Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung

Malam ini bulan masih terlihat penuh. Kemaren sih Purnama Kapat dalam penanggalan Bali. Ini hari baik, meski semua hari juga baik. Pas Purnama Kapat, banyak banget pura yang ngadain Odalan -upacara enam bulan sekali dalam penanggalan Bali.

Pas di jalan ketika aku balik dari kirim laporan di internet, aku ketemu beberapa remaja habis sembahyang di pura. Masih dengan pakaian adat mereka duduk-duduk di pinggir jalan. Ada juga yang naik motor pelukan sama pasangannya. Tiap purnama, umat Hindu di Bali memang banyak yang sembahyang di Pura Jagatnatha Denpasar.

Continue reading “Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung”

Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek

Suara puja dalam bahasa Khmer mengalun dari pengeras suara sebuah kuil kecil di Choeung Ek, sekitar 15 km barat daya Phnom Penh, ibukota Kamboja. Puja itu iramanya sama dengan azan dari masjid atau kidung dari pura. Ketika mendengar pertama kali, aku bahkan mengira suara orang mengaji. “Tapi apa iya di tempat ini ada masjid?” pikirku.

Dari Tan Surya, sopir taksi sekaligus pemandu perjalanan, aku baru tahu bahwa suara itu adalah puja biksu dari kuil atau pagoda. Hari itu, hari terakhir di Kamboja setelah selesai kursus.

Continue reading “Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek”

Cerita Negara dengan Luka dan Trauma

Sudah sebulan lalu lalu pulang dari Kamboja. But, baru sekarang bisa nulis cerita selama di sana. Tidak masalah meski telat. Yang penting kan aku masih menyimpan cerita itu. Syukur-syukur kalo ada yang baca cerita ini. Ya, barangkali bisa jadi referensi atau sekadar tempat berbagi.

Aku berangkat karena kebaikan hati teman-teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka mendaftarkan aku ikut seleksi Investigative Reporting Course yang diadakan Philippine Centre for Investigative Journalism (PCIJ) dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Bangkok. Tidak ada salahnya dicoba kan? Eh, ternyata aku lolos seleksi mewakili media tempatku bekerja. Padahal cuma modal nekat. 🙂

Continue reading “Cerita Negara dengan Luka dan Trauma”

Kamboja, Boleh Juga

Masih di Kamboja,

Ini hari terakhir sebelum besok balik ke Indonesia. Seminggu di sini lumayan juga. Kenal wartawan dari negara tetangga dan belajar dari mereka. Yg dari Filipina terutama, asik banget kayaknya krn didukung undang2 yg emang udah bagus dan terbuka. Panteslah kalo mrk sampe bisa bikin Estrada mundur.

Seharian tadi jalan2. Ke Killing Field, Champa, dll. Asik juga. Apalagi ceweknya cakep2 dan sexy. 🙂 But, kenapa ya kok orang sini lebih suka pake dollar Amrik daripada riel, uang mereka. Amrik emang bener2 penjajah semuanya!

– dari pinggir sungai Tonle Sap, Phnom Penh. Di sini gerimis. Romantis banget-

Untunglah Tetap Semangat..

Dor!

Sekarang di salah satu pojok gate E1, Bandara Changi, Singapore. Aku dalam perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja utk ikut kursus jurnalisme investigasi sampe 1 Agustus ntar. Sejak dari Bali tadi pagi, di Jakarta, dan sekarang fisikku masih payah. Pilek, demam, dan sedikit pusing. Padahal aku udah minum Sanaflu. Ya, untunglah semangat tetap menyala! He.he.

Ok. Ntar lagi pesawat Silk Air take off. Aku harus siap2.

-dari s’pore jam 3.30 waktu setempat-

Mengkaji Mitos Modern Bernama Barbie

Resensi Buku Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme

Boneka Barbie mengkomodifikasi piranti bermain gadis kecil menjadi sebuah mitos tentang kecantikan. Melalui buku ini, Mary F. Rogers menyatakan bahwa boneka Barbie adalah ikon rasisme, seksisme, konsumerisme, dan materialisme.

Awalnya, Elliot Handler membuat boneka Barbie hanya karena anak perempuannya, Barbara Handler tertarik pada sebuah boneka Lili yang dilihatnya ketika belanja selama liburan di Swiss pada 1956. Boneka Lili merupakan boneka produksi Jerman yang diilhami kartun strip dan dibuat sebagai simbol seks bagi laki-laki. Tiga tahun kemudian, Mattel Inc memproduksi boneka Barbie. Mattel Inc, sendiri didirikan Elliot bersama temannya Harold Matson pada 1944. Makanya perusahaan itu bernama Matt (dari Matson) dan El (dari Elliot). Barbie yang kemudian menjadi ikon budaya itu juga meminjam nama anak Elliot, Barbara. Demikian pula pacar Barbie, Kendra. Dalam kehidupan nyata, Barbie dan Ken adalah dua bersaudara. Namun dalam imajinasi produksi Mattel, keduanya adalah sepasang kekasih.

Continue reading “Mengkaji Mitos Modern Bernama Barbie”