Golput yang Bikin Ribut

Noldy, teman di kalangan aktivis penanggulangan AIDS di Bali, pun hari bilang padaku. “Aku golput saja, Pak. Semua caleg sama saja. Tebar janji ketika kampanye. Kalau sudah kepilih paling juga lupa sama kita dan janji-janjinya,” kurang lebih begitu katanya.

Hal serupa selalu saja dibilang oleh teman-temanku, terutama di kalangan aktivis LSM, ketika ngobrol soal Pemilu tahun ini. Semuanya bilang mending golput alias tidak memilih pada Pemilu 2009 ini. Ada beberapa alasan mereka. Antara lain adalah karena tidak jelasnya caleg yang akan dipilih. Namun ada pula yang Golput karena sudah tidak percaya pada sistem di negara ini.

Continue reading “Golput yang Bikin Ribut”

Beratnya Menguliti Teman Sendiri

Untunglah ada sesi hari ini, Minggu (15/2), tentang etika jurnalistik dan aspek hukum dalam pemberitaan. Dua sesi ini amat menarik. Jadi bisa menutupi kekecewaan atas sesi sehari sebelumnya yang tidak terlalu “tepat sasaran”. Dua sesi hari ini sekaligus mengakhiri tiga hari pelatihan liputan investigasi tentang independensi dan profesionalisme media di Hotel Santika Jakarta yang aku ikuti.

Sesi kode etik jadi menarik karena disampaikan Nezar Patria dengan agak beda. Tidak melulu kode etik jurnalistik, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini juga memberikan perspektif agak filosofis tentang etika jurnalistik. Maklum, Nezar yang pernah jadi korban penculikan semasa jadi aktivis ini juga alumni Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM). Jadi ya sesi ini sekaligus waktunya dia untuk berbagi ilmu. Hehe..

Continue reading “Beratnya Menguliti Teman Sendiri”

Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi

Wajah para calon anggota legislatif (caleg) itu terasa sangat memuakkan bagiku. Selama ini wajah mereka di baliho dan spanduk yang kutemui sudah cukup memuakkan. Sebab mereka malah membuat kotor wajah kota.

Tapi ini jauh lebih parah. Wajah para caleg yang kutemui sepanjang jalan antara Polewali dan Mamasa, Sulawesi Barat itu sampai membuatku harus menahan marah. Geram.

Continue reading “Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi”

Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Continue reading “Penyeragaman Budaya Lewat Makanan”

Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini

Sekitar pukul 11.30 tengah malam. Sepanjang jalan hanya gelap. Suara serangga malam menemami perjalanan panjang kami. Tinggal sekitar satu jam lagi kami akan sampai Mamasa, kota tujuan kami setelah perjalanan panjang sejak pukul 11 dari Makassar tadi.

Tapi, truk itu menghalangi perjalanan kami. Padahal Mamasa tinggal sekitar satu jam lagi. Apa boleh buat. Kami tidak bisa lewat. Truk yang mengangkut bahan bangunan itu terperosok di sana. Ban kiri belakangnya masuk lumpur. Truk itu sampai miring.

Continue reading “Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini”

Memahami Diaspora di Tanah Palestina

hebron-cover

Lama tidak menulis resensi buku. Tidak tahu juga kenapa aku bisa males banget menulis resensi atau sekadar review pendek tentang buku yang baru selesai aku baca. Kali ini soal buku yang terakhir aku baca saja deh. Mumpung masalahnya masih hangat, bahkan sedang panas-panasnya.

Buku berjudul Hebron Journal ini langsung aku samber ketika aku belanja buku di Gramedia Gatot Subroto Denpasar seminggu lalu. Tidak tahu juga sih kenapa bisa refleks gitu aku langsung mengambilnya padahal sudah beli tiga buku lain. Mungkin karena judul buku ini yang pas banget dengan situasi terkini di Palestina.

Continue reading “Memahami Diaspora di Tanah Palestina”

Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!

Ada yang mengusikku ketika ikut diskusi terbatas sama mantan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika Selasa kemarin. Diskusi terbatas di Sanur itu membahas tentang bagaimana peran industri pariwisata dalam penanggulangan AIDS di Bali. Beberapa petinggi pelaku pariwisata di Bali hadir dalam diskusi sejak pukul 5 sore itu.

Hal yang mengusikku adalah ketika Ardika mengatakan sebaiknya media tidak usah membuat eufemisme, penghalusan, tentang pelacur dengan menyebut mereka sebagai pekerja seks komersial (PSK). “Sebut saja mereka sebagai pelacur. Dengan begitu kita tidak membenarkan mereka karena sudah berbuat salah,” kurang lebih begitu mantan menteri ini menyebut.

Continue reading “Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!”

Ketika Denpasar Serasa Amsterdam

Senin pagi ini aku pikir sudah tidak ada masalah akibat hujan yang mengguyur Denpasar empat hari terakhir. Sebab, di Jalan Subak Dalem, di mana aku tinggal sudah tidak ada lagi banjir. Air sungai kecil di dekat rumah memang masih tinggi dan deras arusnya, padahal biasanya kecil dan relatif tenang, namun tidak sampai masuk ke gang.

Maka, pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan santai saja. Maksudnya tidak berpikir bahwa harus mempersiapkan mental untuk menghadapi banjir. Eh, ternyata salah. Banjir masih terjadi di beberapa titik di Denpasar.

Continue reading “Ketika Denpasar Serasa Amsterdam”

Tetap Bekerja dengan Merdeka

Seperti biasa, Kamis sampai Minggu adalah waktu untuk bekerja dari rumah. Kalau bukan karena ada liputan keluar kota, empat hari ini aku lebih banyak bekerja dari rumah. Menulis sambil momong Bani.

Ini sesuatu yang menyenangkan. Dan terus menerus aku syukuri. Di antara padat pekerjaan, aku bisa menemani Bani. Main, belajar, bobo, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama Bani di rumah atau sesekali keluar rumah. Tapi kadang juga sekaligus jadi bapak, tidak hanya sebagai teman. Mandiin, nyuapin, cebokin, dan seterusnya.

Continue reading “Tetap Bekerja dengan Merdeka”