Napak Tilas Dian Sastro Ngesot

Jalur Probolinggo – Cemorolawang akhirnya jadi pilihanku untuk menuju Bromo. Jalur ini satu dari setidaknya empat jalur yang bisa ditempuh jika ingin ke Gunung Bromo. Tiga jalur lain ke Bromo Pasuruan – desa Wonokitri, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno dari Lumajang. Untuk sampai di Cemorolawang dari terminal Probolinggo perlu waktu 1,5 jam naik angkutan umum dengan jalan menanjak berkelok-kelok sekitar 30 menit terakhir. Tarif angkutan ini Rp 20 ribu – Rp 25 ribu.

Gunung ini secara administratif masuk Kabupaten Probolinggo. Cemorolawang adalah desa terakhir yang aku temui sebeum turun ke lautan pasir menuju Gunung Bromo. Di dusun yang masuk desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro ini ada fasilitas untuk turis seperti hotel, restoran, bahkan ATM BNI.

Continue reading “Napak Tilas Dian Sastro Ngesot”

Setelah Dua Minggu Terabaikan

Naik Kuda di Bromo

Ya, aku tahu. Blog ini lama tidak terurus. Kalau dilihat dari posting terakhir sih berarti persis dua minggu lalu aku nulis di blog ini. Terlalu banyak alasan untuk dipakai ngeles. Nah, daripada hanya sibuk cari alasan, mending kasih update sajalah. Inilah kerjaan dan kegiatan yang memang bikin selama sekitar sebulan, atau malah lebih ya?

Pertama dua tulisan panjang. Tulisan pertama adalah laporan tindak kekerasan oleh polisi di kalangan pengguna heroin suntik alias injecting drug user (IDU). Ini tulisan lama yang aku janjikan buat teman-teman IDU yang tergabung di Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. Apa daya, meski sudah lama aku janjikan, tulisan ini tertunda agak lama.

Continue reading “Setelah Dua Minggu Terabaikan”

Pesan Cumi, Cuma Mimpi

Memenuhi undangan seorang teman, aku, Bunda, dan Bani pun mencoba satu restoran baru di jalan Dewi Madri Renon. Jumat malam lalu, kami pun ke sana dengan perut keroncongan. Pokoknya sudah siap tempurlah..

Suasana restoran yang baru buka sekitar seminggu ini asik. Semua warna bantal dan sandaran kursi yang merah ngejreng mengingatkanku pada restoran Rosso Vivo, yang kemudian diikuti resto sebelahnya, Ocean Beach di jalan raya Pantai Kuta. Dua resto ini tak hanya menawarkan makanan dan minuman tapi juga suasana.

Continue reading “Pesan Cumi, Cuma Mimpi”

Perempuan Terbaik yang Pergi Itu

IMG_6358

Husnul Khotimah adalah salah satu perempuan terbaik bagiku.

Ketika aku masih SMP, atau malah SD, dia sudah mengajari tentang tak adilnya pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan, katanya, lebih sering hanya jadi pembantu di rumah tangga. Di sisi lain laki-laki lebih banyak menuntut.

Continue reading “Perempuan Terbaik yang Pergi Itu”

Boleh Curang Asal Tenang

Setelah sekitar dua minggu beruntun sakit, komputer kena virus conficker, dan pontang panting ngurus pemantauan Pemilihan Presiden, kini saatnya aku kembali ngeblog. Mumpung lagi hangat-hangatnya, fresh from the oven, aku nulis soal Pilpres saja.

Pada Pilpres kali ini aku akhirnya ikut Golput. Bukan karena sesuatu yang ideologis, tapi semata praktis, males. Hehe..

Continue reading “Boleh Curang Asal Tenang”

Tempat Nongkrong Para Kalong

Kalong yang aku maksud adalah mereka yang suka begadang hingga larut malam. Atau bisa saja mereka yang setidaknya keluar ketika gelap sudah datang. Sebagai kota urban, Denpasar juga punya beberapa tempat untuk nongkrong ketika malam.

Tentu saja jumlahnya juga bejibun. Tapi dari sekian tempat itu, hanya sedikit tempat yang aku pilih sebagai tempat favorit. Di antaranya ada di bawah ini. Ciri khas utama tempat-tempat ini adalah sama-sama jual makanan dan murah meriah.

Continue reading “Tempat Nongkrong Para Kalong”

Kehilangan Keluarga di Dunia Maya

Makin hari aku memang makin merasakan kehilangan keluarga di dunia maya ini. Aku pernah berpikir ini mungkin hanya sementara waktu. Mungkin sebagian orang sedang jenuh dengan suasana akrab yang kadang kebablasan bagi sebagian lain.

Tapi kok aku makin merasa khawatir. Jangan-jangan keluarga baru ini memang makin ditinggalkan anggota keluarganya sendiri.

Continue reading “Kehilangan Keluarga di Dunia Maya”

Menangisi Kembali Laskar Pelangi

Wow, lama sekali aku gak ngeblog. Lebih dari seminggu nok. Mungkin karena semangat ngeblog memang makin berkurang gara-gara Facebook. *ngeles. Jadi ya sudah. Tulis saja soal nonton layar tancap di Taman 65 tadi.

Barusan kami kembali menonton Laskar Pelangi, film yang diangkat dari novel laris Andrea Hirata dengan judul yang sama. Nonton kali ini agak beda. Kalau sebelumnya kami bertiga, -aku, bunda, dan bani- nonton di Wisata 21, yang semalem nontonnya di Taman 65, Kesiman. Mirip layar tancap, pemutaran film untuk banyak orang di lapangan. Penonton juga duduk lesehan.

Meski dalam suasana dan tempat yang berbeda, reaksiku ke film ini juga sama: sesenggukan pas liat beberapa adegan. Padahal ketika baca novelnya, aku merasa tidak ada yang luar biasa seperti yang ditulis banyak orang. Aku merasa, film Laskar Pelangi lebih bisa menyentuh dan membangun kembali ingatanku tentang masa lalu dibanding bukunya.

Continue reading “Menangisi Kembali Laskar Pelangi”