May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis

Tiap 1 Mei, kaum buruh sedunia memperingati hari buruh internasional yang akrab disebut May Day. Sejarah May Day berawal dari Amerika Serikat ketika buruh di negara industri itu mulai sadar untuk menolak eksploitasi berlebihan terhadap tenaga mereka. Saat itu, pada 1889, melalui perjuangan heroik dan berdarah-darah, buruh di Amerika bisa memperjuangkan agar mereka bisa bekerja maksimal hanya delapan jam tiap hari.

Hasil perjuangan berdarah ini kemudian adalah diterapkannya delapan jam kerja tiap hari sebagai standar perburuhan internasional. Maka, sejak 1 Mei 1890, kaum buruh sedunia pun menjadikan hari itu sebagai momentum untuk merayakan hasil perjuangan itu. Pada perjalanannya, May Day kemudian juga menjadi waktu untuk meneriakkan tuntutan agar buruh mendapat imbalan yang layak atas jerih payah mereka.

Continue reading “May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis”

Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Continue reading “Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja”

Gagal Maning Gagal Maning

Hmm, padahal aku sudah PD setengah mati bakal lolos seleksi dan bisa jalan-jalan ke Kanada tahun ini. But, ternyata gagal. Sepertinya pasportku tidak akan bertambah stempel (meski cuma sekali) lagi tahun ini. Hiks..

Dear Anton,

I have been trying to send your emails but they kept bouncing back. I hope this goes through.

This year’s Call for Applications for WITNESS’ 2008 Video Advocacy Institute (VAI) produced an overwhelming response from human rights activists from around the globe. We received 200 applications from 65 different countries, and are only able to extend an invitation to 30 applicants. Unfortunately, we are unable to extend an invitation to you to this year’s VAI, and hope that you understand that this is not a reflection on the importance of your human rights work.

Continue reading “Gagal Maning Gagal Maning”

Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)

jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advertorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Continue reading “Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)”

Ancaman di Balik UU ITE

Setelah kemarin aku nulis sedikit materi, apresiasi, dan pertanyaan seputar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sekarang waktunya ngomong soal terakhir, ancaman UU ITE pada blogger.

Tiga hal yang menjadi perhatianku adalah soal ancaman hukuman penjara bagi blogger, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dan penyeragaman informasi oleh negara. Bagi sebagian orang, ancaman ini mungkin dianggap berlebihan. Tapi menurutku sah-sah saja. Kalau sudah ada aturan, negara atau seseorang jadi punya alasan untuk membawa persoalan ini ke tingkat hukum.

Continue reading “Ancaman di Balik UU ITE”

Setelah UU ITE Disahkan

Setelah seminggu ini membaca, menelaah, mencari referensi, dan seterusnya, akhirnya aku bisa juga nulis soal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). *Mimih serius sajan noq*. Kemarin sempat mau langsung bikin tulisan soal UU yang disahkan DPR seminggu lalu tersebut. Waktu itu sih pendekatannya soal pornografi. Tapi waktu itu aku belum baca detail UU tersebut dan lebih banyak dapat dari media. Takut aja sih tidak kuat argumennya. Juga khawatir lebih banyak asumsi berdasarkan berita di media.

Dan, setelah kubaca berulang-ulang tiap pagi pas baru bangun di saat otak masih segar, aku mulai bisa menganalisisnya secara tajam dan terpercaya. Hahaha..

Pertama soal apresiasi atas lahirnya UU ini. Setelah sekian lama dikritik banyak pihak sebagai negara yang tidak terlalu peduli pada kemajuan teknologi informasi (TI) karena tidak punya UU tentang TI, akhirnya Indonesia punya juga aturan ini. Jadi, meski masih sebatas UU, belum ada peraturan pemerintah dan penjelasan teknis lainnya, UU itu membuktikan bahwa pemerintah mulai peduli soal ini. Meskipun masih penuh catatan di sana sini, UU ini perlu diapresiasi.

Continue reading “Setelah UU ITE Disahkan”

Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu

Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀

Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

Continue reading “Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu”

Resistant virus threatens people with HIV/AIDS

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 02/08/2007 4:57 PM | Life

Anton Muhajir, Contributors, Denpasar

Thirty-four-year Agung has serious problems with his eyesight. His right eye is not functioning at all, while the vision in his left eye is filled with black dots. Agung works as a truck driver delivering gasoline from the Pesanggaran area of South Denpasar to places throughout the provincial capital of Bali.

For the last few months, Agung could no longer see things clearly. The father of one can see nothing but blurred images within a five-meter distance.

Continue reading “Resistant virus threatens people with HIV/AIDS”

Photos reveal strength, optimism

The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 05/26/2006 1:25 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post, Denpasar, Bali

Anybody could sense the tristesse in his faltering voice. Yet, along with the anguish there was also a trace of hard-nosed realism to his words. Robbie Baria, a young photographer, both lamented and rejoiced at the weeks he had spent with a poor, HIV-infected housewife at Pemuteran, a coastal village in northern Bali.

“”The entire experience has deeply affected my life. It put me in face-to-face contact with the harsh reality of poverty and suffering. On the other hand, it also introduced me to an individual, who, above all else, refused to give in to one of the world’s brutal tragedies,”” he said.

Continue reading “Photos reveal strength, optimism”