Iklan XL Itu Merendahkan Pelanggan

Sejak awal punya nomor pribadi di telepon seluler (ponsel) pada 2001 aku memilih nomor XL. Alasanku waktu itu karena harga XL yang paling terjangkau. Aku lupa persis berapa harganya saat itu. Tapi yang pasti aku ingat, nomor ini yang bisa kubeli dibanding Mentari atau Simpati, dua operator besar lainnya.

Artinya, aku memilih nomor ini bukanlah tanpa mikir. Meski jaringan XL tidaklah sebagus Simpati –yang setauku memang menggunakan jaringan Telkom- atau Mentari, aku tak pindah ke lain hati.

Continue reading “Iklan XL Itu Merendahkan Pelanggan”

Selamat Hari Blogger, Indonesia..

Talkshow di TV One pagi tadi mengingatkanku. Hari ini, Senin ini (27/10) ternyata Hari Blogger Nasional. Sejarah Hari Blogger Nasional berawal setahun lalu, 27 Oktober 2007. Saat itu sekitar 500 blogger bertemu di Jakarta dalam Pesta Blogger yang untuk pertama kali diadakan. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Muhammad Nuh yang hadir saat itu kemudian memutuskan tanggal itu sebagai Hari Blogger.

Maka, hari ini pun kembali diperingati sebagai Hari Blogger. TV One menjadikan hari ini sebagai cantolan untuk membuat dialog pagi dalam Apa Kabar Indonesia. Ada Enda Nasution, yang diberi predikat sebagai Bapak Blogger Indonesi; Angelina Sondakh, anggota DPR yang juga blogger; serta orang dari Depkominfo yang aku lupa namanya.

Continue reading “Selamat Hari Blogger, Indonesia..”

Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat

Sejak kecil, bayanganku tentang Surabaya tuh cenderung sesuatu yang negatif. Mungkin karena beberapa cerita dari kakak dan tetanggaku. Mereka bercerita bagaimana ditodong pisau ketika di tengah angkutan kota. Malah, kakakku sendiri mengalami bagaimana harus melompat dari taksi karena dia ditodong orang. Ada pula teman bercerita kalau dia pernah diacungi celurit saat naik kendaraan umum.

Maka, Surabaya jadi kota yang sarat kekerasan di mataku. Itu pula alasan aku tak terlalu ingin menikmati kota ini lebih detail. Padahal jarak antara Surabaya dan Lamongan, tempatku lahir dan besar, juga tak terlalu jauh. Tiap kali lewat, aku benar-benar hanya lewat. Hampir tak pernah berniat singgah untuk tahu lebih banyak.

Continue reading “Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat”

Tentang Desa di Persimpangan Jalan

Berjarak sekitar 2 km dari pesisir utara Jawa membuat kampung halamanku, Mencorek, sangat panas. Dibanding Denpasar, tempat tinggalku sekarang, desa di bagian utara Kabupaten Lamongan ini jauh lebih panas. Tak heran, pas aku mudik pekan lalu, tanah di sawah sebelah rumahku sampai retak. Oktober ini lagi panas-panasnya.

Kalau siang, meski semua pintu sudah dibuka, kami masih pakai kipas. Pas aku main ke beberapa rumah, ternyata hampir semua rumah punya kipas angin. Barang ini seperti jadi salah satu barang wajib, selain TV, di tiap rumah.

Continue reading “Tentang Desa di Persimpangan Jalan”

Super Toy ala Super Boy

Peristiwa pembakaran padi Super Toy oleh petani di Purworejo jadi peristiwa paling menarik bagiku pekan lalu. Berita itu pertama kali aku lihat di TV Kamis pekan lalu. Puluhan petani di Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu membakar tumpukan padi mereka yang mengalami gagal panen.

Mereka juga menuntut ganti rugi kegagalan itu pada investor proyek, PT Sarana Harapan Indopangan (SHI). Besarnya sekitar Rp 1,6 milyar. Petani menuntut ganti rugi karena mereka merasa ditipu oleh investor tersebut. Ketika mengenalkan padi itu pada petani lalu menanam pada Desember 2007, PT SHI mengatakan kalau padi itu bisa panen hingga 10 ton per hektar. Juga padi itu bisa panen sampai tiga kali untuk satu kali musim tanam.

Continue reading “Super Toy ala Super Boy”

Susahnya Mengubah Humanis jadi Bisnis

supcet

Untuk pertama kalinya Jumat (29/08) kemarin aku ikut ngobrol sambil nyeruput sup alias Soup Chat. Acaranya asik banget. Informal. Tapi isinya sangat serius, soal creative economy. Sayangnya tidak ada waktu khusus untuk saling mengenal. Jadi aku tidak bisa kenal satu per satu, kecuali dengan rombongan belogger Bali Blogger Community (BBC).

But, sebelum itu, aku tulis dulu soal Sup Chat. Obrolan santai kemarin sudah obrolan keduapuluh dari komunitas ini. Aku baca dari profil di situsnya, komunitas diskusi ini berawal dari kegelisahan kurangnya media untuk ngobrol di Denpasar. Aku kopas aja deh sebagian isinya.
Continue reading “Susahnya Mengubah Humanis jadi Bisnis”

Inilah Zaman Tuyul Pakai Wifi

Desas-desus itu terbukti juga. Aku dan Bunda membuktikannya Sabtu pekan lalu. Kami melihat dengan mata kepala sendiri. Bungkusan kecil, seukuran jempol kaki, berwarna oranye di bawah meja itu membuatku yakin akan ketidakjelasan zaman kaliyuga ini. Hehe..

Sekitar dua bulan sebelumnya, dari Bunda aku mendengar cerita Ike dan Saylow. Ada satu cafe di daerah Renon yang pakai jampi-jampi atau semacamnya. Intinya pakai kekuatan supranatural untuk menarik pengunjung. Jampi-jampi itu berupa bungkusan kecil yang ditaruh di bawah meja. Lucunya, cafe itu juga menyediakan free wifi.

Continue reading “Inilah Zaman Tuyul Pakai Wifi”

Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?

Ini diskusi paling hangat di pertemuan tahunan mitra VECO Indonesia hari ini. Lembaga di mana aku kerja part time ini sedang menggelar pertemuan tahunan. Sekitar 90 orang dari mitra-mitra di Flores, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Bali ini berkumpul di Hotel Sunari Lovina Buleleng.

Pertemuan tahunan ini dimulai tadi pagi. Namun peserta sudah sampai di hotel sejak kemarin sore. Semalam kami sudah berkenalan satu sama lain. Latar belakang sebagian besar peserta adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping petani. Hanya sedikit organisasi petani atau malah petani itu sendiri. VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja part time memang lebih banyak berhubungan dengan LSM pendamping petani dibanding dengan petani langsung.

Continue reading “Pilih Kedaulatan Pangan atau Rantai Pertanian Berkelanjutan?”

Proud to be Part of BBC

Masih euforia oleh-oleh dari bakti sosial BBC Goes to RSJ, Pitulasan ala Bali Blogger Community (BBC). Tulisan ini anggap saja sebagai koreksi atas tulisanku sebelumnya soal BBC yang rame di milis tapi sepi kegiatan. Bagiku, bakti sosial pas peringatan 17 Agustus alias pitulasan lalu membantah tulisanku itu sendiri.

BBC kini makin bergerak maju. Kami tak melulu ribut di dunia maya. Kami bisa berbuat sesuatu untuk dunia nyata. BBC Goes to RSJ membuktikan itu. Meski, bagi banyak orang mungkin kecil banget, tapi bagiku ini langkah keren untuk membuktikan kalau kami juga peduli pada kelompok yang terlupakan.

Continue reading “Proud to be Part of BBC”

Berbagi Jotan Saat Galungan

Met Galungan

Sekitar pukul 7 pagi ini. Saya beserta anak dan istri masih lagi asik main di dapur untuk bikin sarapan. Gede Santika, tetangga kami, sudah mengetuk pintu gerbang rumah. Saya beranjak keluar membuka pintu. Menemuinya.

Gede, murid kelas II SMP yang hampir tiap hari main di ruangan depan rumah kami seperti sebagian besar anak di gang kami, sudah berpakaian adat madya. Berbaju safari dengan bawahan kamen (sarung) dan udeng di kepala. Dia membawa jotan untuk kami.

Continue reading “Berbagi Jotan Saat Galungan”