Welcome to Kawin Kontrak Room..

Perbatasan Timor Leste

Setelah selesai liputan tentang organisasi petani di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), teman dari Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) menyampaikan penawaran menarik. “Mau ke perbatasan Timor Leste gak? Tidak jauh, kok. Hanya sekitar 8 km,” katanya.

Yap. Tentu saja kesempatan yang harus digunakan. Belum tentu besok-besok akan ke sini lagi.

Continue reading “Welcome to Kawin Kontrak Room..”

Cermin Buruknya Pelayanan Publik

Pesawat Batavia

Akhir Oktober lalu, aku harusnya pergi ke Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk liputan tentang pelayanan publik terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Liputan tersebut untuk majalah ACCESS, yang diterbitkan Sloka Institute untuk media informasi program ACCESS Tahap II.

Namun dua hari menjelang keberangkatan, aku ditelpon perusahaan penerbangan Trans Nusa, satu dari dua maskapai yang melayani penerbangan ke Sumba. Si mbak menelpon bilang kalau penerbangan ke Sumba dibatalkan karena alasan operasional. Tidak jelas masalah operasional itu seperti apa.

Continue reading “Cermin Buruknya Pelayanan Publik”

Tiada Henti Judi di Bali

Karena lama tidak ngobrol dengan tetangga di gang rumah, malam ini aku ikut kumpul dengan mereka. Tempatnya di halaman salah satu warga. Biasanya sih para lelaki tetangga ini pada kumpul di gang saja. Tapi tumben malam ini di halaman rumah jadi tidak kelihatan dari jalan.

Oalah. Pantes. Ternyata mereka sedang main kartu. Enam orang duduk melingkar. Satu di antaranya masih SMP. Sisanya sudah sudah punya anak semua. Hampir semuanya bertelanjang dada di suhu Denpasar yang memang panas malam ini.

Continue reading “Tiada Henti Judi di Bali”

Besok-besok, Kasi Tau ya..

Serius. Dari awalnya sebenarnya aku tidak tertarik memberikan Disclaimer atau Peringatan di blog ini. Aku merasa blog ini ya memang untuk tempat berbagi apa saja: pengetahuan, pengalaman, perasaan. Jadi aku merasa aneh kalau harus memperingatkan orang yang membaca tulisan di blog ini.

Tapi kasus dua buku yang mengambil tulisanku di blog tersebut ibarat lubang bagi keledai. Harus jadi pelajaran. Bahwa memang sebaiknya ada peringatan. Bukan untuk membatasi orang menggunakan informasi di dalam blog ini. Tapi untuk mengingatkan pada mereka yang suka mengomersialkan karya orang lain yang sebenarnya dibebaskan untuk siapa saja tanpa harus membelinya. Besok-besok kalau mau menjual karya orang lain itu mbok ya kasih tau dulu.

Continue reading “Besok-besok, Kasi Tau ya..”

Menghidupkan Kembali yang Hampir Mati

Bali Blogger Kumpul

Matinya listrik di Radio Bali FM sehingga Bali Blogger Community (BBC) batal siaran ternyata malah membawa berkah.

Minggu malam, pukul 7 hingga 8, adalah agenda rutin BBC untuk siaran di radio ini tentang blog. Agenda yang mulai sejak tiga minggu lalu ini merupakan bagian dari kegiatan BBC untuk mengenalkan blog pada masyarakat lebih luas. Nah, pada Minggu kemarin, tema siaran adalah tentang Menjaga Stamina Ngeblog.

Dua pembicara sudah siap, Pande Baik dan Wira Utama. Penjaga gawang siaran, Winarto, juga hadir seperti dua siaran sebelumnya. Ketiganya sudah mempersiapkan diri membagi ide dan cerita untuk menjaga stamina.

Continue reading “Menghidupkan Kembali yang Hampir Mati”

Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi

Memenuhi permintaan tulisan kuliner dari sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta, saya pun berkunjung ke kafe di jalan Pulau Kawe ini. Kafe ini khusus menjual mie dalam aneka olahan yang memang menggiurkan.

Saya sudah pernah menulisnya sekitar setahun lalu untuk majalah kuliner yang lain. Karena itu ketika ada permintaan menulis kembali kafe ini, saya menerimanya dengan senang hati. Sebab selain menunya yang khusus, berbagai olahan mie, itu disajikan dalam olahan enak, kafe ini juga bagus karena suasananya yang asik. Kafe ini memang layak direkomendasikan sebagai tempat bersantap.

Continue reading “Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi”

Suara Mengaji di Cafe Senggigi

Berkunjung ke Senggigi, kawasan wisata paling tersohor di Lombok, pada bulan Puasa ternyata memiliki keunikan tersendiri. Suara orang tadarus di antara dentuman musik cafe atau lalu lalang orang usai tarawih di depan turis-turis menenggak bir jadi hal lumrah. Bagiku, kebersamaan dua sisi yang sering kali diposisikan berseberangan itu, adalah hal unik.

Kenikmatan duniawi, yang bagi sebagian orang adalah terlarang, nyatanya bisa berdampingan dengan kenikmatan rohani, yang bagi sebagian orang lain adalah ilusi.

Continue reading “Suara Mengaji di Cafe Senggigi”

Sudah Bayar Dibentak Pula

Petugas berbaju batik putih biru itu menghalangi jalanku keluar dari gerbang Bandara Ngurah Rai Rabu pukul 9.30 Wita pagi ini. Dia berhenti dengan sepeda motornya di tengah satu-satunya jalur untuk keluar bandara tersebut.

Aku tekan bel. Dia lalu mundur dengan tatapan tak bersalah, apalagi minta maaf. Tidak apa-apa. Bukan masalah besar.

Continue reading “Sudah Bayar Dibentak Pula”

Semburat Jingga dari Atas Awan

Kabut tebal menyambut perjalanan kami pagi pukul 4 pagi itu. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Sinar lampu sepeda motor yang kami tumpangi tak berdaya melawan pekatnya kabut pagi itu.

Tebalnya kabut itu sudah terasa sejak aku meninggalkan penginapan di Cemorolawang, Probolinggo, di kawasan Bromo. Kabut itu bercampur dengan asap yang keluar dari mulutku tiap kali menghembuskan nafas.

Continue reading “Semburat Jingga dari Atas Awan”

Sekilas Mengenal Hindu Tengger

Setiap perjalanan adalah upaya untuk berdialog tentang sebuah kebudayaan. Begitu pula perjalanan sepanjang lautan pasir menuju Gunung Bromo. Suko, pemuda 23 tahun yang sudah jadi pemandu kuda selama tujuh tahun, bisa menjadi teman perjalanan sekaligus pemandu yang menyenangkan. Dia fasih menjelaskan tiap hal yang aku tanyakan tentang kebudayaan masyarakat setempat.

Salah satu yang membuatku tertarik ke Bromo, Probolinggo adalah para penunggang kuda dan lautan pasirnya. Maka begitu sampai di Cemorolawang, salah satu desa gerbang menuju Gunung Bromo, aku langsung cari kuda untuk menuju Bromo.

Continue reading “Sekilas Mengenal Hindu Tengger”