Sejak kecil, bayanganku tentang Surabaya tuh cenderung sesuatu yang negatif. Mungkin karena beberapa cerita dari kakak dan tetanggaku. Mereka bercerita bagaimana ditodong pisau ketika di tengah angkutan kota. Malah, kakakku sendiri mengalami bagaimana harus melompat dari taksi karena dia ditodong orang. Ada pula teman bercerita kalau dia pernah diacungi celurit saat naik kendaraan umum.
Maka, Surabaya jadi kota yang sarat kekerasan di mataku. Itu pula alasan aku tak terlalu ingin menikmati kota ini lebih detail. Padahal jarak antara Surabaya dan Lamongan, tempatku lahir dan besar, juga tak terlalu jauh. Tiap kali lewat, aku benar-benar hanya lewat. Hampir tak pernah berniat singgah untuk tahu lebih banyak.
Continue reading “Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat”