In Denpasar, farmers struggle against mounting odds

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali

In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.

Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.

Continue reading “In Denpasar, farmers struggle against mounting odds”

Banyak Cara Membantu Palestina

Sudah lebih dari seminggu pasukan Israel menyerbu jalur Gaza di Palestina. Lebih dari 400 orang jadi korban konflik yak seimbang ini. Tak sedikit pula anak-anak yang mati, padahal mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini cerita usang yang terus berulang. Perang. Gencatan senjata. Perang lagi. Korban lagi. Terus begitu saja. Mungkin inilah konflik terlama yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.

Indonesia kecipratan. Menggunakan sentimen agama, ribuan orang berunjuk rasa menentang penyerbuan tentara Israel ke Palestina. Partai Keadilan Sejahtera berdemo besar-besaran ke kantor Kedutaan Amerika Serikat dengan membawa bendera partainya. Bukannya bendera Palestina yang dibawa tapi bendera PKS yang diusung tinggi-tinggi. Solidaritas Palestina ternyata bisa juga jadi waktu untuk berkampanye.

Continue reading “Banyak Cara Membantu Palestina”

Bertani di Zaman Teknologi Informasi

Sekitar sepuluh tahun lalu, telepon seluler (ponsel) masih jadi barang langka. Dia menjadi sesuatu yang identik sekali dengan kemewahan. Saat itu, melihat orang bawa ponsel seperti melihat orang dengan status sosial ekonomi yang sangat tinggi. Padahal sebenarnya juga belum tentu begitu.

Kini ponsel sudah serasa kacang. Nyaris tiada orang yang tak bisa membelinya. Pemulung, pedagang asongan, penjual bunga di pasar. Semuanya sudah bawa ponsel. Kadang memang berguna untuk pekerjaan. Namun tak sedikit pula yang membawanya hanya untuk sekadar bergaya.

Continue reading “Bertani di Zaman Teknologi Informasi”

Merayakan Setelah Kematian Datang

Sudah tengah malam. Namun suara orang menyanyi diiringi gitar masih terdengar di gangku. Tumben saja sih. Sudah lama aku tidak mendengar suara orang gaduh di tengah malam. Tapi sudah beberapa malam ini suara-suara orang bernyanyi itu terdengar sampai larut malam.

Suara nyanyian itu datang dari orang-orang yang lagi duduk-duduk di depan gang kecil ke rumah Gede, salah satu tetanggaku. Kemarin kakek Gede yang sudah uzur banget meninggal. Tidak ada tangisan. Mungkin juga karena umur si kakek yang sudah tua dan sakit cukup lama.

Continue reading “Merayakan Setelah Kematian Datang”

the beat | interview | Bali Blogger Community

Ini wawancara dengan Dedi Kristian dari majalah the beat seminggu lalu. Semoga tidak soal karena dimuat di blog ini. Gapapa kan, Ded. Hehe..

So, Bali Blogger Community, sejak kapan terlahir?
? BBC lahir sejak 11 November 2007.

Berapa jumlah anggota yang terdaftar, dari kalangan mana saja?
? sampai hari ini 239 orang di mailing list (milis) -tapi ketika masukin di blog ini ternyata udah 240. Hampir tiap minggu ada penambahan anggota di milis. Selain itu ada beberapa anggota lain yang tidak ikut milis BBC tapi memasang banner sebagai anggota BBC. Jadi ya, sekitar 250 orang lah.

Continue reading “the beat | interview | Bali Blogger Community”

Mengenal Program, Bukan Tampang

Pemilu masih lima bulan lagi. Namun gegap gempitanya sudah terasa sejak dua atau tiga bulan lalu. Atribut kampanye seperti bendera dan baliho memenuhi berbagai tempat di Denpasar. Nyaris tidak ada tempat yang bersih dari atribut yang sangat tidak sedap dipandang mata ini.

Begitu banyak calon anggota DPR (caleg) yang menjual muka di baliho-baliho itu. Namun sangat sedikit yang aku kenal. Padahal perasaan aku juga lumayan rajin baca koran, nonton TV, atau selancar di internet deh. Tapi kok aku tidak kenal hampir seluruh caleg itu ya? Lalu bagaimana mereka yang jarang mengonsumsi media?

Continue reading “Mengenal Program, Bukan Tampang”

Mempertanyakan Nasib Para Tuyul

Ada istilah baru yang kutahu saat Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur minggu lalu, “jurnalisme tuyul”. Dalam rekomendasinya, AJI meminta agar perusahaan media massa juga tidak meneruskan praktik jurnalisme tuyul ini. Poin ini masuk salah satu bagian selain perlunya semua pihak menjaga kebebasan pers, menolak kriminalisasi pers, dan pentingnya profesionalisme.

Jurnalisme tuyul sebenarnya istilah yang sarkastis, sangat kasar. Istilah ini mengacu pada praktik mempekerjakan orang lain tanpa status yang jelas. Praktik ini biasa terjadi di kalangan wartawan TV. Koresponden atau kontributor tetap di salah satu stasiun TV mengajak orang lain untuk membantunya dalam liputan. Resminya orang yang diajak tersebut disebut stringer.

Continue reading “Mempertanyakan Nasib Para Tuyul”

Mimpi Sinergi Jurnalis Blogger di Bali

Senang juga mengikuti seminar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hari ini. Sebab seminar dalam rangkaian Kongres AJI 2008 ini memasukkan isu new media dalam diskusinya. Blog adalah satu di antara sekian yang masuk dalam kategori new media tersebut. Ada sesi khusus “Teknologi Informasi sebagai Alat Demokratisasi” yang menghadirkan Enda Nasution sebagai blogger.

Tentu saja aku senang. Ini berarti blog pun makin dilihat sebagai sebuah bagian dari new media dari yang semula hanya dianggap sebagai sebuah trend sesaat. Sebab, faktanya, blog memang lahir dan makin berkembang sebagai sebuah kekuatan baru.

Continue reading “Mimpi Sinergi Jurnalis Blogger di Bali”

Ketik Reg Spasi Idiot!

Makin hari memang makin aneh-aneh saja iklan di TV.

Kali ini soal banyaknya iklan tentang SMS yang bagiku sama sekali tidak masuk akal. Anehnya, hal-hal tak logis ini membordardir penonton TV tiap hari.

Iklan SMS itu beraneka rupa. Tapi pada dasarnya membujuk kita untuk berlangganan layanan tertentu dengan mengirim REG spasi bentuk layanan ke nomor tertentu. Secara sekilas, aku lihat layanan yang ditawarkan itu mulai dari ramalan nasib, jodoh, musik, tato, game, sampai agama. Semua campur aduk ada di sana.

Continue reading “Ketik Reg Spasi Idiot!”

Mereka Pembunuh, Bukan Mujahid!

Tulisan ini aku buat ketika baru usai chatting sama Erwin, teman yang bekerja sebagai kameraman untuk salah satu TV Australia. Erwin sedang meliput di Tenggulun, Lamongan terkait rencana eksekusi Amrozi CS.

Desa berjarak sekitar 15 km dari rumahku di Lamongan itu tempat lahir tiga bersaudara terpidana kasus bom Bali 2002: Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Amrozi dan Ali Ghufron bersama terpidana lain, Imam Samudra, dipidana mati. Ketiganya akan segera dieksekusi. Maka, para wartawan pun berburu berita ke desa nan gersang itu. Erwin satu di antaranya.

Continue reading “Mereka Pembunuh, Bukan Mujahid!”