Kesurupan Mantram Tropical Transit

Sabtu (2/8) lalu saya ikut perayaan mengenang dr AA Made Djelantik, pangeran dari Puri Karangasem yang meninggal September 2007 lalu. Perayaan ini digelar di Taman Ujung Sukasada, taman air sisa kejayaan Kerajaan Karangasem. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk datang. Tapi karena istri saya ngotot ingin hadir di sana, jadi ya kompromi saja.

Satu hal yang membuat saya tetap mau datang, meski tidak terlalu antusias, adalah karena bedah buku yang akan menghadirkan Goenawan Mohamad, biasa dipanggil GM atau Mas Gun. GM bukan hanya wartawan dan sastrawan tapi, bagi saya, juga salah satu filsuf yang sering memberi perspektif alternatif ketika melihat masalah. Maka, kami pun tetap ke Karangasem untuk hadir pada perayaan tersebu.

Continue reading “Kesurupan Mantram Tropical Transit”

Ketika Pura Berganti Vila

Wadepak! Ternyata sudah lima hari tidak ngeblog. Padahal kemarin ada beberapa ide yang masuk. Cuma karena lima hari ini ngurus adik yang lagi liburan di Bali, liputan kuliner di akhir deadline, dan ngurus rumah di akhir pekan, jadinya lupa nulis.

Yowis. Nulis saja yang ada di kepala. Maunya tadi nulis soal Pantai Bias Putih di Desa Bugbug Karangasem, eh, aku lupa bawa fotonya. Padahal seperti kata beberapa teman, nulis jalan-jalan tanpa skrinsut itu sama dengan bull shit. πŸ˜€ Jadinya nulis soal pantai keren ini ditunda saja dulu.

Continue reading “Ketika Pura Berganti Vila”

Menang Kalah Tidak Masalah

Yap, akhirnya aku pun milih hari ini. Pilihanku pasangan Gede Winasa – Alit Putra. Ini sebagai bagian dari keterbukaan. Kenapa juga harus malu-malu dengan pilihan kita. Toh, tiap pilihan selalu ada risikonya. Begitu juga dengan Pilgub Bali kali ini.

Pilihanku sebenarnya antara Winasa dan Pastika. Sebab kalau CBS sudah jelas tidak jelas programnya. Dalam beberapa kali debat, aku tidak pernah nemu hal menarik dari apa yang disampaikan CBS – Suweta.

Continue reading “Menang Kalah Tidak Masalah”

Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam

Sekitar sepuluh hari lalu aku tertawa dalam hati ketika melihat tayangan TV One soal ikan blodog. Dalam acara 1001 Dunia itu disebut bahwa ikan bernama bahasa Inggris mudskipper itu merupakan salah satu ikan langka di dunia. Sebab blodog hidupnya lebih banyak di darat. Berbeda dengan ikan lain yang hidupnya di dalam air.

Menurut acara yang dipandu Nugie itu, ikan bernama latin Periophthalmus modestus ini adanya di Nikaragua dan satu negara lagi yang aku lupa namanya. Kalimat inilah yang bikin aku ketawa sendiri.

Continue reading “Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam”

Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu

Tentu saja setiap orang ingin jadi abadi. Atau setidaknya dikenang oleh orang lain. Atau, paling mentok, mengenang tentang dirinya sendiri. Banyak caranya. Orang zaman batu, pada zaman bahuela membuat coretan-coretan di dinding gua untuk mengenang sesuatu. Ada pula yang membuat arca, artefak, atau malah yang paling gila popularitas alias megalomania ya bikin semacam piramida, Taj Mahal, candi borobudur, dan seterusnya.

Waktu berlalu. Manusia toh tetap saja ingin mencoba menghentikan waktu itu, meski dia tidak mampu. Maka, manusia kemudian menemukan cara lain. Misalnya dengan gambar, foto, atau tulisan. Manusia tidak bisa menghentikan waktu. Tapi dia bisa mengabadikan kenangan dengan cara itu.

Continue reading “Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu”

Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Continue reading “Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan”

Ancaman di Balik UU ITE

Setelah kemarin aku nulis sedikit materi, apresiasi, dan pertanyaan seputar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sekarang waktunya ngomong soal terakhir, ancaman UU ITE pada blogger.

Tiga hal yang menjadi perhatianku adalah soal ancaman hukuman penjara bagi blogger, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dan penyeragaman informasi oleh negara. Bagi sebagian orang, ancaman ini mungkin dianggap berlebihan. Tapi menurutku sah-sah saja. Kalau sudah ada aturan, negara atau seseorang jadi punya alasan untuk membawa persoalan ini ke tingkat hukum.

Continue reading “Ancaman di Balik UU ITE”

Ketidakramahan yang Selalu Terulang

Seperti sudah kuduga, sambutan tidak ramah menyambut kami ketika masuk Hard Rock Cafe Minggu sore kemarin. Dengan muka galak dan tanpa senyum sama sekali, pelayan berseragam hitam-hitam itu bertanya pada kami. “Mau ngapain?” tanyanya dengan muka menyelidik seperti kami ini tiga orang yang harus dicurigai karena membawa penyakit sampar atau bom di balik baju kami.

Aku sedang nganterin dua anak tetangga, Gede dan Ayu, untuk menukarkan vocuher mereka di cafe tersebut. Mereka dapat hadiah voucher setelah menang lomba menghias bunga Nak Nik Community dua pekan lalu.

“Mau pinjem toliet,” kataku dalam hati. Ya, makan atau minumlah. Masak masuk cafe mau ngapain. Atau kalau memang mau nanya baik-baik, kan bisa saja sambutannya adalah, “Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”. Hi, Guys. Pariwisata adalah tentang keramahan pada orang lain, tidak hanya pada orang-orang berkulit putih, jangkung, yang kalian sebuat sebagai turis itu.

Continue reading “Ketidakramahan yang Selalu Terulang”

Teknologi Ini Telah Mengubah Kami

Ada yang lucu pas aku main ke rumah Bli Pande Kamis kemarin. Aku, Wawan, Novan, Bunda, Bani, dan Bayu menjenguk anaknya Bli Pande yang lahir Selasa lalu. Pas aku tanya siapa nama anaknya, Bli Pande yang juga anggota Bali Blogger Community (BBC) ini menjawab dengan yakin, “Baca saja di blog.”

Sekitar seminggu lalu, jawaban yang sama juga dibilang sama Bunda ketika aku tanya soal cerita hari itu. Kami memang biasa ngobrol saling cerita apa yang terjadi hari itu pas malam menjelang tidur. Waktu itu Bunda baru saja habis pasang alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan. Pas aku tanya, dengan yakin dia menjawab, “Baca saja di blog.”

Dua jawaban ini seperti nonjok aku pas di muka sambil bilang, “Rasain Lu!” Hehe.

Continue reading “Teknologi Ini Telah Mengubah Kami”

Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku

Pan Belog pun ingkar janji. Selesai Nyepi lalu dengan sangat yakin dia bilang akan rajin cerita tentang hal-hal yang dia alami padaku. Kalau tidak salah sih dia bilang cerita itu pengennya dimuat setiap Sabtu atau Minggu di blogku atau di balebengong.net. Ternyata pekan ini dia telat. Padahal, dia sudah merasa diri seperti Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir tiap edisi di Majalah Tempo. Atau, ya setidaknya, sama dengan Sudira alias Aridus penulis tetap rubrik Obrolan Bale Banjar di Bali Post Minggu yang obrolannya lebih mirip obrolan mahasiswa S3 daripada di bale banjar karena saking tinggi dan beratnya tulisan di sana. Hehe..

But, ya begitulah. Pan Belog bisanya hanya mencela orang. Padahal dia sendiri nulis pun enggan, atau jangan-jangan malah tidak bisa sama sekali. Hihihi..

β€œTidak mau tidaklah berarti tidak bisa,” kelitnya.

Continue reading “Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku”