftar panjang sumbangan yang sudah terkumpul. Di rumahku sudah ada sumbangan dari Fenny, Bli Pande, Wasti, dan Bani. Semuanya pakaian bekas. So far sih masih berupa pakaian bekas, belum ada yang nyumbang duit, alat kebersihan, sabun, odol, dan lain-lain. But, setidaknya ini kabar menggembirakan, Sodara-sodara..

Continue reading “Perkembangan yang Ada. So Far..”