Ketika Pura Berganti Vila

17 , Permalink 0
Wadepak! Ternyata sudah lima hari tidak ngeblog. Padahal kemarin ada beberapa ide yang masuk. Cuma karena lima hari ini ngurus adik yang lagi liburan di Bali, liputan kuliner di akhir deadline, dan ngurus rumah di akhir pekan, jadinya lupa nulis.

Yowis. Nulis saja yang ada di kepala. Maunya tadi nulis soal Pantai Bias Putih di Desa Bugbug Karangasem, eh, aku lupa bawa fotonya. Padahal seperti kata beberapa teman, nulis jalan-jalan tanpa skrinsut itu sama dengan bull shit. ๐Ÿ˜€ Jadinya nulis soal pantai keren ini ditunda saja dulu.

Aku tulis saja salah satu obrolan pas liputan di Karangasem Kamis lalu. Liputan ini untuk bantu kontributor Financial Times. Temanya soal rencana pembangunan lapangan golf di Karangasem.

Salah satu narasumber pas liputan kemarin adalah I Wayan Mas Suyasa, Bendesa Adat Desa Bugbug. Pak Mas, begitu warga setempat memanggilnya, adalah tokoh desa setempat. โ€œMeskipun warna taplak meja ini putih, kalau Pak Mas bilang hitam, semua orang desa akan bilang hitam,โ€ kata salah satu warga soal betapa kuat pengaruh Pak Mas ini.

Pak Suyasa, aku memanggilnya begitu, -sebab aneh saja sih, bagiku yang lidah Jawa ini, untuk manggil โ€œPakโ€ bersama โ€œMasโ€-, mengeluhkan maraknya pembangunan fasilitas-fasilitas wisata di Bali. Pada zaman bahuela, para Resi dari Jawa yang datang ke Bali, membangun pura-pura di Bali di tempat-tempat yang dianggap punya kekuatan spiritual kuat (tenget). Kurang lebih begitu.

Maka, ini juga jadi kekagumanku tentang Hindu di Bali. Pura-pura besar di Bali banyak terletak di lokasi yang sebenarnya terisolir dan susah dicapai seperti puncak bukit, gunung, tebing, dan seterusnya. Pura Besakih, Pura Uluwatu, dan pura-pura lebih kecil lagi sebagian besar terletak di tempat-tempat yang tidak biasa.

Aku bayangkan, gila juga. Bagaimana orang pada zaman itu bisa membangun pura-pura bagus di lokasi-lokasi tersebut?

Tapi, menurut Pak Suyasa, pariwisata telah mengubahnya. Kini lokasi-lokasi terisolir dan punya vibrasi itu diisi dengan vila, hotel, dan semacamnya. Tidak heran misalnya, ketika aku lihat majalah real estate tentang Bali dua minggu lalu, lokasi yang paling banyak dicari adalah lokasi-lokasi yang terisolir itu tadi.

“Karena tempat tinggalnya sudah diganti villa, maka para makhluk halus yang menempati tempat tenget itu tidak punya rumah lagi. Mereka lalu masuk ke kota. Makanya banyak orang berambut merah, suka minum arak, kerjanya ribut,” kata Pak Suyasa.

Lalu, aku lihat sendiri di Uluwatu, Ungasan, Wongaya Betan, di Bedugul, di Canggu, di tepi Sungai Campuhan (kayak lagunya Slank saja. hehe), di dekat Padangbai, dan seterusnya kini dibangun vila-vila tiada hentinya.

Begitu pula di desa Pak Suyasa. Kini warga setempat sedang menunggu dewa bernama pariwisata itu. Yang akan mengubah lahan kering tak berproduksi menjadi hamparan lapangan golf dengan hotel berbintang lima. Aaah, pariwisata. Kini semua orang seperti menghamba padanya..

17 Comments
  • didut
    July 14, 2008

    lagi-lagi uang lagi-lagi uang … semoga bali bisa bertahan dgn budaya aslinya

    ReplyReply

    [Reply]

  • anima
    July 14, 2008

    karena tanpa itu, kita apa?

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    July 14, 2008

    itulah bali sekarang………
    ayo kita bangun bali bersama menuju yang lebih baik…..
    kita semua sama2 menjaga bali biar bali tetap ajeg! bukan begitu ya :mrgreen:
    mohon di koreksi ๐Ÿ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    July 14, 2008

    Serba susah ya Bli. Sebagian orang inginnya Bali ini tetap dengan lahan hijau sawah, atau malah mempertahankan kesucian satu kawasan. Sebagian lainnya, terutama yang punya lahan namun lantaran keinginan tadi, gak bisa berbuat banyak namun terdesak ekonomi, milih nekat mengubah lahan yang mereka punya jadi ruko atau vila. siapa yang salah ne Bli ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • made eka
    July 14, 2008

    itu suami guru SMA saya bli.
    Klo ga salah itu lahan kering yang ga produktif deh. Pernah lewat sana soalnya. Tapi kalau jadi lapangan golf, air buat menyiram rumput jangan ngambil dari PDAM. Soalnya tanpa diambil aja PDAM Karangasem dah sering macet. Harusnya pengelola bisa mengolah air laut.
    Memang dia jadi tokoh sentral di sana. Tapi kalau ga bisa adil dalam mempekerjakan masyarakat pada hotel yang dijanjikan, saya agak ngeri juga membayangkannya..
    salam

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 14, 2008

    @ didut: susah, mas. hari gini tidak ada yg namanya budaya asli. semua campuran. hibrida.

    @ anima: bisa saja ada. asal jangan sampe keterlaluan. tidak mustahil kok kalo mau.

    @ erick: ayo2. cepet pulang biar bisa menjaga brsama. ๐Ÿ˜€

    @ pande baik: sebaiknya sih ada zonasi. jd tidak semua tempat dbangun fasilitas wisata. masaahnya kalo sudah lihat dollar semua orang sptnya tdk bs bersabar. matanya pada ijo. mirip celuluk. ๐Ÿ˜€

    @ made eka: what a surprise… kemarin aku ketemu istrinya jg. kalo tau gitu kan aku kasi tau ya kalo aku temenmu jg.

    bener, ka. itu lahan kering bgt. sangat tdk produktif. ntar deh aku tulis lbh lanjut. setuju jg soal air itu. kasian kalo kemudian air di desa ban ga sampai tp malah dibuang2 utk lapangan golf. sedih.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    July 14, 2008

    Kalau yang diambil adalah benar lahan kering tak produktif dan tidak melanggar zona pura pasti bagus sekali, itung-itung meratakan kue pariwisata……
    Kalau nggak salah saya pernah dengar dulu disana rencananya sudah matang mau dibangun hotel (atau resort mungkin ya) tapi berhubung krisis moneter investornya nggak jadi membangun padahal (denger2 lagi) sudah bayar uang muka kontrak tanah ke desa adat.

    ReplyReply

    [Reply]

  • nono
    July 14, 2008

    baliku oh baliku…
    dimana kesucianmu kini…
    aku akan tetap mencintaimu…
    agar kelak suci bali kembali
    kepangkuanmu….

    salam kenal…

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    July 14, 2008

    Kasihan memang nasib Bali.

    ReplyReply

    [Reply]

  • komang
    July 15, 2008

    kapan jagoannya dilantik mas? kayanya udah bisa nagih janji tuh. katanya bali tetap menjadi Bali (bukan museum lho), nah berharap saja semoga pak mangku bisa ngatur kewenangan, termasuk ngurus aparatnya di pedalaman untuk tidak semena-mena membebaskan lahan

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 15, 2008

    @ artana: itu dilemanya, bli. kalau tidak diratakan, maka yg kaya hanya orang2 di pusat pariwisata spt kuta, nusa dua, dan ubud. tp kalau diratakan, jdnya semua jg ikut dijamah.

    lalu soal tanah. kalau dibiarkan jg percuma karena tidak produktif. kalau nanti dijadiin lapangan golf, takutnya jg mengubah kondisi di sana. atau malah merusak?

    menurut saya sih pemerataan tdk harus dg cara membangun fasilitas yg sama dg di daerah lain. ambil saja potensi yg ada. misal pertanian utk mndukung wisata dll.

    @ nono: walah, seperti halnya daerah lain, dari dl jg bali sudah banyak masalah, mas. bedanya dl berupa perang antar kerajaan, candu, dst. sekarang masalah karena urbanisasi, pariwisata, dst. tinggal bgm kita meminimalkan saja dampak itu.

    @ imcw: selain bali jg banyak yg lbh mengenaskan lg, pak dokter . ๐Ÿ™‚

    @ komang: ayo, mang. kamu dong yg nulis di media tmpmu kerja. kalo aku kan bisanya cuma di blog saja. ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 15, 2008

    kalau udah yg begini, susah utk komen pak, karena memang banyak dilemanya dan kalau dipikir-pikir masalah yg ada sangat kompleks.

    *lha trus komennya apa?
    **kabur

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Wardana
    July 15, 2008

    No Comment….
    Udah muak dengan semua ini…

    *cepat-cepat lari ambil topeng, rompi dan bedil (Zapatista)

    ReplyReply

    [Reply]

  • sapimoto
    July 15, 2008

    Hehehehehe…
    Padahal justru banyaknya wisatawan baik asing maupun lokal, datang ke Bali untuk mencari nuansa asli serta khas dari Bali…
    Seperti Pantai Dreamland, sekarang sudah tidak nyaman lagi untuk dikunjungi karena sudah banyak banget yang datang kesana…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    July 15, 2008

    itulah kenapa beberapa temen identik ketika maen kebali pada berkeluh kesah kalau.
    bali sekarang nggak punya taksu.
    betaranya pada pindah.
    laut seng misi ape.
    gunung seng misi ape.
    setan gen liu.
    pantes bali makin hancur.
    isin basang gen diotakne.

    *yang lagi meratapi bali*

    ReplyReply

    [Reply]

  • D2
    July 18, 2008

    Kita sulit untuk merubah keputusan dari para penguasa yang memberi ijin tersebut, mudah-mudahan orang no. 1 Bali yang baru lebih perhatian akan hal ini, tapi sebelumnya kita pindahkan Bali ke dunia blog aja dulu untuk mengungkapkan keprihatinan kita akan hal tersebut

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 21, 2008

    @ wira: bener, bli. dilematis memang. tp menurutku sih silakan saja mmbangun tp jangan sampe ngrusak lingkunga dst. itu yg penting..

    @ agung wardana: siap, gung. aku bantu membuat pubikasi kalo kamu jd masuk hutan utk brperang. ๐Ÿ˜€

    @ sapimoto: biasanya memang gitu, mas. kalao sudah ada fasilitas pariwisata internasional, kita tidak boleh masuk kawasan itu. kan jd aneh..

    @ yanur: jangan hanya meratap. mari ngeblog. ๐Ÿ˜€

    @ D2: yoih. mari kita ngbelog saja. ๐Ÿ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *